ETNHOMATHEMATICS
Kuliah bersama:
Prof. Marsigit, MA
(09/09/2015)
Ethnomatematika
diperkenalkan sebagai sebuah pendekatan dalam memahami dan membelajarkan
matematika pada siswa. Konsep ethnomatematika muncul untuk melengkapi berbagai
pendekatan yang ada, seperti matematika realistic, konstruktivis, dan lain
sebagainya. Konsep “ethno” sendiri dapat dipahami sebagai sesuatu yang berada
di akar rumput bukan sesuatu yang berada pada tataran ide. Selama ini memang
cenderung pendidikan matematika dimaknai sebagai sebuah mata pelajaran yang
bersifat abstrak, sehingga munculah berbagai
kendala dan kesan-kesan negatif terhadap matematika pada diri seseorang
atau siswa.
Secara lebih
jelas bahwa konsep “ethno” dapat diapahami sebagai sesuatu yang dekat dan berada di sekitar siswa.
Dalam makna yang lebih luas dapat juga dipahami sebagai sebuah bentuk budaya
yang berkembang di sekitar siswa. Sehingga hal tersebut dekat dan akrab dengan
keseharian siswa. Hal itulah yang dianggap sebagi point dalam membelajarkan
matematika dengan menggunakan apa yang berada di sekitar dan akrab dengan siswa. Sementara
itu bentuk formal matematika merupakan konsep atau ide yang bersifat abstrak,
memerlukan usaha tekun agar dapat dipahami dan dimengerti oleh siswa yang
sedang mempelajarinya. Antara konsep “ethno” dan “matematika” diharapkan mampu
menjembatni siswa untuk memahami materi matematika itu sendiri.
Ada dua istilah
yang dapat dipadankan dengan kedua konsep tersebut, yaitu konsep stalagtif dan stalagmit.
Stalagtif adalah sesuatu yang berada di atas, sementara stalagmit adalah
sesuatu yang berada di bawah. Tentunya sangat sulit untuk memadukan atau menciptakan
diantara keduanya, terlebih ketika hal tersebut tidak dibiasakan. Pembelajaran matematika
selama ini cenderung berada di bagian stalagtif.
Bahkan para pemikir matematika cenderung berloma-lomba menjadi stalagmit pada
stalagtif. Sehingga kurang memperhatikan apa yang barada di akar rumput atau
kondisi empirik siswa. Untuk itu, kendala ataupun kesan negatif pada matematika masih saja terdengar
sampai saat ini meskipun berbagai pendekatan telah dilakukan, fatalnya
pendidikan matematika hanya cenderung mendukung perkembangan kognitif siswa
saja, tanpa memahmai kondisi sekitar dan kecocokan konsep matematika yang
dipelajari dengan kondisi sekitarnya.
Konsep “ethno” menjadi penting karena disitulah siswa kita berdomisili. Matematika
sebagai pendatang baru haruslah mau menjadi bagian dan membaur dengan hal
tersebut. Untuk itu konsep “ethnomatematika” menjadi penting, karena berusa memadukan dan mendekatkan
matematika dengan apa yang beada di sekitar siswa, meskipun secara sepintas
terkesan sama dengan contekstual
learning. Untuk memahami
perbedaannya maka dapat dipandang dalam dua cara, yaitu secara semantik (substansi)
dan sintaks (urutan). Secara substansi contextual
learning belum tentu merupakan “ethnomathematics”, akan tetapi secara sintaks “ethnomatematika” dapat juga diapahami sebagai contextual learning. Artinya contextual
learning merupakan
pendekatan dengan urutan kegiatan yang sudah baku, yang belum tentu mencakup
substansi yang berda pada akar rumput. Akan tetapi “ethnomatematika” bisa dipahami sebagai pendekan kontekstual dalam
menggali dan memadukan substansi yang berada pada akar rumput siswa.
Untuk itu, dalam
melakukan kajian “ethnomatematika”, diperlukan pemahaman tentang teori kognitif,
konstruktivis, dan realistik. Agar seluruh hal yang terkait dengan keseharian siswa serta relevan
dengan konsep mathematika dapat dijadikan sebagai media dalam mempelajari
matematika itu sendiri, serta menggali nilai-nilai yang terkandung dalam produk
dan sistem budaya yang berada di sekitar siswa, dengan harapan apa yang
dipelajri oleh siswa menjadi lebih mudah untuk dipahami karena akrab dengan
kesehariannya,
serta cara mempelajarinya juga menjadi lebih dapat di terima karena sesuai
dengan sistem yang berlaku di masyarakat sekitar dan sudah menjadi jati diri siswa itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar