Senin, 14 September 2015

ETHNOMATHEMATICS



ETNHOMATHEMATICS
Kuliah bersama: Prof. Marsigit, MA (09/09/2015)

Ethnomatematika diperkenalkan sebagai sebuah pendekatan dalam memahami dan membelajarkan matematika pada siswa. Konsep ethnomatematika muncul untuk melengkapi berbagai pendekatan yang ada, seperti matematika realistic, konstruktivis, dan lain sebagainya. Konsep “ethno” sendiri dapat dipahami sebagai sesuatu yang berada di akar rumput bukan sesuatu yang berada pada tataran ide. Selama ini memang cenderung pendidikan matematika dimaknai sebagai sebuah mata pelajaran yang bersifat abstrak, sehingga munculah berbagai  kendala dan kesan-kesan negatif terhadap matematika pada diri seseorang atau siswa.
Secara lebih jelas bahwa konsep ethno dapat diapahami sebagai sesuatu yang dekat dan berada di sekitar siswa. Dalam makna yang lebih luas dapat juga dipahami sebagai sebuah bentuk budaya yang berkembang di sekitar siswa. Sehingga hal tersebut dekat dan akrab dengan keseharian siswa. Hal itulah yang dianggap sebagi point dalam membelajarkan matematika dengan menggunakan apa yang berada di sekitar dan akrab dengan siswa. Sementara itu bentuk formal matematika merupakan konsep atau ide yang bersifat abstrak, memerlukan usaha tekun agar dapat dipahami dan dimengerti oleh siswa yang sedang mempelajarinya. Antara konsep “ethno” dan “matematika” diharapkan mampu menjembatni siswa untuk memahami materi matematika itu sendiri.
Ada dua istilah yang dapat dipadankan dengan kedua konsep tersebut, yaitu konsep stalagtif dan stalagmit. Stalagtif adalah sesuatu yang berada di atas, sementara stalagmit adalah sesuatu yang berada di bawah. Tentunya sangat sulit untuk memadukan atau menciptakan diantara keduanya, terlebih ketika hal tersebut tidak dibiasakan. Pembelajaran matematika selama ini cenderung berada di bagian stalagtif. Bahkan para pemikir matematika cenderung berloma-lomba menjadi stalagmit pada stalagtif. Sehingga kurang memperhatikan apa yang barada di akar rumput atau kondisi empirik siswa. Untuk itu, kendala ataupun kesan negatif pada matematika masih saja terdengar sampai saat ini meskipun berbagai pendekatan telah dilakukan, fatalnya pendidikan matematika hanya cenderung mendukung perkembangan kognitif siswa saja, tanpa memahmai kondisi sekitar dan kecocokan konsep matematika yang dipelajari dengan kondisi sekitarnya.
Konsep ethno menjadi penting karena disitulah siswa kita berdomisili. Matematika sebagai pendatang baru haruslah mau menjadi bagian dan membaur dengan hal tersebut. Untuk itu konsep ethnomatematika menjadi penting, karena berusa memadukan dan mendekatkan matematika dengan apa yang beada di sekitar siswa, meskipun secara sepintas terkesan sama dengan contekstual learning. Untuk memahami perbedaannya maka dapat dipandang dalam dua cara, yaitu secara semantik (substansi) dan sintaks (urutan). Secara substansi contextual learning belum tentu merupakan ethnomathematics, akan tetapi secara sintaks ethnomatematika” dapat juga diapahami sebagai contextual learning. Artinya contextual learning merupakan pendekatan dengan urutan kegiatan yang sudah baku, yang belum tentu mencakup substansi yang berda pada akar rumput. Akan tetapi ethnomatematika” bisa dipahami sebagai pendekan kontekstual dalam menggali dan memadukan substansi yang berada pada akar rumput siswa.
Untuk itu, dalam melakukan kajian ethnomatematika”, diperlukan pemahaman tentang teori kognitif, konstruktivis, dan realistik. Agar seluruh hal yang terkait dengan keseharian siswa serta relevan dengan konsep mathematika dapat dijadikan sebagai media dalam mempelajari matematika itu sendiri, serta menggali nilai-nilai yang terkandung dalam produk dan sistem budaya yang berada di sekitar siswa, dengan harapan apa yang dipelajri oleh siswa menjadi lebih mudah untuk dipahami karena akrab dengan kesehariannya, serta cara mempelajarinya juga menjadi lebih dapat di terima karena sesuai dengan sistem yang berlaku di masyarakat sekitar dan sudah menjadi jati diri siswa itu sendiri.

Tidak ada komentar: