ELEGI MEMECAH BATU
Batu : Siapakah engkau wahai si pembawa martil
Pembawa martil : Akulah orang yang bermaksud memukulmu
sampai hancur, dan jika bias sampai engkau tidak seperti batu lagi.
Batu: Hahahaha…sungguh nekat kamu wahai sang pembawa martil,
ketahuilah akulah batu yang paling keras diantara batu yang lainnya.
Pembawa martil: Jangan banyak bicara wahai batu, pokoknya
apapun yang terjadi aku akan menghancurkanmu.
Batu: Coba saja, tapi kamu tidak akan bias menghancurkanku,
jika kamu hanya membawa martil saja. Maka akan hancur martilmu dulu ketimbang
saya.
Pembawa Martil: Jangan salah, aku tidak hanya membawa
martil, tunggu , sebentar lagi akan dating temanku yang membawa Air Keras. Jika
disaram ke kamu, maka akan melapuklah dirimu.
Batu: Hhahahha… Mana, suruh temanmu cepatan…saya ingin
mengetahui kekuatan apa yang dimiliki oleh air keras itu
Pembawa Air keras: Ada apa ini..keliatannya kalian sedang
berdebat?
Pembawa martil: ya. Si batu itu telah berkata angkuh
kepadaku, mengatakan dirinya tidak bias dihancurkan hanya dengan martil yang
saya bawa ini, makanya aku katakana bahwa aka nada temanku dating membawa air
keras yang akan membuatnya lapuk dan mudah untuk saya hancurkan.
Pembawa Air keras: Oooo begitu, Sungguh sombong kau wahai si
batu, rasakan, sebentar lagi akun ku siram kamu dengan air keras, maka akan
terkelupaslah seluruh kulitmu.
Batu: Hahahahah..ternyata hanya kulit luarku saja yang bias di
buat lapuk. Kalau itu sih, saya terbiasa kepanasan tiap hari di tengah gurun
ini…
Pembawa Air keras: wahai si batu, air keras ini lebih panas
dari sinar matahari yang engkau rasakan setiap hari. Air keras ini akan membuat
dirimu retak dan rapuh, sehingga mudah untuk dihancurkan oleh temanku dengan
martilnya.
Batu: Coba aja kalau bisa…
Dalam perdebatannya, lewatlah seorang Orang tua dan
menghampiri kedua orang tersebut.
Orang Tua: Wahai si pembawa martil dan pembawa air, apa
gerangan yang sedang kalian rencanakan di dekat batu besar ini, kelihatannya
teduh sekali bernaung di dekat batu besar ini.
Pembawa martil: wahai orang tua, kami berdua bermaksud
menghancurkan batu besar ini, agar dia bisa lebih bermanfaat untuk dibuat
menjadi pondasi rumah yang akan kami bangun atau orang lain bangun.
Pembawa Air Keras: Tapi batu itu telah berlaku sombong pada
kami berdua dan mengatakan dirinya tidak bisa dihancurkan oleh alat yang kami
bawa ini.
Orang Tua: begitu masalahnya….ooo… baguslah…(dengan nada
sinis)
Pembawa Martil: kenapa kamu terlihat meragukan kami juga
wahai orang tua?
Orang Tua: Tidak demikian, rencana kalian bagus dan mudahan
tercapai..
Pembawa Air Keras: Memangnya kenapa, kayaknya orang tua
meragukan akan keberhasilan kami juga ya, asal orang tua tau saja, bahwa air
keras ini bisa membuat lebur apa saja, termasuk engkau juga wahai orang tua,
jika ku teteskan air ini di kulitmu, maka kulitmu akan terbakar.
Orang Tua: He..he..he..
Pembawa martil: ternyata engkau semakin mengejek kami wahai
orang tua, pergilah, jangan sampai kami betul-betul marah nanti…
Batu: Ha..ha..ha…kalau masih berdebat seperti ini dan terlalu
cepat emosi, saya tambah yakin kalau saya masih kuat dan tidak bisa kalian
hancurkan (tiba-tiba batu menyela pembicaraan ketiga orang dihadapannya)
Pembawa martil:Diamkau wahai batu..
Orang Tua: Jangan terlalu cepat emosi, batu itu benar, sebab
bukan kalian yang pertama kali mencoba menghancurkan batu ini, tapi sudah
banyak orang sebelum kalian dan tidak berhasil.
Mendengar perkataan si Orang Tua, kedua orang tersebut mulai
kelihatan heran dan kenapa orang tua itu mengatakan demikian.
Pembawa Air Keras: Betulkah itu wahai orang tua. Kenap belum
ada yang berhasil memecahkan batu ini.
Orang Tua: Asalkan kalian berdua tau, penyebab kegagalan
orang-orang sebelum kalian sama dengan penyebab yang akan membuat kalian gagal
juga nanti.
Pembawa martil: Kenapa engkau yakin sekali kalau kami akan
gagal wahai orang tua, padahal kami belum melakukannya dan engkau juga belum
melihat hasilnya.
Orang Tua: Kalian pasti akan gagal, karena kalian membawa
alat yang sangat ampuh menurut kalian saja dan alat kalian juga masih alat yang
mengandalkan tenaga, sebelum batu ini kalian buat hancur, kalian akan kehabisan
tenaga terlebih dahulu, begitu juga dengan air keras yang kalian bawa, karena
sangat emosinya kalian nanti untuk dapat menghancurkan batu ini, bisa jadi air
keras ini akan terpercik ke kulit kalian sendiri dan akan membuat kalian tidak
akan bisa melanjutkan pekerjaan kalian lagi.
Pembawa martil: Ooooo begitu… lalu sebaiknya kami
menggunakan apa menghancurkan batu ini…?
Pembawa Air keras: ya wahai orang tua, kami ingin
mengetahuinya, karena kami juga tidak mau terluka sendiri dengan air keras ini….
Batu: Wahai orang tua, aku tau, kalau engkau tahu bagaimana
caranya menghancurkan saya, tapi say mohon, janganlah engkau kasi tau kedua
orang ini, karena saya g mau hancur.
Orang Tua: Maaf wahai batu, kalau aku tidak member tahu
orang-orang sebelum mereka, bagaimana menghancurkanmu, bukan berarti aku tidak
mau melihat mereka berhasil, akan tetapi mereka tidak pernah mau bertanya dan
selalu angkuh dan membanggakan peralatan yang mereka bawa sendiri. Tapi karena
kedua orang ini bertanya padaku, dan ternyata mereka memiliki tujuan yang
bagus, maka aku akan member tahu mereka bagaimana memecahkan mu, karena engkau
juga akan lebih bermanfaat jika dugunakan untuk membuat fondasi rumah,
ketimbang hanya diam di tengah gurun ini, karena disiang hari, orang lebih
memilih bernaung di bawah pohon dan rumah yang ada diujung sana ketimbang di
dekatmu…
Batu: tapi jika aku nanti hancur, maka akan hilanglah
keperkasaanku dan kekuatanku..
Orang tua: saya tidak menyalahkanmu karena kamu adalah batu,
tapi keangkuhan dan kekuatanmu akan lebih bermakna jika itu bisa digunakan oleh
orang untu membuat bangunan yang bermanfaat untu orang banyak. Dan orang juga
tidak akan pernah melupakan kamu, orang-orang akan selalu bercerita, bahwa
mereka punya bangunan yang kokoh dan megah, karena menggunakan batu yang bagus
sebagai pondasinya.
Batu: JIka demikian, maka aku rela untuk dihancurkan…
Pembawa martil: terimakasih orang tua, kamu telah membuat
batu itu tidak sombong lagi dan bersedia untuk dihancurkan, akan tetapi, kami
masih penasaran, alat apa yang harus kami gunakan biar dapat menghancurkan batu
itu…
Orang Tua: Kalau kalian mau menghancurkan batu itu,
gunakanlah alat yang tidak akan membahayakan diri kalian sendiri dan yang
sangat menguras tenaga, karena batu itu sangat besar, tapi gunakanlah alat yang
membuat kalian mudah untuk memecahkannya tanpa membahayakan diri sendiri dan
menguras tenaga.
Pembawa Air keras: Alat seperti apakah itu wahai orang tua,
kami sudah tidak sabar ingin mengetahuinya, biar kami cepat menghancurkan batu
itu…
Orang Tua: mendengar perkataanmu si pembawa air keras.
Itulah penyebab paling besar pengaruhnya sama orang-orang sebelum kamu tidak
berhasil, mereka semua tidak sabar dan menginkan segera tercapai tujuannya.
Pembawa martil: Maafkan teman saya wahai orang tua,
sekiranya boleh kami tau, apakah alat yang engkau maksud.
Orang Tua: Carilah disekelilingmu, diluar sana banyak sekali
tersedia alat yang lebih canggih meskipun sederhana, carilah sehingga kalian
bisa lebih mudah dan tidak perlu membahyakan diri dan menguras tenaga untuk
memecahkan batu itu..(kemudian orang tua itu pamit dan meninggalkan kedua orang
tersebut.
Setelah itu, kedua orang tersebut berdikusi dan mengiyakan
pendapat orang tua tadi, akhirnya kedua orang tersebut sepakat mengurungkan
niatnya untuk memecahkan batu itu, tapi akan segera balik setelah menemukan
alat yang dimaksud oleh orang tua tadi. Trims
Tidak ada komentar:
Posting Komentar