Senin, 01 Desember 2008
Means of Global: The anxiety of Mathematics Teachers and Their Problems
Executes study process, means we also observes condition is being runs, either from the angle of condition of class, supporting facilities for learning, student response, student ability, and introspection of ability teachs which we to have, so that duty teachs can be told has a real multidimension to be able observed.
To increase quality of study, teacher is expected can see condition is being taking place, to be able to be anticipated causing teaching learning process which will be laxative agent it can run with kondusif and reachs result which have been determined. However, in reality, most teacher pays less attention to the thing and sees success of study only from evaluation result done by it.
Our question, what can be to evaluation in self ability student on the mathematics learning, and, how practical step for a teacher, that every taking place teaching learning process can be made as component of consideration in doing repair continually.
Thank you very much
Minggu, 30 November 2008
Quis
NIM : 07712251012 Mata Kuliah:Pembelajaran Matematika SD
Semester : III (Tiga) Dosen: Dr. Marsigit
1. Jelaskan hakekat matematika sekolah
Kebanyakan ahli sepakat bahwa suatu pengetahuan disebut ilmu apabila lahir dan suatu kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah bertumpu pada metode ilmiah, yang langkah-langkah utamanya membuat hipotesis, mengumpulkan data, melakukan percobaan (untuk menguji hipotesis), dan membuat kesimpulan. Apabila kita berketetapan suatu ilmu hams lahir dan metode ilmiah, maka matematika bukanlah ilmu.
Matematika merupakan buah pikir manusia yang kebenarannya bersifat umum (deduktif). Kebenarannya tidak bergantung pada metode ilmiah yang mengandung proses induktif. Kebenaran matematika pada dasarnya bersifat koheren. Seperti yang dikenal dalam dunia ilmu, terdapat tiga macam jenis kebenaran: (1) kebenaran koherensi atau konsistensi yaitu kebenaran yang didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang telah diterima sebelumnya, (2) kebenaran korelasional, yaitu kebenaran yang didasarkan pada “kecocokan” dengan realitas atau kenyataan yang ada, serta (3) kebenaran pragmatis, yaitu kebenaran yang didasarkan atas manfaat atau kegunaannya.
Matematika sebagai ilmu dasar dewasa ini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya. Oleh karena, matematika dijadikan salah satu mata pelajaran poko di setiap jenjang penddikan yaitu dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan atas (SLTA), untuk itu dalam pembelajarannya di sekolah sangatlah perlu diperhatikan perkembangannya baik di masa lalu, sekarang maupun kemungkinan untuk masa depan. “Matematika yang diajarkan di pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (SLTA) biasa disebut dengan matematika sekolah”. (Soedjadi, 2000:37)
2. Jelaskan hakekat siswa belajar matematika
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah memiliki karakteristik tertentu. menurut Soedjadi (2000:13) bebrapa karakteristik matematika adalah : (a) memiliki objek kajian abstrak, (b) bertumpu pada kesepakatan, (c) berpola piker deduktif, (d) memiliki symbol yang kosong dari arti, (e) memperhatikan semesta pembicaraan, dan (f) konsisten dalam sistemnya. Adapun fungsi mata pelajaran matematika adalah sebagai alat, pola piker, dan ilmu atau pengetahhuan (Suherman, 2003:76).
Dari beberapa pengertian matematika di atas, maka hakekat siswa belajar matematika merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun penalaran suatu hubungan di antara pengertian-pengertian itu. Oleh karena itu para siswa perlu dibiasakan untuk memperoleh pamhaman melalui pengalaman abstraksi tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek. Berdsarkan pengamatan tersebut diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep. Siswa juga dilatih untuk membuat perkiraan, terkaan atau kecendrungan berdasarkan pengalaman atau pengetahuannya.
3. Sebutkan beberapa standar kompetensi matematika SD
Ada beberapa standar Kompetensi pembelajaran matematika di SD, antara lain :
a. Memahami konsep bilangan bulat dan pecahan, operasi hitung dan sifat-sifatnya, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari
b. Memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur-unsur dan sifatnya, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehhidupan sehari-hari.
c. Memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu, kecepatan, debit, serta mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
d. Memahami konsep koordinat untuk menentukan letak benda dan menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
e. Memahami konsep pengumpulan data, penyajian data dengan tabel, gambar dan grafik (diagram0, mengurutkan data, rentang data, rerata hitung, modus, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
f. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
g. Memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif
4. Apa herarki kemampuan afektiv menurut krathwall
Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu : receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.
Pertama, pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerja sama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
Kedua, responding merupakan partisipasi aktif peserta didi, yaitu sebagai bagian dari prilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respon, berkeinginan memberi respon, atau kepuasan dalam memberi respon. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
Ketiga, tingkat valuating melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima satu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan prilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran , penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
Keempat, tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselsaikan, dan mulai membangun system nilai internal yang konsisten. Hasil belajar pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi system nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup
Kelima, tingkat characterization yang merupakan ranah afektif tertinggi. Pada tingkat ini peserta didik memiliki system nilai yang mengendalikan prilaku sampai pada waktu tertentu hingga membentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan social.
5. lengkapilah table dibawah ini
Hakekat Tradisional Progresif
Matematika Hasil berpikir Proses berpikir
Metode mengajar Konvensional Realistik, konstruktivisme
Belajar Pencapaian target kurikulum Pemahaman dan aplikasi
Penilaian Penetapan Nilai Assesmen dan Perbaikan
6. Bagaimanakan menggunakan alat peraga untuk menjelaskan.
Untuk menjelaskan operasi bilangan pecahan, dapat digunakan berbagai alat perga, diantaranya, kertas lipat, sehingga, jika :
a. 1/3 + 2/5
1/3 1/3 1/3 1/5 1/5 1/5 1/5 1/5
Maka hasil jumlah, 1/3 + 2/5, dapat ditunjukkan..
1/3 x 5/5 = 5/15
2/5 x 3/3 = 6/15
= 11/15
Jadi, hasilnya terdapat 11 bagian dari satu gabungan kertas lipat yang telah dibagi menjadi 15 bagian.
b. 1/3 x 2/5
Dari seluruh kotak tersebut terlihat ada 2 kotak yang di arsir dari 15 bagian kotak yang ada, jadi 1/3 x 2/5 = 2/15
c. 1/3 : 2/5
Dari gambar di sebelah, ternyata ditunjukkan bahwa daerah yang diarsir terdiri dari 5/6 bagian, jika dibandingkan luas daerahnya dengan 1/3, jadi 1/3 : 2/5 = 5/6.
d. -4 x -1/2
Sebelum mempragakan operasi bilangan tersebut, diingatkan terlebih dahulu, sifat perkalian – x - = +. Sehingga -4 x -1/2 = 4 x ½, dengan gambar dapat ditunjukkan, sebagai berikut
Terdapat 4 buah arsiran ½ -an, atau sama dengan dua buah kertas lipatan, 4 x ½ = 4/2, atau = 2
e. 34 x 23 = (30 + 4) x (20 + 3)
= (30 x 20) + (30 x 3) + (20 x 4) + (4 x 3)
= kotak 30-an = 20-an = 4-an
= 600 = 90
= 80 = 12
Sehingga, 600 + 90 + 80 + 12 = 782
INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD
Nama : Alkusaeri
NIM : 07712251012
Inovasi merupakan suatu hal yang bersifat relative dan tergantung pada siapa dan dimana sesuatu hal itu terjadi, karena bisa jadi apa yang baru di kita belum tentu begitu pada orang lain, sehingga tugas ini kami buat berdasarkan apa yang pernah kami pahami terkait dengan pembelajaran matematika.
Matematika, yang menurut Rusfendi (1991), adalah bahasa symbol; ilmu deduktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsure yang tidak didefinisikan ke unsure yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. Sehingga hakekat matematika itu sendiri menurut Soedjadi (2000), yaitu memiliki objek tujuan yang abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.
Berangkat dari definisi matematika di atas, jika dikaitkan dengan pembelajarannya di Sekolah Dasar yang mana pada usia SD menurut Piaget fase pikiran anak-anak masih pada fase oprasional konkrit, maka ini akan menjadi tugas yang cukup berat untuk memberikan pemahaman matematika yang bersifat abstrak kepada anak SD yang masih berfikir kongkrit, akan tetapi sampai saat ini telah banyak usaha dilakukan agar pembelajaran matematika pada Sekolah Dasar dapat berjalan dengan maksimal sesuai dengan karakter siswa pada usia itu, mulai dari kurikulum, bahan ajar, sumber belajar, metode, dll yang terkait dengan itu. Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi perhatian kami, sekaligus menjadi tawaran inovasi terhadap pembelajaran matematika di SD, yaitu tentang buku mata pelajaran dan buku sumber belajar lainnya, seperti LKS.
Terkait dengan hal tersebut, kita berangkat dari sejak ditetapkan KBK sebagai kurikulum resmi yang mana kegiatan belajar mengajar sepenuhnya diatur oleh guru pada sekolah yang bersangkutan dan dengan orientasi anak tidak hanya dijadikan objek tetapi sekaligus objek pembelajaran. Semestinya buku pelajaran dan buku sumber lainnya, antara lain :
1. Dalam pengadaannya tidak bersifat Nasional sehingga seluruh aspek yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunannya juga lebih bersifat umum, akan tetapi minimal oleh BSNP sebagai penilai ahir mengusulkan pada pemerintah agar penyusunan buku pelajaran minimal bersifat regional, sehingga aspek-aspek yang termuat di dalamnya lebih dekat dengan kondisi daerahnya masing-masing.
2. Berkenaan dengan isi buku pelajaran, menurut pertimbangan kami akan lebih bagus dan lebih mengena dengan anak usia SD kalau isi buku pelajaran tersebut selain harus sederhana juga berisi petunjuk-petunjuk permainan ataupun lainnya yang tujuannya agar dapat digunakan sebagai petunjuk mengubah keabstrakan matematika menjadi lebih kongkrit. Tidak hanya berisi soal-soal latihan yang banyak untuk meningkatkan pemahaman anak terutama dengan buku LKS yang kalau kami amati muatannya terdiri dari 10% materi dan 90%nya soal-soal latihan, sehingga anak cendrung merasa bosan.
3. Keterlibatan guru dalam menyusun materi pelajaran lebih dimaksimalkan lagi, karena gurulah yang sebenarnya menjadi ujung tombak segala program perbaikan mutu pendidikan, sehingga kalau guru sendiri masih belum sepenuhnya memahami tentunya akan menjadi lebih sulit, seperti halnya dalam penyusunan silabus KBK ternyata sampai digantikannya menjadi KTSP masih banyak guru yang belum memahami dan mengetahui cara mengimplementasikan KBK yang sebenarnya. Begitu juga sekarang dalam penyusunan buku pelajaran, sebaiknya pemerintah tidak hanya melakukan saimbara nasional penyusunan buku ajar tetapi juga melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka menambah wawasan bagi guru bagaimana menyusun buku ajar yang baik.
Demikian kiranya yang dapat kami tawarkan dalam usaha melakukan perbaikan mutu pendidikan, khususnya pada pembelajaran matematika, yang semata-mata berdasarkan pertimbangan kami sendiri, yang tidak terlepas dari keterbatasan wawasan dan pemahaman kami tentang pendidikan Sekolah Dasar yang baik. Dan semoga bermanfaat.
REFLEKSI VIDIO PEMBELAJARAN SD DI JEPANG
Dalam merefleksikan proses pembelajaran yang terdapat dalam vidio proses belajar mengajar SD di Jepang, terdiri dari beberapa bagian, diantaranya :
A. IDENTIFIKASI PERISTIWA PENTING
Sebagaimana yang ditampilkan pada video pembelajaran matematika di SD Jepang, ada beberapa hal yang menarik untuk diperhatikan, yang terdiri dari beberapa aspek, antara lain :
1. Profesionalisme Guru
Terkait denga profesionalisme guru, hal pertama yang menarik perhatian yaitu adanya asisten guru yang mendampingi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan membantu aktivitas belajar. Terlepas dari itu gru dalam melaksanakan tugasnya terlihat rapi dalam penampilannya dan bersikap sopan dalam memimpin pelajaran baik ketika menjelaskan ataupun disaat berinteraksi dengan siswanya, yang kalau dirincikan antara lain :
a. Berpenampilan menarik
b. Bersikap sopan
c. Menghargai pendapat siswa
d. Menyiapkan bahan belajar
e. Menyediakan sumber belajar
f. Memanfaatkan proses pembelajaran sebagai sarana pengembangan kemampuan siswa baik individu ataupun kelompok.
2. Pengelolaan Kelas
Disamping hal-hal yang tersebut diatas dalam mengelola kelas, guru melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Melakukan apersepsi tentang pelajaran yang akan dipelajari.
b. Menjelaskan materi dengan baik
c. Mengarahkan siswa untuk berani mengutarakan pendapatnya
d. Memberikan kesempatan pada siswa untuk menunjukkan kemampuannya di depan kelas
e. Mengarahkan siswa untuk dapat menyelesaikan sebuah permasalahan.
f. mengarahkan siswa untuk dapat bekerjasama dengan siswa lainnya.
g. Meminta siswa untuk mempertanggungjawabkan hasil kerjanya di depan siswa lainnya.
3. Pemanfaatan Sumber Belajar
Berkenaan dengan sumber belajar, terlihat sebelum proses pembelajaran dimulai, guru menyediakan berbagai bentuk gambar yang terkait dengan materi yang akan dijelaskan yang ditempel di papan tulis. Gambar-gambar tersebut dimanfaatkan oleh guru untuk menjelaskan materi pelajaran, penyelesaiaan tugas oleh siswa, menjelaskan hasil kerja siswa, dan pada saat memberikan perbaikan terhadap jawaban siswa, sehingga siswa dapat secara langsung dan dengan jelas mengetahui kekeliruan ataupun argumentasi kebenaran atas soal yang diselsaikannya.
4. Kondisi Siswa
Kondisi sis yang nampak dalam vidio tersebut ketika mengikuti proses pembelajaran, antara lain :
a. Duduk dengan rapi ketika guru menjelaskan materi pelajaran
b. Mengerjakan seluruh arahan guru terkait dengan pemberian tugas.
c. Saling menghargai ketika siswa lainnya mengungkapkan pendapat.
d. Memberikan tanggapan atas pendapat temannya jika dianggap kurang jelas.
Tentang beberapa poin penting yang dapa diidentifikasi di atas, dalam pembelajaran merupakan hal yang penting, terkait dengan profesionalisme guru di dalam kelas oleh W. James Popham, disebutkan bahwa “ada kemungkinan mereka itu (guru) memiliki ciri-ciri pribadi atau sifat-sifat intelektual yang bertolak belakang dengan pengajaran yang baik”. Sehingga guru yang berusaha berpenampilan menarik, mengatur suasana yang kondusif, dan sebagainya, merupakan sebuah usaha dalam mencapai kondisi belajar yang diinginkan.
Begitu juga dengan aspek lainya, dimana apa yang dilakukan oleh guru pada vidio pembelajaran di Jepang, sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Zoltan P. Dienes seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget, dan pengembangannya diorientasikan pada siswa, sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya.
Suatu pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Corey bahwa pembelajaran adalah “suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”. Sehingga berusaha untuk mengelola kelas dengan baik dan pemanfaatan sumber belajar merupakan salah satu bagian yang penting untuk diperhatikan oleh setiap guru ketika ingin melakukan proses belajar mengajar.
B. PERBANDINGAN KEJADIAN SETARA
Untuk membandingkan proses belajar mengajar di atas, lebih didasarkan pada pengalaman baik yang pernah dilihat secara langsaung ataupun mendengar informasi yang berkembang saat ini, kalau dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah Indonesia secara umum hal-hal tersebut di atas secara umum juga terjadi di sekolah indonesia, akan tetapi proses tersebut berlangsung pada sekolah-sekolah negeri yang pavorit ataupun sekolah-sekolah swasta yang memiliki modal besar untuk mengadakan sarana-dan prasarana dan satu hal yang paling penting yaitu dapat memenuhi kesejahteraan guru-gurunya, karena hal ini masih menjadi permasaahan yang dianggap menjadi hambatan berarti bagi guru untuk dapat lebih konsen dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar.
Keluar dari kondisi tersebut, jika dibandingkan proses belajar mengajar di Indonesia dengan yang di Jepang sebagaimana yang terlihat pada vidio, ada beberapa hal yang masih belum dilakukan di Indonesia, yaitu :
1. Adanya asisten guru untuk membantu proses belajar mengajar di kelas.
2. Jarang memanfaatkan sumber belajar yang tersedia.
3. Masih cendrung guru menjadi sentral utama dalam proses belajar mengajar, walaupun sudah dipahaminya beberapa metode mengajar disebabkan karena beberapa pertimbangan
4. Motivasi siswa yang masih rendah, dan
5. Sikap menghargai satu sama lain antar siswa yang masih rendah.
C. TANGGAPAN POIN PENTING
Semua aspek yang terjadi dalam pembelajaran matematika di Jepang, merupakan proses yang cukup ideal untuk diteapkan, agar pembelajaran matematika menjadi menarik dan menyenangkan bagi siswa, akan tetapi dari berbagai metode dan model pembelajaran yang ada, tentunya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sesuai dengan kondisi dan dimana metode dan model tersebut diterapkan.
Mungkin saja di Jepang keadaan kondisi tersebut seluruhnya dapat diterapkan, akan tetapi di Indonesia menurut pemahaman kami, ada bebrapa hal yang dapat kami tanggapi, antara lain, pertama, terkait dengan penampilan guru yang terlalu resmi, hal ini dapat dikatakan kurang pas, disebabkan karena kebiasaan bergaul masyrakat Indonesia yang sebagian besar penduduknya berada di pedesaan dengan penampilan yang biasa, sehingga ketika berhadapan dengan seseorang yang terlihat resmmi, maka akan muncul rasa minder, tentunya hal tersebut tidak kita harapkan dalam proses belajar mengajar, terutama terkait dengan hubungan guru dan murid.
Kedua, adanya asisten guru, yang bisa jadi akan berpengaruh terhadap, adanya dua pusat perhatian siswa, kalaupun pada posisinya asisten guru tersebut hanya membantu dalam proses pembelajaran, akan tetapi jika hal tersebut terjadi secara kontiniu, maka posisi asisten bisa jadi juga menjadi yang utama.
D. ALTERNATIV SOLUSI YANG LEBIH BAIK
Memperhatikan kondisi pendidikan dan keadaan masyarakat di Indonesia, terutama terkait dengan proses pembelajaran, ada bebrapa hal yang kiranya harus dapat di terapkan dengan tegas agar hasil pendidikan dapat lebih maksimal, antara lain :
1. Peningkatan profesionalisme guru dengan mempersiapkan dan mengadakan hal-hal yang mendukung tercapainya hal tersebut.
2. Penerapan secara tegas dan konsisten kebijakan tentnag pendidikan yang sudah dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
3. Terkait dengan kondisi kelas secara umum, hal yang perlu dilakukan :
4. Pengadaan sarana dan media belajar pendukung di setiap kelas. Dan membantu sekolah-sekolah yang masih kurang mampu, karena bagaimanapun keberadaannya sudah ada dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat.
5. Meminimalkan isi kelas agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih kondusif dan efektif.
6. Diadakannya hubungan kerja sama, antar sekolah unggulan dengan sekolah biasa secara intensif, guna memperbaiki dan mengembangkan proses pendidikan di sekolah yang masih kurang maju..
Itu kiranya yang dapat kami tawarkan untuk sementara ini, meskipun terdapat masih banyak dan lebih kompleknya permasalahan yang terjadi di lapangan.
untuk tugas : Learning of Mathematics
Oleh : alkusaeri
Background
Study of mathematics is one of subject given in the school, starts from primary school until upper comprehensive school, of course, expected in process of the study can reach optimal result, that mathematics which is introductory science in everyday life can be application by each and everyone who is studying it.
Till now in the study, mostly we have not known is that mathematics actually, so that often finds difficulty in learning, given the mathematics essence is expected by the teachers can plan good study, because in its the study must cover, how the student can think mathematics and expansion of position through mathematics study.
Related to that, along with development of epoch hence innovation always is done, to process study to become more maximumly and reachs purpose of expected. If it is seen from the study style in the existing in reality, there is two teacher style in teaching namely conventional teaching style and inovatif teaching style. Following will be explained some things related to mathematics study.
1. Tendencial Logic
What laid open by Kant about source of knowledge has truth which relative, depended from the aspect of each approach, however, from the aspect of different approach source of knowledge that is reality and ability thinks.
Reality as source of knowledge because of without there are clearly will which be comprehended not possible is the knowledge will emerge. Because the science haves the character of objective, as laid open by ( Af. Chalmers, 1983:1). Scientific knowledge is knowledge that is believable, because she has been proved its the truth objectively. This opinion gets support from filosof empiricism stream, what tells that knowledge of the man do not be got through rational common sense which abstraction but through via concrete experience. ( Jujun, 2003:51). According to our understanding how the importance of condition of reality developed as source of knowledge that is clear and as according to condition of epoch, because reality would sticking with condition of the.
Temporary, ability thinks very important of the role in developing reality as perceivable knowledge by public at that moment. Because without there are ability thinks, hence man will not possibly can observe real condition clearly, as opinion, sight the inductivism naïf, that science starting from observation ( Af. Chalmers, 1983:2) and do that shall have organs indera which healthy and is normal, related to condition observed, it is of course we must do it with a mind without there are even little prejudice., this opinion also with reference to rationalism stream opinion, which mendasrkan understanding to x'self and ratio.
Both above understandings even so impressed interferes in, however is each other supports in menumakan a knowledge, because each stream has limitation, the rasionalis will pious of difficulty in replying an its the problems if its way of thinking still doubting and questioned, and burden of proof with facts having the character of konkrit, whereas the emprism would not would possibly holds views it, because the reality it is possible that haves the character of not consisten, so that its the truth is also still be questioned, causing need to be proved with arguments that is is supporting its(the truth.
Above description that is source of knowledge based on by ability to think and observes man, besides there is another source of knowlodge,is apocalipse, where apocalipse is knowledge submitted by the infinite through the courier, and its truth cannot be questioned again.
Related to mathematics science, both source of knowledge above joined to to become one, because itself mathematics kalupun Till now has not there are circular agreement to define is that mathematics, do not mean mathematics cannot be recognized. Like has have been phrased by Soedjadi ( 1985:5) as knowledge of mathematics has some characteristics, that is that mathematics object is not konkrit but abstraction. Given the observation object of mathematics, we can know mathematics essence that is at the same time knowable also way of berfikir mathematics by ET. Ruseffendi ( 1980:148) lays open: The mathematics arisings from man minds is relating to idea, process and common sense. Mathematics consisted of four wide knowledges that is: Aritmatika, Aljabar, Geometry and Analisa. Besides mathematics be the queen science, its intention that the mathematics not depend on other study area.
From the explanation, perceivable that ability thinks thing having the character of very important abstraction of the existence, however shall be supported with symbol-simbol which is clear, as supporting facilities for concept concrete which still having the character of abstraction
2. Reflection Teacher’s Style of Mathematics Teaching by Identifying Their Utterances
Business for increases quality of education in Indonesia of course remain to is executed, and in socializing, that all side involving in it involves is active in the business, however various constraints resulting the business doesn't run at ease accross the board, the business covers, curriculum repair, improvement of teacher professionalism, levying of supporting facilities for infrastructure, and not aside from gives understanding about various study models to teacher through seminars, training, work shop, etc. With a purpose to applicable in the school is each and realized it study process which inovatif.
Identification of Style teachs mathematics teacher told by Student Teacher of In-service Training of Certification Program of Secondary, very stand-out of difference of style teachs between teachers which still teaching with traditional style and style teachs teacher which inovatif, however both the styles is each happened influenced by some factor. At school which has owned facility and supporting facilities for other supporter would very enables develops various study models the each class, however problem education in Indonesia is complectly so that not all schools can apply study model maximaly.
Education in Indonesia untill now still there is a real far difference between each school, particularly between marginal schools with school residing in beyond the city and has a real near by information access in the effort improvement of quality of education. And if it is observed more residing in education institutes boundary with around town is added again with existence of madrasah that is education institute which below wings of The Ministry of Religious affairs that is in general resides in rural.
However, if us speaking about study, which according ( Elaine, 2008:18) mentions two study definitions, inter alia : “( 1) A relatively permanent change indium response potentiality which occur ace a result of reinforced practice, and, ( 2) A change indium hhuman disposition or capability, which can is retained, and which is is note simply ascribable to the process og growth”. From two this perceivable definitions there are three principles in study that need to be paid attention, firstly, learning yields change of my prila am protege which relative permanent, the role of education perpetrator, specially teacher is as change perpetrator.
Second, protege has potency and ability which is seed basic for involding without desisting, its the meaning, education properly sprinkles this basic ability seed so thrives and changes. Learning process teachs like that, be optimalisation of self potency so that is reached ideal quality.
Third, change or pencapain ideal quality of that barrens of experiencing linear in parallel life process. Mean, learning process teachs of course is part of life x'self, but s(he is design peculiarly, and intention for the shake of reaching of condition or ideal quality like called as to be above. From third explains the, however condition of place of taking place learning process to teach, style teachs teacher is not must like style teachs teacher having the character of traditional, with patch up supporting facilities and condition of area of the is teacher shall remain to be able to point process learning is orienting at condition of student, mean, ability and reasoning of student made as base to develop and increases quality of learning to teach.
So do in study of mathematics peculiarly, Mathematics as science introduction, especially in everyday life, in process of the study, shall follow the condition is environmental around, because his would be useful quicker felt by student which in the end will race its enthusiasm is to be more impetous again in learning.
Teacher as fasilitator in study, shall plan study process of matching with requirement of student and condition of the environmental, and gives opportunity larger ones to student to develop their self
3. The Role of Lesson Study to Improve Teaching Learning of Mathematics
Remembers mathematics to have object having the character of abstraction, however having to still be studied, hence the study must be adapted for ability of educative participant, as laid open by Doman ( 1985), express that if mathematics facts given to children balita as according to its(the ability, they will be able to find x'self the orders in it. Likely, mathematics is not Iesson which is difficult if it is submitted with correct planning.
Planning of study program is expected able to reach purpose of desired, of course rather difficult planning, however, after there are statement that is clear about purpose of desired, hence the problem becomes far of lenih easy. In compiling Lesson Study beforehand is done inspection, that is, my prila beginning and my prila between which must be mastered by student, hereinafter, in planning study, must load, inter alia, purpose of mathematics study, mathematics study matter, source study, strategi study, and assesment. ( Aisyah, 2007: 8-12).
The above mentioned components is each other related systematically in study plan. So in compiling study plan of mathematics shall cover principle, that is scientific, relevant, systematic, consistency, adequate, actual, kontekstual, and flexible. ( Aisyah, 2007:8-5). Because study plan of mathematics is operational activity designed by teacher in it contains phase scenario for the shake of phase about activity of mathematics that is later must be done teacher in class, for the purpose, study plan better be compiled by the teacher because she which will apply it.
4. Do we know what is Mathematical Method?
Katagiri, S.S. ( 2004) indicates that question must is created so that problem solving process elicits mathematical thinking and method. What depicted by Katagiri in thinking acurate mathematics if related to mathematics having the character of abstraction which will be made an understanding which konkrit, more for child of SD which the phase idea still at phase konkrit, of what depicted has covered how the step idea of mathematics starts from abstraction, depicts, analogy, presfective, solution and basis logical mind.
The step sequence would more facilitatingly for student to comprehend mathematics it is of course the process also must pay attention to level of student ability, because difference would level of understanding of schoolchild Dasar with higher level school. Thinks mathematical of very important itself to comprehend matter metematika in intact, which if we see this present condition, most student comprehends mathematics just for need of test only, so they will find difficulties in the application of mathematics if it is given on to different condition.
Pays attention to the condition, by Burner in the learning theory arising four teorema/dalil to relate to teaching of each mathematics as “ theorem and theorem”, fourth of theorem is : ( 1) Contruction Theorem; ( 2) Notation Theorem; Contrast and Variation Theorem; and ( 4) conectivity Theorem, fourth of the theorem not for be applied one by one, however combinable as according to characteristic or mathematics topic is being studied and characteristic from learning student.
5. Do we know what is Mathematical Attitude?
From various definition about learning, one of the purpose is realizing man is acting and kind hearted of exaltus ethic, the thing also implicit in purpose of national education, as in arranging in Sisdiknas, 2003. also as that expressed by Gagne, that learning is process enabling man to change tune in permanent, in such a way that the same change will not happened in the situation new. Till now we formulate elementary interest based on taxonomy Bloom with three domains, is : cognitive domain, affective domain, and psikomotor domain.
By Gagne divides result of learning to become five kapability categories as follows; ( 1) information verbal; ( 2) skill intlektual; ( 3) Cognitive strategy; ( 4) Position; and ( 5) skill motorik. Fifth result of this learning also included in result of mathematics learning, related “ Mathematica Attitude” this included in result of learning “ skill intlektual” which including at order forming learning, because in study of order mathematics is formed based on concepts which have been studied, and is statement verbal. So every will finalize permaslahan of mathematics shall follow the order.
Related to forming of position also cendrung response to in stimulus precise on the basis of penilain to the stimulus, response given by someone to one objects might possibly in the form of response which are positive and or negativity response, depends on is the important object or no.
EXPLANATION
Knowledge is a thing which have never released in our life, so that all facts which seems to be becoming source of knowledge for man who developed through ability to think it, from dual of the thing also is found various science types is including mathematics.Mathematics in general terms is knowledge compiled consistently based on deductive logic. Bertrand Russell and Whitehead in the masterpiece trying to proves that mathematics theorems basically is statement of logic.
Aware of important meaning in everyday life, hence mathematics is applied to to become a fundamental subject at education program, so that in process of his(its there is assorted of method in its(the study. In process of his own study shall, teacher must have ability to choose correct method so that mathematics matter can be submitted correctly to student as according to its(the development. Because mathematics which with reference to abstraction ideas given the symbols lapped over hierarchically and its(the common sense is deductive, clearly the mathematics learning is activity of high mental ( Herman, 1988:8).
More detailedly, in study also must be able to develop mathematical patterned thinking and mathematic attitude, because pembelajarn mathematics also leads to cognate ability expansion, afektiv, and psikomotorik. So, that study of mathematics can be felt its(the benefit is directly in everyday life, shall pay attention to condition and student ability, causing study process can run with efektiv and can be comprehended by all students.
Refrence
A.F. Chalmers, 1983. Apa itu yang dinamakan ilmu. Hastamitra. Jakarta
Jujun S. Suriasumantri.2003. Filsafat ilmu (sebuah Pengantar Populer). Pustaka Sinar Harapan. Jakarta
Soedjadi, R. (2000). Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia: Konstantasi keadaan masa kini menuju harapan masa depan. Jakarta: Dirjen Dikti
Rusfendi, E.T. (1980). Pengajaran matematika modern untuk orang tua murid guru dan SPG seri kelima. Tarsito.Bandung
Elaine B. Jhonson, Ph.D,. 2008. Contextual Teaching & Learning. Mizan Learning Center (MLC). Bandung
Doman, G. 1985. Ajaklah Balita Anda Belajar Matematika. Yayasan Essentia Medica Yogyakarta.
Nyimas Aisyah. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Dikti. Jakarta
Shikgeo Katagiri (2004)., Mathematical Thinking and How to Teach It. in Progress report of the APEC project: “Colaborative Studies on Innovations for Teaching and Learning Mathematics in Diferent Cultures (II) – Lesson Study focusing on Mathematical Thinking -”, Tokyo: CRICED, University of Tsukuba. Gagne, Robert. 1983. The Condition Of Learning. Japan: Holt saunders
Bertrand Russell. 1965, On the philosophy of science. The Bebbs-Merril, New York.
Herman Hudojo. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Depdikbud Dirjen Dikti. Jakarta
Rabu, 03 September 2008
evaluasi pendidikan SD
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 ”Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran”. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperlukan suatu bentuk evaluasi.
Pembangunan pendidikan di indonesia sampai saat ini belumlah mencapai tujuan yang diinginkan secara maksimal, sehingga dilakukanlah pembenahan-pembenahan diberbagai aspek penunjang keberhasilan pendidikan, dianataranya kualitas guru, pengadaan sarana prasarana, dan hal-hal lain yang tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan program pendidikan secara umum begitu juga halnya pada pembelajaran matematika khususnya.
Dalam proses pembelajarannya, matematika sampai saat ini masih dianggap sebagai sebuah mata pelajaran yang tergolong dalam mata pelajaran yang sulit, padahal pembelajaran matematika itu sendiri sangat membantu dalam rangka mengembangkan pola berpikir logis siswa, hal ini haruslah menjadi perhatian kita bersama agar prestasi dan pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika akan terus meningkat dan tidak ketinggalan jauh dari negara-negara lain.
Untuk terus meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika, salah satu kegiatan dalam proses pembelajaran yang sering dilakukan adalah evaluasi, dimana seringkali dan bahkan sudah menjadi kebiasaan dalam setiap akhir penjelasan ataupun ditengah-tengah penjelasan guru selalu memberikan contoh-contoh soal yang harus dikerjakan oleh siswa untuk mengetahui pemahamannya pada setiap bagian materi yang diajarkan. Hal ini tentunya merupakan langkah positif yang dijalankan oleh guru untuk terus memotivasi siswa dalam peningkatan prestasi belajar siswa.
Karena menurut pendapat seorang ahli ”matematika adalah bahasa simbol; ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak terdefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil”. (Ruseffendi:1991:23), sehingga pembelajaran matematika akan lebih berhasil jika prosesnya lebih ditekankan pada tingkat keaktivan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar, artinya dengan semakin seringnya siswa melakukan pemecahan masalah atau mengerjakan soal-soal latihan yang ada maka pemahamannya akan menjadi lebih bagus terhadap setiap materi yang ada dan hasil akhirnyapun tentunya akan menjadi lebih meningkat dari standar minimal yang telah ditetapkan oleh masing-masing sekolah.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa evaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Sehingga pembelajaran matematika di SD Perumnas condong Catur oleh guru yang bersangkutan, sampai saat ini selalu melakukan evaluasi dalam proses pembelajaran, jika sudah mencapai materi tertentu (formatif) dan pada akhir program (sumatif).
Pelaksanaan masing-masing evaluasi tersebut merupakan salah satu jalan bagi guru untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi yang sudah diajarkan walaupun sampai saat ini terdapat kesenjangan terhadap hasil pelaksanaannya, dimana kalau kita mengacu kepada nilai Standar Minimum Sekolah yang sudah ditetapkan secara bersama di SD Perumnas 6,0. Sementara dari hasil ulangan harian yang telah dilaksanakan nilai rata-rata siswa mencapai 6,8 atau bahkan sampai 7,2 setiap kali melakukan ulangan harian, sementara pada pelaksanaan ujian semester nilai rata-rata siswa hanya mencapai 5,4 yang terletak di bawah standar minimum yang telah ditetapkan.
Hal ini terjadi diantaranya disebabkan oleh tingkat pemahaman siswa yang bervariasi terhadap materi matematika kalaupun dalam proses telah sering dilaksanakan tes formatif, juga oleh guru bersangkutan bisa juga disebabkan oleh waktu pelaksanaan tes formatif yang dilaksanakan dalam waktu yang tidak terlalu jauh renggang waktunya setelah materi tersebut dijelaskan yang tentunya ingatan siswa masih kuat terhadap materi tersebut, setelah itu ketika mereka dirumah orang tua tidak semuanya memberikan perhatian terhadap tugas belajar anaknya, sehingga ketika pelaksanaan tes sumatif hasilnya tidak maksimal.
Disamping itu juga pelaksanaan kedua tes tersebut secara tehnis direncanakan oleh dua pihak yang berbeda, dimana tes formatif dilaksanakan oleh guru pada waktu yang dianggap tepat ketika telah melalui materi-materi tertentu dan tesnyapun disusun oleh guru yang bidang studi yang bersangkutan, sementara waktu pelaksanaan tes sumatif ditetapkan berdasarkan keputusan pemerintah daerah melalui departemen pendidikan dan kebudyaan setempat dengan perkiraan dalam waktu tertentu masing-masing guru telah menyampaikan semua materi yang termasuk dalam kurikulum walaupun hal tersebut bersifat relatif.
Disebabkan oleh pelaksanaan tes formatif yang cakupan pelaksanaannya lebih besar, maka cendrung lingkupan materi tes sumatif kadang tidak pas pada sekolah-sekolah tertentu, ini dibuktikan dengan tidak jarangnya terjadi materi yang telah diajarkan oleh tidak keluar menjadi butir soal tes sementara materi yang belum diajarkan keluar menjadi butir tes sumatif tentunya akan menjadi beban pikiran siswa dan mempengaruhi hasil tes yang dicapai. Disamping itu juga dalam proses pembelajaran masing-masing guru melakukan pengembangan materi yang bervariasi sehingga dalam tes sumatifnyapun memiliki pemahaman yang berbeda terhadap butir tes yang ada.
Kondisi tersebut di atas tentunya tidak sejalan dengan tujuan pelaksanaan evaluasi sebagaimana dijelaskan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 57 ayat 1 yang berbunyi ”Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dan pada pasal 58 ayat 1 dijelaskan bahwa ”evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
Dari UU Sisdikanas tersebut dapat dipahami bahwa evaluasi dilaksanakan untuk mengendalikan mutu dan perbaikan secara termenerus dan agar terdapat peningkatan hasil terhadap proses belajar mengajar yang dilaksankan, bukannya akan mengalami kemunduran, sehingga dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar diperlukan perhatian secara bersama dan perbaikan dalam pelaksanaannya agar evaluasi yang dilakuakan dapat memberikan gamabaran bagi kita tentang proses belajar mengajar secara menyeluruh dan dapat dilakukannya perbaikan secara terus menerus.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, dapat diidentifikasi bebrapa masalah, anatara laian :
1. Pengembangan materi ajar tidak sama antar sekolah
2. Belum tercapainya nilai standar minimum pada tes sumatif.
3. Belum sinergisnya pembuatan tes formatif oleh guru dengan tes sumatif yang disusun di tingkat daerah.
4. Situasi dan kondisi pelaksanaan tes yang berbeda.
5. Kurangnya perhatian orang tua terhadap penyelesaian tugas siswa.
C. PEMBATASAN MASALAH
Dari beberapa masalah diatas tentang pelaksanaan tes formati dan tes sumatif, maka permasalahan dibatasi pada :
1. Penetapan Nilai Standar Minimum Pelajaran matematika.
2. Pembuatan tes formatif dan tes sumatif
3. Pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif
D. RUMUSAN MASALAH
Dari pembatasan istilah, maka dapat dirumuskan masalah penelitian, antara lain :
1. Faktor apa saja yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan Nilai Satandar Minimum Pelajaran Matematika SD Perumnas Condong Catur ?.
2. Bagaimanakah pembuatan tes formatif dan tes sumatif pelajaran matematika SD Perumnas Condong Catur?.
3. Bagaimana pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif di SD Perumnas Condong Catur Kelas V Semester 2?.
E. TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif pada SD Perumnas condong Catur kelas V Yogyakarta, sehingga diketahui kelebihan dan kelemahannya, serta seberapa jauh tujuan yang diharapkan telah tercapai. Hasil yang diperoleh melalui penelitian yang diharapkan dapat memberi peluang kemungkinan diadakannya pengembangan yang lanjut terhadap pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif tersebut, untuk itu tujuan penelitian ini antara lain :
1. Mengungkapkan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam penetapan nilai Standar Minimum pelajaran matematika pada SD Perumnas Condong Catur Yogyakarta.
2. Mengevaluasi Pembuatan tes format dan tes sumatif siswa SD Perumnas Condong Catur kelas V semester 2 TA 2007/2008.
3. Mengevaluasi pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif di SD Perumnas Condong Catur Kelas V.
F. MANFAAT
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis ataupun paraktis, dimana :
A. Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman tentang pelaksanaan evaluasi hasil belajar siswa terutama siswa SD pada mata pelajaran matematika, terutama pada pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif serta dapat dijadikan acuan dalam melakukan penelitian pengembangan guna mendapatkan informasi tentang penilaian hasil belajar secara lebih maksimal.
B. Secara Praktis
Adapun secra praktis, hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Guru
Memperbaiki cara melakukan atau memberikan tes formatif dan tes sumatif terhadap siswa dalam pelajaran matematika, sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar menjadi lebih baik lagi.
2. Lembaga Pendidikan
Untuk lembaga pendidikan dapat dijadikan masukan untuk dapat merencanakan dan mempersiapkan sarana pendukung dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Pemerintah
Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan pendidikan tentang tekhnis penilaian hasil belajar, sehingga dapat mencapai hasil yang lebih maksimal.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. KAJIAN TEORI
I. HAKEKAT MATEMATIKA
Perkembangan dunia pendidikan matematika dewasa ini tidak terlepas dan kaitan antara matematika sebagai “ilmu” dan didaktik atau psikologi pendidikan. Seperti yang kita ketahui, filsafat konstruktivisme telah diterima luas dalam dunia pendidikan, tak terkecuali pendidikan matematika. Pembelajaran kontekstual yang sekarang sedang digalakkan dan secara tersurat termaktub dalam Kurikulum 2004, tidak lain merupakan salah satu ekses dan diterimanya filsafat konstruktivisme dalam filsafat ilmu.
Di pihak lain, matematika sebagai ilmu sesungguhnya memiliki interpretasi yang demikian beragam. Oleh karena matematika yang diajarkan di sekolah juga merupakan bagian dari matematika, maka berbagai karaktenistik dan interpretasi matematika dan berbagai sudut pandang juga memainkan peranan dalam pembelajaran matematika di sekolah. Dengan memahami karakter matematika, guru diharapkan dapat mengambil sikap yang tepat dalam pembelajaran matematika. Lebih jauh lagi, ia sehanusnya memahami batasan sifat dan matematika yang dibelajarkan kepada anak didik. Jangan sampai guru memandang matematika hanya sebagai kumpulan numus belaka, tidak pula hanya sebagai proses berpikir saja. Pemahaman yang komprehensif tentang matematika akan memungkinkan guru menyelenggarakan pembelajaran dengan lebih baik.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa persepsi atau sikap guru terhadap matematika mempengaruhi persepsi atau sikapnya terhadap pembelajaran matematika. Untuk menyebut salah satunya, Hersh (dalam Sumaji,dkk, 1998: 246) menyatakan bahwa hasil pengamatan di kelas, menurut para peneliti, bagaimana matematika diajarkan di kelas dipengaruhi dengan kuat oleh pemahaman guru tentang sifat matematika.
Pemahaman yang tidak utuh terhadap matematika sering memunculkan sikap yang kurang tepat dalam pembelajaran, lebih parah lagi dapat memunculkan sikap negatif terhadap matematika. Dengan pemahaman yang utuh, diharapkan pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna.
Melihat bahwa matematika itu “diciptakan” oleh manusia terdahulu, maka mi membeni ilham bagi paradigma pembelajaran yang bersifat konstruktivisme. mi yang menurut penulis implikasi atau peran penting sejarah matematika dalam pembelajaran. Siswa diperbolehkan menggunakan usahanya sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah matematika (atau yang bemuansa matematika) bahkan dengan menggunakan bahasa dan lambangnya sendiri. Paradigma semacam mi kini menj adi trend dalam pembelaj aran matematika realistik atau konstruktivis. Perkembangan matematika dalam din individu (ontogeny) mungkin saj a mengikuti cara yang sama dengan perkembangan matematika itu sendiri (phylogeny).
II. EVALUASI HASIL BELAJAR
Sebagaiman termaktub dalam UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003, bahwa ”Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan” telah dilakukan berbagai macam pendekatan, metode, dan teknik yang tepat untuk menghimpun data sehingga didapatkannya gambaran yang jelas tentang sejauh mana keberhasilan pembelanajaran telah tercapai.
Mengingat perkembangan pendidikan nasional saat ini, maka belajar dan mengajar paling tidak mengandung tiga unsur yaitu ”Tujuan pembelajaran (instruksional), Pengalaman (proses) belajar mengajar, dan hasil belajar (penilaian)” (Nana Sujana, 1989: 3). Ketiga unsur ini jiga digambarkan dalam bentuk diagram, maka akan mengandung hubungan sebagai berikut :
| Tujuan Instruksional |
| Pengalaman belajar (Proses belajar mengajar) |
| Hasil Belajar (Penilaian) |
Dari gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang harus sejalan agar dapat mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
Terkait dengan penilai hasil belajar bahwa ”Evaluation (classroom) is the systematic process of collecting, analyzing, and interpreting information to determine the extent to which pupils are achieving instructional objectives” (Norman, 1990: 5), dari definisi ini dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran di kelas mengandung tiga unsur yaitu pengumpulan, analisi dan penafsiran informasi dari tujuan instruksional artinya evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan instruksional telah tercapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang diperlihatkannya setelah menempuh pengalaman (proses) belajar mengajar dan juga untuk mengetahui keefektifan pengalaman belajar mengajar dalam mencapai hasil belajar yang maksimal.
Kegiatan evaluasi harus dilakukan untuk mengetahui hal tesebut di atas pada semua mata pelajaran, terutama matematika yang sampai saat ini masih terkenal sulit dan memang matematika merupakan mata pelajaran yang menuntut siswanya memperbanyak latihan, lebih-legih dari hasil survey yang dilakukan oleh Third International Mathematics and Sciences Survey (TIMSS) mengatakan bahwa “Soal tes matematika dan sains yang terdiri dari 8 hanya satu yang mampu direspon dengan baik oleh individu” sehingga kegiatan evaluasi sangat penting utuk mencari tahu kendala dan solusi-solusi dari permasalahan yang ada.
III. JENIS DAN ALAT EVALUASI HASIL BELAJAR
a. Jenis Evaluasi Hasil Belajar
Dalam proses belajar mengajar di kelas oleh Norman (1990:12) menyatakan bahwa evaluasi menurut fungsinya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain :
1. Pleacement evaluation (untuk menentukan kemampuan awal atau materi prasyararat pada saat akan memulai sebuah program).
2. Formative Evaluation (untuk memantau selama proses belajar mengajar berlangsung).
3. Diagnostic Evaluation (Untuk mendiagnosa kesulitan setalah proses belajar mengajar berlangsung).
4. Sumative evaluation (evaluasi prestasi atau keberhasilan setelah proses belajar mengajar berahir).
b. Alat Evaluasi Hasil Belajar
Untuk melakukan evaluasi hasil belajar yang baik dibutuhkan alat penilain yang baik pula, dan secara garis besar alat penilain hasil belajar dibagi menjadi dua yaitu : tes dan Non tes, dimana masing-masing juga memiliki bentuk yang berbeda diantaranya :
1. Tes
Berdasarkan pengertian dari tes itu sendiri yaitu : susunan soal yang sistimatis dan mengandung unsur benar dan salah, maka bentuknya berupa soal-soal, antara lain :
- Pilihan Ganda
- Esay
- Mencocokan
2. Non Tes
- Wawancara
- Dokumentasi
- Observasi
Dari jenis alat penilaian diatas, dapat dilakukan dengan lisan ataupun tulisan, asalakan didapatkannya gambaran tentang objek yang sedang dinilai atau dievaluasi.
IV. EVALUASI PROGRAM
a. Pengertan Evaluasi Program
Konsep evaluasi biasanya selalu dihubungkan dengan hasil belajar, namun untuk saat ini konsep evaluasi semakin berkembang sehingga ada beberapa ahli yang mendefinisikan tentang konsep evaluasi ini. Evaluasi menurut pengertian bahasa beraasal dari bahasa inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran, hal ini berarti dalam evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menilai atau menaksir sesuatu. Menurut beberapa ahli diantaranya Worthen dan sanders (1973 : 19) memberikan definisinya tentang evaluasi sebagai berikut :
“Evaluation is determination of the worth of the thing. It includes obtaining information for use in judging the worth of a program, product, procedure, objective, or the potential utility of alternatives approaches designed to attain specified objectivies.
Dari definisi di atas, secara inplisit terkandung adanya Kriteria yang digunakan untuk menentukan nilai (worth) dan adanya hal yang dinilai, criteria yang. Criteria yang dimaksudkan adalah criteria keberhasilan pelaksanaan program dan hal yang dinilai dapat berupa dampak atau hasil yang dicapai, atau prosedurnya sendiri. Ada dua konsep yang terkandung dalam pernyataan ini, yaitu efektifitas yang merupakan ratio antara output dan inputnya, dan konsef efesiensi yang merupakan taraf pendayagunaan input yang menghasilkan output lewat proses.
Stuflebeam (worthen & Sanders, 1973 : 129) menyatakan definisi dari evaluasi adalah :
“Evaluation is the process of delieniting, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives. Process, a particular, continuing, and cyclical activity. Delineating, focusing informations reqirements to be served evaluation through such step as specifying, defining, and explicating. Obtaining, making available through such processes as collecting, organizing, and analizing, and through such formal means as statistics and measurement. Providing, fitting together into systems or subsystems that best served the needs or purposes of the evaluation.”.
Dari definisi di atas, evaluasi dimaksudkan sebagai proses yang menggambarkan, menghasilkan dan menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Jadi, evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistimatis untuk membantu pengambilan keputusan (decision maker) dalam menentukan kebijakannya menyangkut program yang dievaluasi.
Tayibnapis (2000: 1) menjelaskan bahwa evaluasi dapat memberikan pendekatan yang lebih banyak dalam memberikan informasi kepada pendidikan untuk membantu perbaikan pengembangan system pendidikan. Setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data, berdasrkan data tersebut kemudian dicoba untuk membuat keputusan/kesimpulan.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan upaya pengambilan keputusan tentang nilai keberhasilan program yang dilakukan melalui proses yang terdiri atas : (1) pengumpulan data yang tepat, (2) mempertimbangkan data tersebut dengan menggunakan tolak ukur/criteria tertentu dan (3) memberikan rekomendasi tentang kelanjutan program.
b. Manfaat evaluasi program
manfaat evaluasi program adalah untuk mengetahui bagimana dan seberapa tinggi kebijakan yang sudah dikeluarkan dapat terlaksana. Informasi yang diperoleh dari kegiatan evaluasi sangat berguna bagi pengambilan keputusan dan kebijakan lanjutan dari program, karena dari masukan hasil evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan.
wujud dari hasil evaluasi adalah sebuah rekomendasi dari evaluator untuk mengambil keputusan (decision maker). Beberapa kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam pelaksanaan sebuah program, yaitu ;
1. Menghentikan program, karena dipandang program tersebut tidak ada manfaatnya atau terlaksana tidak sesuai dengan yang diharapkan.
2. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan (hanya terdapat sedikit kesalahan)
3. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan memberikan hasil yang bermanfaat.
4. Menyebarluaskan program, karena program tersebut berhasil dengan baik maka sangat baik jika dilaksanakan lagi di tempat lain dan waktu yang lain.
c. Berbagai Model evaluasi Program
Evaluasi program dikenal banyak model yang ditemukan oleh banyak ahli dan digunakan untuk mengevaluasi suatu program (Kaufman & Thomas, 1980:109) membedakan model evaluasi menjadi delapan yaitu : 1) Goal Oriented Evaluasi model, yang dikembangkan oleh Tyler. 2) Formatif sumatif evaluation Model, yang dikembangkan oleh Scriven. 3) Goal Free Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Scriven. 4) Countance evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stake. 5) responsive Evaluation Model, Dikembangkan oleh Stake. 6) CSE-UCLA Evaluation Model. 7) CIPP Evaluation Model, Yang dikembangkan oleh Stufflebeam. 8) Discrepancy Model, yang dikembangkan oleh Provus.
Semua model evaluasi masing-masing memiliki keunggulan dan ketepatan sendiri-sendiri di dalam mengevaluasi suatu program yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Goal Oriented Evaluation Model, pada model ini yang menjadi objek pengamatan adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan sebelum program dimulai.
2. Goal Free Evaluation Model, Pada Model ini sejak awal yang menjadi tujuan adalah proses, melaksanakan evaluasi program, evaluator tidak perlu melihat apa yang menjadi tujuan program, yang perlu diperhatikan adalah mengidentifikasi penampilan-penampilan yang terjadi baik positif maupun negative.
3. CIPP Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stufflebeam dan Shinkfield. Model ini sudah memiliki kerangka kerja dasar yang lengkap, yaitu evaluasi Context untuk membantu mengembangkan tujuan-tujuan, evaluasi Input untuk membantu usulan-usulan, evaluasi Process berfungsi untuk mengarahkan inplementasi, sedangkan evaluasi product untuk memberikan keputusan-keputusan yang berkenaan dengan hasil evaluasi.
Ringkasnya CIPP Evaluation Model dimensinya adalah menggambarkan (delineating) program seperti yang diajukan, memperoleh 9obtaining) tentang bagaimana cara memperoleh informasi yang diperlukan dan menyediakan (providing) berkaitan dengan bagaimana melaporkan informasi yang sudah diperoleh.
4. Model CSE (Center for the study of evaluation), model ini mencakup empat tahapan yaitu ; a) menaksir kebutuhan yaitu kegiatan menyeleksi program yang terkait dengan kebutuhan dari tujuan-tujuan program. b) Merencanakan program, dalam tahap ini harus ada perencanaan program yang sesuai dengan tujuan program. evaluator memulai tugasnya dengan memahami tujuan program. c) Mengadakan evaluasi formatif yaitu mengumpulkan dan membagi informasi.
5. Formative-sumative Evaluation Model. Scriven (worthen & Sander, 1973:104) menyatakan : “formative evaluation (evaluation used to the developer) and summative evaluation (evaluation of a completed product, aimed at the potential consumer) is useful distinction”. Evaluasi program ini oleh scriven dibedakan menjadi dua atas dasar fungsinya yaitu evaluasi formative digunakan untuk memperoleh informasi yang dapat membantu memperbaiki program. evaluasi ini dilakukan selama program masih berlangsung untuk memberikan umpan balik bagi penyempurnaan program dan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikan, sehingga hasil program menjadi lebih baik.
Evaluasi sumatif dibuat untuk menilai kegunaan suatu objek. Evaluasi ini dilakukan ketika program telah selseai dilaksanakan. Data yang diperoleh dari evaluasi sumatif sangat berguna bagi pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan selanjutnya, oleh karena itu evaluasi ini lebih mengarah pada keputusan tentang kelanjutan program, berhenti, atau diteruskan, pengadopsian atau selanjutnya.
6. Discrepancy Model
Kata discrepancy adalah istilah bahasa inggris yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “kesenjangan”. Model yang dikembangkan oleh Malcolm Provus ini merupakan model yang menekankan pada pandangan adanya kesenjangan dalam pelaksanaan program. evaluasi program yang dilakukan oleh evaluator mengukur besarnya kesenjangan yang ada pada setiap komponen. Jadi prinsip model ini adalah membandingkan yang ada pada setiap komponen. Jadi prinsip model ini adalah membandingkan antara kenyataan yang ada dengan suatu standar criteria (Kaufman & Thomas, 1980:127).
Khusus untuk model yang dikembangkan oleh Provus menekankan pada kesenjangan yang sebetulnya merupakan persyaratan umum bagi semua kegiatan evaluasi, yaitu mengukur ada perbedaan antara yang seharusnya dicapai dengan yang sudah riil dicapai 9Suharsimi Arikunto & Cepi Syfrudin, 2004: 31). Dan ada lima tahap pelaksanaanya yaitu : a) Design Stage, b) Installed program, c) Process, d) Product, e) Program comparsion.
7. Model Stake
Model Stake (Worthen & Sgandeesenjanrs, 1973:125) menekankan pada dua jenis operasi yaitu deskripsi (description) dan pertimbangan (judgement) serta membedakan tiga fafase dalam evaluasi program, yaitu : 1) persiapan atau pendahuluan, 2) Proses/transaksi dan 3) keluaran atau hasil. Dalam model stake ketiga fase tidak hanya dibandingkan untuk menentukan kesenjangan anatara yang diperoleh dengan yang diharapkan, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang mutlak agar diketahui dengan jelas kemanfaatan kegiatan di dalam proses tersebut. Penekanan paling besar pada model ini adalah pendapat bahwa evaluator membuat keputusan tentang program yang sedang dievaluasi.
Dari beberapa model evaluasi di atas, semanya dapat digunakan tergantung pada kondisi dan dan dari segia apa sebuah program akan dievaluasi, dan dalam pembelajaran dalam penetapan model evaluasi menurut (Buekendhal, 2002:259) harus memenuhi tiga komponen, antara lain : 1). Penampilan siswa pada bagian yang dinilai, 2). Kualitas tekhnik dalam mengevaluasi, 3). Memilih indicator nonkognitiv pada penampilan siswa. Sehingga hasil evaluasi diharapkan akan lebih maksimal.
d. Proses Evaluasi
Proses evaluasi yang baik harus melalui tahap-tahap berikut :
1) Perncanaan Evaluasi
a) Kebutuhan untuk mengevaluasi program
b) Proses memeriksa kebutuhan, tujuan pembelajaran dan sikap
c) Perencanaan evaluasi secara tertulis.
2) Melaksanakan Evaluasi : melaksanakan sesuai dengan yang sudah direncanakan yaitu rencana evaluasi tertulis, menganalisisi data dan menyampaikan sesuatu rekomendasi secara tertulis.
3) Membuat keputusan yang didasarkan pada :
a) Hasil evaluasi
b) Menindaklanjuti hasil evaluasi yaitu mempertahankan, mengembangkan atau memperbaiki program.
e. Kriteria Keberhasilan program
Sebelum mengadakan evaluasi, evaluator perlu membuat/menetapkan suatu criteria evaluasi sebagai tolak ukur atau standar yang digunakan sebagai patokan atas batas minimal untuk sesuatu yang diukur (Suharsimi Arikunto & Cepi Safrudin, 2004:14)
Criteria evaluasi yang dikembangkan melalui model-model evaluasi yang digunakan adalah (Said Hasan, 1988:5):
1) Pre Ordinate, pendekatan ini memiliki dua karakteristik, yang pertama criteria ditetapkan sebelum melaksanakan evaluasi, criteria ini bersifat mengikat karena ditetappkan sebelum evaluator turun kelapangan. Karakteristik yang kedua criteria dikembangkan pada teoritik dan pandangan-pandangan tertentu yang dianggap baik. Pendekatan pre-Ordinate menuntut evaluator bekerja berdasarkan instrument yang baku
2) Fidelity, pendekatan ini pada dasarnya ada kesamaan prinsip dengan pendekatan yang pertama yaitu criteria yang dikembangkan sebelum evaluator turun kelapangan untuk mengumpulkan data. Perbedaan prinsip antara keduanya adalah hakekat evaluasi yang digunakan, pendekatan fidelity tidak menggunakaninstrumen yang bersifat umum sebagaimana dengan pre-ordinat. Evaluator dapat menggunakan alat evaluasi yang sesuai dengan karakteristik yang dievaluasi. Pendekatan fidelity menggunakan criteria yang dapat dikembangkan berdasarkan presepsi para pengembang program, selain itu evaluator tidak dapat mengesampingkan pentingnya program yang sedang dievaluasi.
3) Mutual Adaptif, merupakan panduan antara pendekatan pre-ordinate, fidelity dan process, criteria yang dikembangkan dari karakteristik program dari luar seperti pandangan teoritik dari para pelaksana program dan pamakai program
4) Process, yaitu evaluator mengembangkan criteria selain proses evaluasi berlangsung, criteria diperoleh melalui wawancara, observasi atau studi dokumentasi. Pendekatan proses mengembangkan criteria selama proses evaluasi berlangsung. Criteria didapat melalui wawancara, observasi atau studi dokumentasi. Pendektan ini berhubungan erat dengan aplikasi pendekatan kualitatif. Karakteristik yang menonjol dari pendekatan ini merupakan criteria yang dipergunakan dan dikembangkan selama evaluator di lapangan. Konsekuaensinya pendekatan ini terkait denga masalah yang dihadapi oleh para pelaksana lapangan.
B. KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN
Terkait dengan pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif telah dilakukan penelitian oleh Tuan Hj. Abd. Rashid Johar tentang (Tanggapan terhadap Penilaian Formatif, Pembinaan Item Penilaian dan Penggunaannya oleh Guru) yang mana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dari Tujuan kajian ini ialah untuk meninjau tanggapan terhadap penilaian formatif, pembinaan item-item ujian bilik darjah, dan penggunaan penilaian formatif di dalam proses pengajaran dan pembelajaran oleh guru-guru sains dan matematik. Sampel kajian ini terdiri daripada 107 orang guru yang mengajar dalam tingkatan I dan II dari dua puluh dua buah Sekolah Menengah Rendah di Daerah Tampin, Rembau dan Kuala Pilah, Negeri Sembilan Darul Khusus. Soalselidik untuk kajian ini telah dibuat dengan merujuk kepada berbagai sumber untuk mengukur aspek-aspek penilaian ini. Dapatan kajian ini menunjukkan bahawa ramai dari guru ini yang mempunyai tanggapan yang betul terhadap penilaian formatif ini : 97.2% guru ini bersetuju bahawa penilaian mempunyai peranan penting dalam proses pengajaran dan pembelajaran, 74.3% bersetuju bahawa ujian harus kerap diadakan, dan 74.5% bersetuju bahawa hasil ujian diperlukan dalam merancang proses pengajaran dan pembelajaran. Walaupun ramai guru yang mempunyai tanggapan yang betul terhadap penilaian formatif, tetapi hasil kajian menunjukkan kurang daripada 60% guru-guru ini melaksanakan penilaian formatif dengan sewajarnya: 56.2% guru menyediakan JPU sebelum membina item ujian, 46.3% guru membina sendiri item ujian, 53.8% guru membuat analisis markah ujian, 34.6% guru membincangkan kesalahan dan kelemahan pelajar secara individu, 57.7% guru menyediakan isi pelajaran berdasarkan pencapaian pelajar-pelajar, dan 14.3% guru tidak mementingkan pemberian gred pencapaian kepada pelajar-pelajar. Dengan menggunakan ujian-t dan ANOVA, kajian ini juga mendapati bahawa pembolehubah bebas jantina, kelulusan akademik, kelulusan ikhtisas, pengkhususan dan pengalaman mengajar guru tidak mempunyai pengaruh yang signifikan ke atas tanggapan terhadap penilaian formatif, pembinaan item ujian, dan penggunaan penilaian ini dalam proses pengajaran dan belajaran.
C. KERANGKA BERFIKIR
Pelaksanaan evaluasi terhadap proses belajar mengajar sangatlah penting untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran sudah tercapai pada semua bidang studi terutama matematika yang sampai saat ini masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh kebanyakan siswa. Hal itu muncul yang salah satunya disebabkan oleh hasil belajar yang diterima oleh siswa ketika guru memberikan tes atau soal.
Dari berbagai jenis evaluasi yang ada dalam pembelajar matematika evaluasi yang sering dilaksanakan oleh guru yaitu evaluasi formatif yaitu dengan memberikan tes formatif setiap selsai menjelaskan materi pelajaran dan bahkan setiap kali selesai satu sub pokok bahasan tertentu dan evaluasi sumatif dengan memberikan tes sumatif yang dilakukan pada proses belajar mengajar secara keseluruhan atau dalam satu unit tertentu, misalnya catur wulan, semester, dan UAS atau AUN.
Pelaksanaan tes formatif itu sendiri yang kalau kita mengacu dengan bpengertian matematika itu sendiri, maka dapat diasumsikan bahwa dengan semakin sering siswa dilatih dalam menyelesaikan tugas-tugas atau permasalahan matematika maka pemahaman anak akan menjadi lebih baik, sehingga mestinya pada saat diberikannya tes sumatif siswa juga harus mendapatkan nilai yang lebih baik pula, akan tetapi berdasarkan observasi yang telah dilakukan di SD Perumnas Condong Catur Yogyakarta Kelas V semester 2 Tahun Ajaran 2007/2008, menunjukkan kenyataan yang berbeda, dimana dari nilai standar minimum bidang studi matematika yang ditetapkan 6 pada saat anak diberikan tes formatif rata-rata nilainya berada diatas nilai standar minimum sementara pada saat diberikan tes sumatif rata-rata nilainya di bawah standar minimum.
Sehingga hal ini menarik untuk diteliti menginga dari hasil penelitian yang ada menyatakan bahwa pelaksanaan tes formatif akan memberikan danpak yang baik terhadap hasil belajar atau nilai akhir siswa pada pelajaran matematika, untuk itu akan diadakannya penelitian tentang pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif siswa Kelas V SD Perumnas Condong Catur Yogyakarta.
D. HIPOTESI PENELITIAN
Dari permaslahan yang ada, maka dapat dibuat hipotesa penelitian, bahwa pelaksanaan tes formatif efektif untuk meningkatkan hasil tes sumatif siswa SD Perumnas Condong Catur Kelas V.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS ATAU DESAIN PENELITIAN
Jenis penelitian ini merupakan penelitian evaluasi dengan metode kuantitatif deskriftif, untuk mengungkapkan gambaran pelaksanaan tes yang telah dilakukan di SD Perumnas condong Catur Yogyakarta kelas V semeseter 2 tahun ajaran 2007/2008 dengan melihat ketercapaian tujuan pelaksanaannya, sehingga model evaluasi yang digunakan yaitu Goal Oriented Evaluation Model, pada model ini yang menjadi objek pengamatan adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan sebelum program dimulai. Data yang akan diperoleh sangat berguna bagi pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan selanjutnya, oleh karena itu evaluasi ini lebih mengarah pada keputusan tentang kelanjutan program, berhenti, atau diteruskan, pengadopsian atau selanjutnya.
kegiatan evaluasi ini akan dilakukan dengan proses pengumpulan, pengorganisasian, penyajian, dan penilaian data atau informasi yang diperoleh melalui kegiatan penelitian. Hasil penelitian dimaksud untu mengetahui sejauh mana tujuan dari pelaksanaan tes sumatif dan tes sumatif telah tercapai sehingga dapat diambil keputusan dan tindak lanjut berikutnya.
B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Perumnas Condong Catur Sleman Yogyakarta kelas 5, yang direncanakan berlangsung selama 2 bulan, yakni mulai bulan Oktober sampai dengan bulan Nopember 2008.
C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
1. Populasi
Populasi penelitian adalah siswa kelas V SD perumnas Condong Catur tahun ajaran 2007/2008 dengan jumlah siswa yaitu 33 orang dimana terdiri dari 9 laki-laki dan 24 perempuan.
2. Sampel
Penentuan sampel yaitu dengan menggunakan pourposive sampling dengan menetapkan seluruh populasi menjadi sampel dalam penelitian ini. Sebab akan memiliki sangkut paut yang erat terhadap ciri-ciri dari sampel yang ada jika diambil semua populasi menjadi sampel penelitian mengingat jumlah populasinya juga yang tidak terlalu banyak yaitu hanya 33 orang, dengan kata lain kriteria –kriteria dari sampel yang akan diambil akan lebih tepat dengan tujuan penelitian jika semua populasi diambil menjadi sampel.
D. Variabel penelitian
Berdasar model evaluasi yang akan digunakan yaitu Goal Oriented Evaluation Model dan gambaran awal yang dijadikan rumusan masalah, maka variabel dalam penelitian ini antara lain :
1. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam penetapan nilai standar minimum pelajaran matematika
2. Kemampuan guru dalam menyusun item soal tes formatif
3. Pembuatan soal tes sumatif
4. Pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif bidang studi matematika kelas V
E. Teknik dan instrumen pengumpulan data
1. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan untuk memperoleh data penelitian ini terdiri dari, observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi, ketiga teknik tersebut akan digunakan secara bertahap dan integratif.
Data yang diperoleh akan segera di analisis untuk mencari jawaban maknanya, walaupun dalam proses juga dilakukan peninjuan ulang berdasarkan data yang diperoleh berdasarkan informasi yang didapatkan, sehinga akan didapatkan data dan jawaban dari permasalahan yang diteliti menjadi lebih valid dan akurat.
2. Instrumen Pengumpulan Data
Berdasarkan teknik pengumpulan data, maka instrumen yang akan digunakan antara lain :
a. Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh data yang objektif tentang kondisi yang sebenarnya terhadap permasalahan penelitian secara lebih terperinci, proses pengambilan data dengan teknik ini dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi yang dilengkapi dengan kriteria penilaian sehingga observer dalam melakukan observasi diharapkan bisa lebih fokus dan dengan melakukan observasi diharpkan observer juga mampu memahami konteks data dan keseluruhan situasi, sehingga evaluator dapat memperoleh pandangan tentang kegiatan secara menyeluruh.
b. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa saja yang terkandung dalam pikiran dan pemahaman responden tentang permasalahan penelitian, sehingga didapatkan data yang lebih lengkap lengkap, proses wawancara dilakukan dengan terlebih dahulu mempersiapkan pedoman wawancara terstruktur, pedoman digunakan sebagai arah agar terfokus pada masalah, selanjutnya wawancara ini digunakan untuk untuk mengetahui secara langsung tentang pertimbangan apa saja yang digunakanuntuk menetapkan nilai standar minimum bidang studi matematika dan pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif.
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan keseluruhan bukti tertulis untuk menjawab permasalahan penelitian dan untuk melengkapi dan memperkuat hasil wawancara yang dilakukan, sehingga dalam evaluasi akan digunakan cek lis untuk mengetahui ketersediaan dan keterlaksanaan tentang hal-hal yang mendukung penetapan nilai standar minimum dan pelaksanaan tes formatif dan sumatif ataupun kejadian-kejadian masa lalu yang tidak dapat diamati oleh peneliti.
d. Angket
Angket merupakan kumpulan pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada responden disertai dengan jawaban tentang pelaksanaan sebuah program. Angket ini digunakan untuk mengetahui tentang pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif berdasarkan kriteria yang telah kita tetapkan dalam angke tersebut, sehingga kita dapat mengumpulkan data yang lebih banyak dan cepat tentang permasalahan penelitian
F. Validitas dan releabilitas instrumen
Instrumen penelitian digunakan untuk mengungkapkan data yang akan diteliti dilapangan. Kualitas hasil penelitian ditentukan oleh kualitas data yang diperoleh. Kualitas data dipengaruhi oleh kualitas instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kualitas instrumen dapat dilihat dari kesahihan dan keandalan instrumen. Untuk membuktikan keandalan dan kesahihan instrumen dapat dilihat dari kesahihan isi, konstruk, dan indeks keandalan instrumen.
1. Validitas Instrumen
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya sebagai alat ukur. Suatu tes atau instrumen pengukuran dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Syaifuin Azwar, 2003 : 5).
Validitas didefinisikan sebagai ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Tes hanya dapat melakukan fungsinya dengan cermat kalau ada sesuatu yang diukurnya. Jadi untuk dikatakan valid, tes harus mengukur sesuatu dan melakukannya dengan cermat. (djemari Mardapi 2004:5)
2. Reliabilitas
Menurut Ebel (1976:275 definisi reliabilitas tes adalah :
”The reliability coefficient for a set of scores from a group of examineers is the coefficient of correlation between that set of scores and another set of scores on an equivalent test obtained independently from the members of the same group”.
Definisi tersebut ada beberapa aspek yang harus dicermati yang juga diperkuat oleh pendapat Grounlund & Linn (1985 : 75) yang menjelaskan :
”(1) Reliability refers to the results obtained with an evaluation instrument and not to the instrument itself, 2) A closely related point is that an estimate of reliability always refers to a particular type of consistency, 3) reliability is a necessary but not a sufficient condition for validity, and 4) reliability is primarily statistical”.
Berdasarkan penjelasan tersebut terlihat bahwa reliabilitas itu tidak menunjuk pada instrumen tetapi pada hasil pengukurannya. Estimasi reliabilitas selalu menunjuk pada tipe konsistensi khusus, reliabilitas merupakan suatu kebutuhan tetapi belum mampu menggantikan validitas, dan reliabilitas mengutamakan statistik (Badrun Kartowagiran, 2006 ; 10).
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang menghasilkan data yang sama apabila dikenakan pada subjek yang sama dalam waktu yang berbeda dengan ketentuan yang jelas.Besarnya indeks reliabilitas suatu instrument adalah menyatakan perbandingan antara varian skor sebenarnya dengan skor hasil pengamatan atau pengukuran.
G. Teknik analisa data
Setelah data terkumpul dan disajikan maka langkah selanjutnya adalah melakukan pembahasan dan interpretasi data dengan maksud agar kebermaknaan data yang didapat dari hasil penelitian/evaluasi lebih jelas dan lebih tajam. Penelitian ini bersifat deskriftif kuantitatif, maksudnya karena data berbentuk kuantitatif maka dapat dilakukan pengolahan data sedangkan data yang berbentuk kualitatif yang tidak bisa dikuantifikasikan dan dihitung secara matematis maka diadakan pemaknaan, penggambaran, penjelasan dan penempatan data pada konteksnya masing-masing. (Suharsimi Arikunto, 2002:208).
Seluruh data yang bersifat kuantitatif yang telah didapatkan dianalisis secara deskriftif kuantitatif yaitu berupa rerata (mean), median, modus, simpangan baku, skor maksimum, skor minimum dalam bentuk tabel dan presentase serta histogram. Penyajian data dalam bentuk presentase dideskripsikan dan diambil kesimpulan tentang masing-masing komponen dan indikator berdasarkan kriteria yang ditentukan.besarnya persentase yang diungkapkan akan langsung dapat diketahui posisi masing-masing aspek dalam keseluruhan maupun bagian permasalahan yang diteliti