Tugas : RANCANGAN INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD
Nama : Alkusaeri
NIM : 07712251012
Inovasi merupakan suatu hal yang bersifat relative dan tergantung pada siapa dan dimana sesuatu hal itu terjadi, karena bisa jadi apa yang baru di kita belum tentu begitu pada orang lain, sehingga tugas ini kami buat berdasarkan apa yang pernah kami pahami terkait dengan pembelajaran matematika.
Matematika, yang menurut Rusfendi (1991), adalah bahasa symbol; ilmu deduktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsure yang tidak didefinisikan ke unsure yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. Sehingga hakekat matematika itu sendiri menurut Soedjadi (2000), yaitu memiliki objek tujuan yang abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.
Berangkat dari definisi matematika di atas, jika dikaitkan dengan pembelajarannya di Sekolah Dasar yang mana pada usia SD menurut Piaget fase pikiran anak-anak masih pada fase oprasional konkrit, maka ini akan menjadi tugas yang cukup berat untuk memberikan pemahaman matematika yang bersifat abstrak kepada anak SD yang masih berfikir kongkrit, akan tetapi sampai saat ini telah banyak usaha dilakukan agar pembelajaran matematika pada Sekolah Dasar dapat berjalan dengan maksimal sesuai dengan karakter siswa pada usia itu, mulai dari kurikulum, bahan ajar, sumber belajar, metode, dll yang terkait dengan itu. Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi perhatian kami, sekaligus menjadi tawaran inovasi terhadap pembelajaran matematika di SD, yaitu tentang buku mata pelajaran dan buku sumber belajar lainnya, seperti LKS.
Terkait dengan hal tersebut, kita berangkat dari sejak ditetapkan KBK sebagai kurikulum resmi yang mana kegiatan belajar mengajar sepenuhnya diatur oleh guru pada sekolah yang bersangkutan dan dengan orientasi anak tidak hanya dijadikan objek tetapi sekaligus objek pembelajaran. Semestinya buku pelajaran dan buku sumber lainnya, antara lain :
1. Dalam pengadaannya tidak bersifat Nasional sehingga seluruh aspek yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunannya juga lebih bersifat umum, akan tetapi minimal oleh BSNP sebagai penilai ahir mengusulkan pada pemerintah agar penyusunan buku pelajaran minimal bersifat regional, sehingga aspek-aspek yang termuat di dalamnya lebih dekat dengan kondisi daerahnya masing-masing.
2. Berkenaan dengan isi buku pelajaran, menurut pertimbangan kami akan lebih bagus dan lebih mengena dengan anak usia SD kalau isi buku pelajaran tersebut selain harus sederhana juga berisi petunjuk-petunjuk permainan ataupun lainnya yang tujuannya agar dapat digunakan sebagai petunjuk mengubah keabstrakan matematika menjadi lebih kongkrit. Tidak hanya berisi soal-soal latihan yang banyak untuk meningkatkan pemahaman anak terutama dengan buku LKS yang kalau kami amati muatannya terdiri dari 10% materi dan 90%nya soal-soal latihan, sehingga anak cendrung merasa bosan.
3. Keterlibatan guru dalam menyusun materi pelajaran lebih dimaksimalkan lagi, karena gurulah yang sebenarnya menjadi ujung tombak segala program perbaikan mutu pendidikan, sehingga kalau guru sendiri masih belum sepenuhnya memahami tentunya akan menjadi lebih sulit, seperti halnya dalam penyusunan silabus KBK ternyata sampai digantikannya menjadi KTSP masih banyak guru yang belum memahami dan mengetahui cara mengimplementasikan KBK yang sebenarnya. Begitu juga sekarang dalam penyusunan buku pelajaran, sebaiknya pemerintah tidak hanya melakukan saimbara nasional penyusunan buku ajar tetapi juga melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka menambah wawasan bagi guru bagaimana menyusun buku ajar yang baik.
Demikian kiranya yang dapat kami tawarkan dalam usaha melakukan perbaikan mutu pendidikan, khususnya pada pembelajaran matematika, yang semata-mata berdasarkan pertimbangan kami sendiri, yang tidak terlepas dari keterbatasan wawasan dan pemahaman kami tentang pendidikan Sekolah Dasar yang baik. Dan semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar