Peta Filsafat
dan Ideologi Pendidikan (Prof. Dr. Marsigit, MA)
Penjelasan tiap komponen Peta Filsafat dan Ideologi pendidikan pada table
di bawah dilakukan berdasarkan hasil
bacaan dari sumber yang masih terbatas, sehingga pendefinisian pada setiap komponen
masih memerlukan perbaikan, sehingga dapat dipahami menjadi lebih baik lagi,
mudah-mudahan penjelasan tetang peta filsafat dan ideology pendidikan di bawah
ini dapat menjadi gambaran awal bagi siapapun yang akan melakukan usaha
pendifinisian menjadi lebih jelas dan lengkap. Terima Kasih
|
Pendidikan
Kapitalisme
|
Pendidikan
Saintisisme
|
Pendidikan
Sosialisme
|
Pendidikan
Spiritualisme
|
Pendidikan
Demokrasi
|
Pendidikan Kontemporer
Indonesia
(Praktek dan Fakta di lapangan)
|
|
|
Filsafat
|
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
|
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
|
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
|
Absolutisme
|
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
|
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
|
|
a) Pendidikan : Kapitalisme, Saintisme, Sosialisme, Demokrasi, dan
Kontemporer Indonesia : Terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan denga doktrin
tertentu pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan
dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang
mempunya tata yang jelas
b)
Pendidikan Spritualisme: Pendidikan yang mengacu pada nilai kebenaran, moral,
dan keindahan yang bersipat mutlak serta berlaku untuk umum. Menunjukkan
bahwa sumber pengetahuan mengacu pada satu nilai tertentu dan harus diakui
secara menyeluruh
|
||||||
|
Ideologi
|
Kapitalisme
Liberalisme
Pragmatisme
Utilitarianisme
Materialisme
|
Kapitalisme
Liberalisme
Pragmatisme
Utilitarianisme
Materialisme
|
Sosialisme
Komunisme
Komunis
|
Fundamen-talisme
|
Demokrasi
|
Kapitalisme
Liberalisme
Pragmatisme
Utilitarianisme
Materialisme
|
|
a)
Pendidikan
Kapitalisme, Saintisme, dan Kontemporer Indonesia : Dualistic absolutism : pengetahuan di batasi oleh dua
hal yaitu benar dan salah yang didasarkan pada otoritas tertentu termasuk
niai moral. (Williams, 1961) (Gordon, 1989), Masyarakat dibagi menjadi strata
dan kelas sosial tertentu, dan yang membedakannya adalah kebaikan dan
pengetahuannya, semua orang berada pada tempatnya masing-masing dan dapat
terangkat melalui sejauh mana dia mampu melaksanakan tugas dan kewajibanya.
Akan tetapi persaingan individu ditentukan oleh kebutuhan pasar yang akan
menentukan posisinya di atas atau di bawah standar.
b)
Pendidikan Sosialisme: Bahwa
pendidikan menjadi alat bagi pemerintah atau kelompok tertentu.
c)
Pendidikan
Demokrasi: Pendidikan yang menjamin keberlangsungan sebuah negara
dan kebebasan pribadi warga negaranya.
|
||||||
|
Politik
|
Demokrasi-Kapital (Korporasi)
Investasi
Pasar Bebas
|
Kapital
Investasi
Pasar bebas
|
Sosialis
Komunis
Proteksi-hegemoni
Demok-Negara
|
Konservatif
|
Demokrasi
Nasionalisme
|
Demokrasi-
Transaksional
Egosentris-Pasar Bebas
|
|
|
a)
P.
Kapitalisme : Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan
kelompok tertentu, sebagai modal bersaing dalam kehidupan gobal
b)
P. Saintisme : pendidikan
diselenggarakan untuk kepentingan tertentu sebagai modal bersaing dalam
kehidupan global
c)
P. Sosialisme: pendidikan
diselenggarakan untuk kepentingan kaum elit, untuk menjaga kekuasaannya
meskipun pada wilayah demokrasi
d)
P. Spritualisme: Pendidikan
yang diselenggarakan tidak harus untuk mencapai perubahan, karena
ketidaksejajaran sudah merupakan hokum alam, bahkan takdir tuhan.
e)
P. Demokrasi: pendidikan
diselenggarakan secara demokrasi melibatkan berbagai unsur untuk meningkatakan
rasa cinta tanah air.
f)
P.
Kontemporer: pendidikan diselenggarakan secara terbuka akan tetapi
dengan tujuan-tujuan tertentu, sehingga dapat melakukan perubahan sesuai
dengan yang dibutuhkan dalam menghadapi persaingan global
|
|||||
|
Moral
|
Relatif
Hedonisme
|
Relatif
Hedonisme
|
Egosentris
Deontologi
|
Absolut
Spiritual
|
Moral
Deontologi
|
Krisis Multidimensi
|
|
a)
Relatif, Hedonisme : Prinsip-prinsip utamanya adalah kebebasan,
individualisme, ketimpangan, dan Persaingan. Kesalahan dasar manusia
diartikan sebagai regulasi dalam persaingan yang ketat. Dengan demikian dalam
hidup tidaklah ada sesuatu yang absolute, kehidupan dimaknai sebagai usaha
untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekayaan (materialistis) karena itulah
yang akan membuat manusia senang.
b)
Egosentris : Bahwa setiap orang berpikir tentang orang lain menurut sudut pandang
masing-masing, sejauh mana orang lain menunjukkan kelibihannya, maka seperti
itu juga orang lain menilai dirinya.
c)
Deontologi : Sistem moral yang menekankan pada aturan-aturan yang bersifat independent
serta alasan mengapa hal tersebut harus dilakukan.
d)
Absolut,
Spritual: Manusia tunduk pada standar tertentu yang dating dari
tuhan serta berlaku secara universal, dan tidak akan berubah berdasarkan
zaman, perkembangan manusia, ataupun dampak dari prilaku.
e)
Krisis
Multidimensi : kondisi dimana tatanan nilai mengalami degredasi di
berbagai aspek kehidupan, hal itulah yang dianggap menjadi tanggung jawab
pendidikan.
|
||||||
|
Sosial
|
Alienasi
Multikultur
Global-sistemik-networking
|
Alienasi
Multikultur
Global-sistemik-networking
|
Dealienasi
Monokultur
Egaliter
Elitisme
|
Dealienasi
Monokultur
Egaliter
Elitisme
|
Alienasi
Multikultur
|
Primordial
Kolusi
Nepotisme
Korupsi
Local-intrinsic-networking
|
|
a)
Alienasi,
Multikultural Global, Sistemik-Networking : alienasi
atau keterasingan Binswanger (dalam Koeswara, 1987:24), kondisi dimana
masyarakat merasa asing dengan dirinya sendiri dan tunduk pada kekuatan luar,
akibat mengglobalnya kebudayaan yang terdapat pada masyarakat tertentu, dan
mempengaruhi seluruh masyarakat secara sistemik.
b)
Dealienasi,
Monokulture, Egaliter, Elitisme :Kondisi dimana masyarakat
menjunjung kesetaraan akan tetapi dengan alasan tertentu terus berusaha
menguatkan posisinya, sehingga dapat mencapai posisi yang lebih tinggi dari
yang lainnya.
c)
Primordial,
Kolusi, Nepotisme, Korupsi, Local-intrinsic-networking : pendidikan
yang diselenggarakan berdasarkan ikatan kesukuan atau kelompok, sehingga
kewenangan di berikan kepada orang tertentu atas dasar kepentingan kelompok
tertentu, sehingga memunculkan prilaku Kolusi, nepotisme dan korupsi.
|
||||||
|
Budaya/
Karakter |
Pos Modern
Kontemporer
|
Pos Modern
Kontemporer
|
Modern
Klasik
|
Tradisional
Klasik
|
Modern
Pos Modern
|
Pos Modern
Konpemporer
|
|
a)
P. Kapitalis, Saintisme, dan Kontemporer : pluralis atau sikap hormat kepada perbedaan dan
penghargaan kepada yang khusus (partikular dan lokal) serta membuang yang
universal, sehingga menjadi sebuah nilai yang baru.
b)
P. Sosialisme: Nilai dikembangkan berdasarkan makna yang dapat diterima secara logis
berdasarkan nilai warisan budaya.
c)
P. Spritualisme: Nilai masih mengacu pada norma-norma, adat istiadat
dan agama dalam membentuk prilaku kita terhadap sesama
|
||||||
|
Ilmu
|
Disiplin
|
Disiplin
|
Disiplin
|
Absolut
|
Kreatif
Interaktif
Aktivitas sosial |
Disiplin-Egosentris
|
|
Pendidikan haruslah menghasilkan karakter sosial yaitu
kebiasaan untuk hidup secara teratur, taat, dan usaha yang terlatih
(terampil). (Williams, 1961, halaman
162).
a)
Disiplin : Pengetahuan dihasilkan dari proses latihan yang keras dan dilaksanakan
berdasarkan aturan yang ada.
b)
Absolut : Pengutahuan sudah tersedia sebelumnya, siswa diarahkan memahami dengan
sebaik-baiknya
c)
P. Demokrasi : Pengetahuan bersumber dari lingkungan sekitar, untuk itu diperlukan
interaksi antar pikiran dan realitas yang terjadi, sehingga anak dituntut
untuk menjadi lebih kreatif.
d)
P. Kontemporer: Pengetahuan dihasilkan dari proses latihan
berdasarkan kebutuhan dan sudut pandangnya sendiri.
|
||||||
|
Epistemologi
Pendidikan
|
Pendidikan Laskar
Indoktrinasi
|
Pendidikan Laskar
Fenomenologi
|
Pendidikan Laskar
Indoktrinasi
|
Pendidikan Laskar
Indoktrinasi
|
Pendidikan Utk Semua
Fenomenologi
|
Pendidikan Laskar
Indoktrinasi
|
|
a)
Pendidikan
Laskar, Indoktrinisasi : Pengetahuan itu bersifat otoritas,
bersumber dari al-kitab atau ahli (Paul Ernest), untuk itu anak harus
dijadikan mampu menemukan sebuah kebenaran dan menjadi terampil untuk
kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.
b)
Pendidikan
Laskar, Fenomenologi: Pendidkan merupakan proses
pembiasaan agar siswa menjadi terampil dan taat berdasarkan kondisi
lingkungan sekitar.
c)
Pendidikan
Untuk semua, Fenomenologi : pendidikan merupakan hak semua
orang dan tidak hanya didapatkan disekolah, pendidikan dapat juga diraih
melalui fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar
|
||||||
|
Kurikulum
|
Sbg Instrumen
Negara
|
Sbg Instrumen
Negara
|
Sbg Instrumen
Negara
|
Sbg Instrumen
|
Sebagai Kebutuhan
|
Instrumen Egosentris
|
|
a)
Sebagai
Instrumen : karena pendidikan ditujukan untuk mencapai tujuan
tertentu berdasarkan kebutuhan kerja.
b)
Sebagai
Kebutuhan : Pandangan bahwa pendidikan merupakan sebuah kegiatan
terencana untuk mencapai tujuan.
c)
Egosentris: kurikulum
di susun untuk ketercapaian tujuan yang diinginkan.
|
||||||
|
Tujuan
Pendidikan
|
Investasi
Status quo
|
Investasi
Relatif Absolut
|
Hegemoni
Egosentris
Status quo
|
Mono-dualis
Status quo
|
Pembebasan
Kebutuhan
Reformasi
|
Investasi
Egosentris Status quo |
|
a)
P. Kapitalis: Pendidikan
dijadikan sebagai alat untuk mempersiapkan individu yang memiliki kemampuan
dan keterampilan, sehingga nantinya dapat menguasi kehidupannya sendiri dan
mengambil peran dominan di tengah-tengah masyarakat.
b)
P. Saintisme : pendidikan
sebagai bekal bagi siswa untuk menghadapi berbagai fenomena yang terus
berubah dan berlaku mutlak.
c)
P. Sosialisme: pendidikan
untuk dapat menguasai kehidupan menurut persepsi sendiri, sehingga dapat
menguasai keadaan
d)
P.
Spritualisme: pendidikan untuk menemukan kebenaran yang tunggal
melalui dua standar nilai, pada akhirnya siswa mampu memahami kebenaran itu
secara utuh.
e)
P.
Kontemporer: pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan siswa agar
dapat memaknai kehidupannya sendiri, sehingga dapat menguasai keadaan yang
berkembang dilingkungan sekitar
|
||||||
|
Teori Mengajar
|
Berbasis Riset
Behaviorisme
Knowle-Based
|
Investigasi
Behaviorisme Knowle-Based
|
Transfer of knowledge
Behaviorisme
|
Ekspositori
Behaviorisme
|
Konstruktivis
Interaktif
|
Trans of know.
Ekspositori
Behaviorisme
|
|
Keahlian menyampaikan
materi; motivasi mengajar, survei pendapat masyarakat dapat dijadikan sebagai
sumber belajar yang menarik menarik untuk melakukan investigasi, membuat permainan,
dalam melakukan kegiatan mengajar. (Lawlor, 1988, halaman 13-14)
a)
P. Kapitalisme : mengajar
dilakukan berdasarkan pengetahuan dalam mengamati prilaku sebagai bahan
kajian materi pelajaran. Sehingga didapatkan pengetahuan yang dapat terbukti
secara sitematis dan ilmiah
b)
P. Saintisme : Mengajar
dilakukan berdasarkan pengetahuan untuk mengamati dan mengidentifikasi
prilaku.
c)
P. Sosialisme: Mengajar
merupakan proses transfe pengetahuan berdasarkan prilaku yang muncul
d)
P.
Spritualisme: mengajar merupakan proses transfer pengetahuan dari
yang ahli kepada yang kurang mengetahui, melalui pengamatan prilaku atau
kondisioning.
e)
P. Demokrasi: Siswa
diarahkan untuk mampu membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksinya
dengan lingkungan sekitar ataupun di dalam kelas dengan guru dan temannya.
f)
P.
Kontemporer: Proses mentransformasi pengetahuan dari guru kepada
siswa melalui kondisi yang sengaja dibentuk.
|
||||||
|
Teori Belajar
|
Modeling
Motivasi-Eksternal
|
Eksplorasi
Motivasi-Eksternal
|
Modeling
Motivasi-Eksternal
|
Modeling
Motivasi-spiritual
|
Otonomi
Motivasi-intern
Konstruktivis
|
Modeling
Motivasi-eksternal
|
|
Tidak ada
alasan untuk membayangkan bahwa siswa belajar dari berbicara ... Akuisisi
pengetahuan memerlukan usaha dan konsentrasi. Kecuali anak-anak dilatih untuk
berkonsentrasi dan membuat usaha untuk menguasai pengetahuan akan tetapi akan
terasa berat. (Lawlor, 1988, halaman 18-19)
a)
P. Kapitalis,
Sosialisme dan kontemporer (Modeling, Motivasi eksternal) : Belajar
dilakukan melalui simulasi kasus tertentu, sehingga siswa dapat memahami
kondisi sebenarnya. Ha tersebut dilakukan sebagai respon memnuhi kebutuhan
hidup orang banyak.
b)
Eksplorasi,
Motivasi eksternal: Belajar adalah proses manipulasi yang melibatkan
siswa secara langsung dan hasilnya dinilai secara Otentik dilakukan
berdasarkan kebutuhan masyarakat sekitar.
c)
Modeling,
Motivasi Spritual : proses belajar melalui kasus tertentu, sehingga
siswa dapat memahami keagungan tuhan.
d)
Modeling,
Motivasi-Intrem Konstruktivis : Pemanfaatan kasus nyata untuk
mengkonstruksi pemahaman siswa.
|
||||||
|
Peran
Guru |
Think Tank
Pengambang-terkendali
|
ThinkTank
Pelaksana
|
Think Tank
Pelaksana-terkendali
|
Model
Pelaksana-terkendali
|
Fasilitator
Pengembang
|
Think Tank
Pelaksana-terkendali
|
|
Guru sebagai
pengendali harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan proses dan bahan
belajar “Adalah kualitas guru yang
penting, daripada ... peralatan mereka.” (Cox dan Boyson, 1975, halaman 1).
a)
Tink Tank :
menunjukkan guru merupakan figure yang dominan dalam hal pengetahuan
b)
Fasilitator,
Pengembang : guru berposisi sebagai perantara bagi siswa untuk
memahami materi pelajarannya serta mengarahkan siswa untuk mengembangkan
pemahamannya
c)
Pelaksana-terkendali : Guru
mengatur seluruh kegitan mengajar agar tercipta kondisi belajar yang kondusif
|
||||||
|
Kedudukan Siswa
|
Empty Vessel
|
Empty Vessel
|
Empty Vessel
|
Empty Vessel
|
Aktor Belajar
|
Empty Vessel
|
|
a)
Empty Vassel: Anak,
seperti seluruh umat manusia, sudah dikotori oleh dosa asal, dan dicangkokkan
dengan mudah ke dalam bermain, kemalasan dan kejahatan kecuali dikontrol dan
disiplin. Otoritas ketat diperlukan sebagai panduan, dan ‘seseorang harus
kejam untuk bersikap baik’. Persaingan diperlukan untuk membawa keluar yang terbaik
secara individu, hanya melalui kompetisi akan mereka termotivasi untuk
unggul.
b)
Aktor Belajar: Siswa
merupakan subyek belajar.
|
||||||
|
Teori Evaluasi
|
Eksternal
Ujian Nasional
|
Eksternal
Ujian Nasional
|
Eksternal
Ujian Nasioal
|
Evaluasi-Intrinsik
|
Penilaian-Berbasis Kelas
PortoFolio
Otentik-Asesm
|
Egosentris-
Eksternal
Ujian Nasional
|
|
a)
Eksternal, UN :
Dikarenakan tujuan pendidikannya adalah untuk menyiapkan siswa menjadi
individu yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan
kebutuhan pasar, maka evaluasinyapun dilakukan oleh pasar (unsur luar) baik
itu melalui pengguna ataupun pemerintah.
b)
Evaluasi-Intrinsik : bentuk evaluasi yang mengevaluasi tujua, struktur,
metodologi, kualifikasi dan sikap siswa, serta pengakuan masyarakat.
c)
P.
Spritualisme : peniaian dilakukan berdasarkan bukti kerja dan
dilakukan secara objektif, untuk mengukur tingkat pemahaman siswa
d)
Egosentris-Eksternal,
UN : Peniaian dilakukan berdasarkan standar dari pengguna
lulusan dan dilakukan pada akhir proses pendidikan sebagai tolak ukur tingkat
penguasaan siswa
|
||||||
|
Sumber/Alat Belajar
|
ICT
|
ICT
|
Media/Alat Peraga
|
Tradisional
|
Kreativitas Guru
|
Paket Pemerintah
|
|
a)
P.
Kapitalisme dan Saintisme : Paradigm pendidikan yang harus
memenuhi kebutuhan pasar membawa pendidikan harus searas dengan kemajuan
tekhnoogi, maka untuk melatih kemampuan tersebut, media belajar yang
digunakan dominan menggunakan sumber yang berbasis ICT
b)
P. Sosialisme: sumber belajar
dapat berasal dari alat peraga yang dibuat secara manual
c)
P.
Spritualisme: materi pelajaran diambil dari sumber-sumber yang
sudah tersedia dan dianggap otentik
d)
P. Demokratis: guru
dibebaskan untuk melakukan inovasi pembelajaran, sehingga tidak terpaku pada
sumber tertentu
e)
P.
Kontemporer : Pemerintah sudah menyediakan seluruh perangkat yang
akan dibutuhkan oleh guru sebagai sumber dan alat belajar
|
||||||
Link Sumber Bacaan :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar