Senin, 09 Maret 2015

Peta Filsafat dan Ideologi Pendidikan



Peta Filsafat dan Ideologi Pendidikan (Prof. Dr. Marsigit, MA)
Penjelasan tiap komponen Peta Filsafat dan Ideologi pendidikan pada table di bawah  dilakukan berdasarkan hasil bacaan dari sumber yang masih terbatas, sehingga pendefinisian pada setiap komponen masih memerlukan perbaikan, sehingga dapat dipahami menjadi lebih baik lagi, mudah-mudahan penjelasan tetang peta filsafat dan ideology pendidikan di bawah ini dapat menjadi gambaran awal bagi siapapun yang akan melakukan usaha pendifinisian menjadi lebih jelas dan lengkap. Terima Kasih


Pendidikan
Kapitalisme

Pendidikan
Saintisisme

Pendidikan
Sosialisme
 
Pendidikan
Spiritualisme

Pendidikan
Demokrasi
Pendidikan Kontemporer
Indonesia
(Praktek dan Fakta di lapangan)
Filsafat
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
Absolutisme
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
Esensialisme
Realisme
Esistensialisme
a)       Pendidikan : Kapitalisme, Saintisme, Sosialisme, Demokrasi, dan Kontemporer Indonesia : Terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan denga doktrin tertentu pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunya tata yang jelas
b)       Pendidikan Spritualisme: Pendidikan yang mengacu pada nilai kebenaran, moral, dan keindahan yang bersipat mutlak serta berlaku untuk umum. Menunjukkan bahwa sumber pengetahuan mengacu pada satu nilai tertentu dan harus diakui secara menyeluruh
Ideologi
Kapitalisme
Liberalisme
Pragmatisme
Utilitarianisme
Materialisme
Kapitalisme
Liberalisme
Pragmatisme
Utilitarianisme
Materialisme
Sosialisme
Komunisme
Komunis
                         
Fundamen-talisme
Demokrasi
Kapitalisme
Liberalisme
Pragmatisme
Utilitarianisme
Materialisme
a)        Pendidikan Kapitalisme, Saintisme, dan Kontemporer Indonesia : Dualistic absolutism : pengetahuan di batasi oleh dua hal yaitu benar dan salah yang didasarkan pada otoritas tertentu termasuk niai moral. (Williams, 1961) (Gordon, 1989), Masyarakat dibagi menjadi strata dan kelas sosial tertentu, dan yang membedakannya adalah kebaikan dan pengetahuannya, semua orang berada pada tempatnya masing-masing dan dapat terangkat melalui sejauh mana dia mampu melaksanakan tugas dan kewajibanya. Akan tetapi persaingan individu ditentukan oleh kebutuhan pasar yang akan menentukan posisinya di atas atau di bawah standar.
b)       Pendidikan Sosialisme: Bahwa pendidikan menjadi alat bagi pemerintah atau kelompok tertentu.
c)        Pendidikan Demokrasi: Pendidikan yang menjamin keberlangsungan sebuah negara dan kebebasan pribadi warga negaranya.
Politik
Demokrasi-Kapital (Korporasi)
Investasi
Pasar Bebas
Kapital

Investasi

Pasar bebas
Sosialis
Komunis
Proteksi-hegemoni
Demok-Negara
Konservatif
Demokrasi

Nasionalisme
Demokrasi-
Transaksional

Egosentris-Pasar Bebas

a)        P. Kapitalisme : Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan kelompok tertentu, sebagai modal bersaing dalam kehidupan gobal
b)       P. Saintisme : pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan tertentu sebagai modal bersaing dalam kehidupan global
c)        P. Sosialisme: pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan kaum elit, untuk menjaga kekuasaannya meskipun pada wilayah demokrasi
d)       P. Spritualisme: Pendidikan yang diselenggarakan tidak harus untuk mencapai perubahan, karena ketidaksejajaran sudah merupakan hokum alam, bahkan takdir tuhan.
e)        P. Demokrasi: pendidikan diselenggarakan secara demokrasi melibatkan berbagai unsur untuk meningkatakan rasa cinta tanah air.
f)        P. Kontemporer: pendidikan diselenggarakan secara terbuka akan tetapi dengan tujuan-tujuan tertentu, sehingga dapat melakukan perubahan sesuai dengan yang dibutuhkan dalam menghadapi persaingan global
Moral
Relatif
Hedonisme
Relatif
Hedonisme
Egosentris
Deontologi
Absolut
Spiritual
Moral
Deontologi
Krisis Multidimensi
a)        Relatif, Hedonisme : Prinsip-prinsip utamanya adalah kebebasan, individualisme, ketimpangan, dan Persaingan. Kesalahan dasar manusia diartikan sebagai regulasi dalam persaingan yang ketat. Dengan demikian dalam hidup tidaklah ada sesuatu yang absolute, kehidupan dimaknai sebagai usaha untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekayaan (materialistis) karena itulah yang akan membuat manusia senang.
b)       Egosentris : Bahwa setiap orang berpikir tentang orang lain menurut sudut pandang masing-masing, sejauh mana orang lain menunjukkan kelibihannya, maka seperti itu juga orang lain menilai dirinya.
c)        Deontologi : Sistem moral yang menekankan pada aturan-aturan yang bersifat independent serta alasan mengapa hal tersebut harus dilakukan.
d)       Absolut, Spritual: Manusia tunduk pada standar tertentu yang dating dari tuhan serta berlaku secara universal, dan tidak akan berubah berdasarkan zaman, perkembangan manusia, ataupun dampak dari prilaku.
e)        Krisis Multidimensi : kondisi dimana tatanan nilai mengalami degredasi di berbagai aspek kehidupan, hal itulah yang dianggap menjadi tanggung jawab pendidikan.
Sosial
Alienasi
Multikultur
Global-sistemik-networking
Alienasi
Multikultur
Global-sistemik-networking
Dealienasi
Monokultur
Egaliter
Elitisme
Dealienasi
Monokultur
Egaliter
Elitisme
Alienasi

Multikultur
Primordial
Kolusi
Nepotisme
Korupsi
Local-intrinsic-networking
a)        Alienasi, Multikultural Global, Sistemik-Networking : alienasi atau keterasingan Binswanger (dalam Koeswara, 1987:24), kondisi dimana masyarakat merasa asing dengan dirinya sendiri dan tunduk pada kekuatan luar, akibat mengglobalnya kebudayaan yang terdapat pada masyarakat tertentu, dan mempengaruhi seluruh masyarakat secara sistemik.
b)       Dealienasi, Monokulture, Egaliter, Elitisme :Kondisi dimana masyarakat menjunjung kesetaraan akan tetapi dengan alasan tertentu terus berusaha menguatkan posisinya, sehingga dapat mencapai posisi yang lebih tinggi dari yang lainnya.
c)        Primordial, Kolusi, Nepotisme, Korupsi, Local-intrinsic-networking : pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan ikatan kesukuan atau kelompok, sehingga kewenangan di berikan kepada orang tertentu atas dasar kepentingan kelompok tertentu, sehingga memunculkan prilaku Kolusi, nepotisme dan korupsi.
Budaya/
Karakter

Pos Modern
Kontemporer
Pos Modern
Kontemporer
Modern
Klasik
Tradisional
Klasik
Modern
Pos Modern
Pos Modern
Konpemporer
a)        P. Kapitalis, Saintisme, dan Kontemporer : pluralis atau sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus (partikular dan lokal) serta membuang yang universal, sehingga menjadi sebuah nilai yang baru.
b)       P. Sosialisme: Nilai dikembangkan berdasarkan makna yang dapat diterima secara logis berdasarkan nilai warisan budaya.
c)        P. Spritualisme: Nilai masih mengacu pada norma-norma, adat istiadat dan agama dalam membentuk prilaku kita terhadap sesama
Ilmu
Disiplin
Disiplin
Disiplin
Absolut
Kreatif
Interaktif
Aktivitas sosial
Disiplin-Egosentris
Pendidikan haruslah menghasilkan karakter sosial yaitu kebiasaan untuk hidup secara teratur, taat, dan usaha yang terlatih (terampil).  (Williams, 1961, halaman 162).
a)        Disiplin : Pengetahuan dihasilkan dari proses latihan yang keras dan dilaksanakan berdasarkan aturan yang ada.
b)       Absolut : Pengutahuan sudah tersedia sebelumnya, siswa diarahkan memahami dengan sebaik-baiknya
c)        P. Demokrasi : Pengetahuan bersumber dari lingkungan sekitar, untuk itu diperlukan interaksi antar pikiran dan realitas yang terjadi, sehingga anak dituntut untuk menjadi lebih kreatif.
d)       P. Kontemporer: Pengetahuan dihasilkan dari proses latihan berdasarkan kebutuhan dan sudut pandangnya sendiri.
Epistemologi
Pendidikan

Pendidikan Laskar

Indoktrinasi
Pendidikan Laskar

Fenomenologi
Pendidikan Laskar

Indoktrinasi
Pendidikan Laskar

Indoktrinasi
Pendidikan Utk Semua

Fenomenologi
Pendidikan Laskar

Indoktrinasi
a)        Pendidikan Laskar, Indoktrinisasi : Pengetahuan itu bersifat otoritas, bersumber dari al-kitab atau ahli (Paul Ernest), untuk itu anak harus dijadikan mampu menemukan sebuah kebenaran dan menjadi terampil untuk kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.
b)       Pendidikan Laskar, Fenomenologi: Pendidkan merupakan proses pembiasaan agar siswa menjadi terampil dan taat berdasarkan kondisi lingkungan sekitar.
c)        Pendidikan Untuk semua, Fenomenologi : pendidikan merupakan hak semua orang dan tidak hanya didapatkan disekolah, pendidikan dapat juga diraih melalui fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar
Kurikulum
Sbg Instrumen
Negara
Sbg Instrumen
Negara
Sbg Instrumen
Negara
Sbg Instrumen
Sebagai Kebutuhan
Instrumen Egosentris
a)        Sebagai Instrumen : karena pendidikan ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu berdasarkan kebutuhan kerja.
b)       Sebagai Kebutuhan : Pandangan bahwa pendidikan merupakan sebuah kegiatan terencana untuk mencapai tujuan.
c)        Egosentris: kurikulum di susun untuk ketercapaian tujuan yang diinginkan.
Tujuan
Pendidikan
Investasi
Status quo
Investasi
Relatif Absolut
Hegemoni
Egosentris
Status quo
Mono-dualis
Status quo
Pembebasan
Kebutuhan
Reformasi
Investasi
Egosentris
Status quo
a)        P. Kapitalis: Pendidikan dijadikan sebagai alat untuk mempersiapkan individu yang memiliki kemampuan dan keterampilan, sehingga nantinya dapat menguasi kehidupannya sendiri dan mengambil peran dominan di tengah-tengah masyarakat.
b)       P. Saintisme : pendidikan sebagai bekal bagi siswa untuk menghadapi berbagai fenomena yang terus berubah dan berlaku mutlak.
c)        P. Sosialisme: pendidikan untuk dapat menguasai kehidupan menurut persepsi sendiri, sehingga dapat menguasai keadaan
d)       P. Spritualisme: pendidikan untuk menemukan kebenaran yang tunggal melalui dua standar nilai, pada akhirnya siswa mampu memahami kebenaran itu secara utuh.
e)        P. Kontemporer: pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan siswa agar dapat memaknai kehidupannya sendiri, sehingga dapat menguasai keadaan yang berkembang dilingkungan sekitar

Teori Mengajar
Berbasis Riset
Behaviorisme
Knowle-Based
Investigasi
Behaviorisme Knowle-Based
Transfer of knowledge
Behaviorisme
Ekspositori

Behaviorisme
Konstruktivis
Interaktif
Trans of know.
Ekspositori
Behaviorisme
Keahlian menyampaikan materi; motivasi mengajar, survei pendapat masyarakat dapat dijadikan sebagai sumber belajar yang menarik menarik untuk melakukan investigasi, membuat permainan, dalam melakukan kegiatan mengajar. (Lawlor, 1988, halaman 13-14)
a)        P. Kapitalisme : mengajar dilakukan berdasarkan pengetahuan dalam mengamati prilaku sebagai bahan kajian materi pelajaran. Sehingga didapatkan pengetahuan yang dapat terbukti secara sitematis dan ilmiah
b)       P. Saintisme : Mengajar dilakukan berdasarkan pengetahuan untuk mengamati dan mengidentifikasi prilaku.
c)        P. Sosialisme: Mengajar merupakan proses transfe pengetahuan berdasarkan prilaku yang muncul
d)       P. Spritualisme: mengajar merupakan proses transfer pengetahuan dari yang ahli kepada yang kurang mengetahui, melalui pengamatan prilaku atau kondisioning.
e)        P. Demokrasi: Siswa diarahkan untuk mampu membangun sendiri pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan sekitar ataupun di dalam kelas dengan guru dan temannya.
f)        P. Kontemporer: Proses mentransformasi pengetahuan dari guru kepada siswa melalui kondisi yang sengaja dibentuk.
Teori Belajar
Modeling
Motivasi-Eksternal
Eksplorasi
Motivasi-Eksternal
Modeling
Motivasi-Eksternal
Modeling
Motivasi-spiritual
Otonomi
Motivasi-intern
Konstruktivis
Modeling
Motivasi-eksternal
Tidak ada alasan untuk membayangkan bahwa siswa belajar dari berbicara ... Akuisisi pengetahuan memerlukan usaha dan konsentrasi. Kecuali anak-anak dilatih untuk berkonsentrasi dan membuat usaha untuk menguasai pengetahuan akan tetapi akan terasa berat. (Lawlor, 1988, halaman 18-19)
a)        P. Kapitalis, Sosialisme dan kontemporer (Modeling, Motivasi eksternal) : Belajar dilakukan melalui simulasi kasus tertentu, sehingga siswa dapat memahami kondisi sebenarnya. Ha tersebut dilakukan sebagai respon memnuhi kebutuhan hidup orang banyak.
b)       Eksplorasi, Motivasi eksternal: Belajar adalah proses manipulasi yang melibatkan siswa secara langsung dan hasilnya dinilai secara Otentik dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat sekitar.
c)        Modeling, Motivasi Spritual : proses belajar melalui kasus tertentu, sehingga siswa dapat memahami keagungan tuhan.
d)       Modeling, Motivasi-Intrem Konstruktivis : Pemanfaatan kasus nyata untuk mengkonstruksi pemahaman siswa.
Peran
Guru
Think Tank
Pengambang-terkendali
ThinkTank

Pelaksana
Think Tank
Pelaksana-terkendali
Model
Pelaksana-terkendali
Fasilitator

Pengembang
Think Tank
Pelaksana-terkendali
Guru sebagai pengendali harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan proses dan bahan belajar  “Adalah kualitas guru yang penting, daripada ... peralatan mereka.” (Cox dan Boyson, 1975, halaman 1).
a)        Tink Tank : menunjukkan guru merupakan figure yang dominan dalam hal pengetahuan
b)       Fasilitator, Pengembang : guru berposisi sebagai perantara bagi siswa untuk memahami materi pelajarannya serta mengarahkan siswa untuk mengembangkan pemahamannya
c)        Pelaksana-terkendali : Guru mengatur seluruh kegitan mengajar agar tercipta kondisi belajar yang kondusif
Kedudukan Siswa
Empty Vessel

Empty Vessel
Empty Vessel
Empty Vessel
Aktor Belajar
Empty Vessel
a)        Empty Vassel: Anak, seperti seluruh umat manusia, sudah dikotori oleh dosa asal, dan dicangkokkan dengan mudah ke dalam bermain, kemalasan dan kejahatan kecuali dikontrol dan disiplin. Otoritas ketat diperlukan sebagai panduan, dan ‘seseorang harus kejam untuk bersikap baik’. Persaingan diperlukan untuk membawa keluar yang terbaik secara individu, hanya melalui kompetisi akan mereka termotivasi untuk unggul.
b)       Aktor Belajar: Siswa merupakan subyek belajar.
Teori Evaluasi

Eksternal
Ujian Nasional
Eksternal
Ujian Nasional
Eksternal
Ujian Nasioal
Evaluasi-Intrinsik
Penilaian-Berbasis Kelas
PortoFolio
Otentik-Asesm
Egosentris-
Eksternal

Ujian Nasional
a)        Eksternal, UN : Dikarenakan tujuan pendidikannya adalah untuk menyiapkan siswa menjadi individu yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar, maka evaluasinyapun dilakukan oleh pasar (unsur luar) baik itu melalui pengguna ataupun pemerintah.
b)       Evaluasi-Intrinsik : bentuk evaluasi yang mengevaluasi tujua, struktur, metodologi, kualifikasi dan sikap siswa, serta pengakuan masyarakat.
c)        P. Spritualisme : peniaian dilakukan berdasarkan bukti kerja dan dilakukan secara objektif, untuk mengukur tingkat pemahaman siswa
d)       Egosentris-Eksternal, UN : Peniaian dilakukan berdasarkan standar dari pengguna lulusan dan dilakukan pada akhir proses pendidikan sebagai tolak ukur tingkat penguasaan siswa
Sumber/Alat Belajar

ICT
ICT
Media/Alat Peraga
Tradisional
Kreativitas Guru
Paket Pemerintah
a)        P. Kapitalisme dan Saintisme : Paradigm pendidikan yang harus memenuhi kebutuhan pasar membawa pendidikan harus searas dengan kemajuan tekhnoogi, maka untuk melatih kemampuan tersebut, media belajar yang digunakan dominan menggunakan sumber yang berbasis ICT
b)       P. Sosialisme: sumber belajar dapat berasal dari alat peraga yang dibuat secara manual
c)        P. Spritualisme: materi pelajaran diambil dari sumber-sumber yang sudah tersedia dan dianggap otentik
d)       P. Demokratis: guru dibebaskan untuk melakukan inovasi pembelajaran, sehingga tidak terpaku pada sumber tertentu
e)        P. Kontemporer : Pemerintah sudah menyediakan seluruh perangkat yang akan dibutuhkan oleh guru sebagai sumber dan alat belajar

Link Sumber Bacaan :

Tidak ada komentar: