Nama : Alkusairi Jurusan: Pendidikan Dasar (matematika SD)
NIM : 07712251012 Mata Kuliah:Pembelajaran Matematika SD
Semester : III (Tiga) Dosen: Dr. Marsigit
1. Jelaskan hakekat matematika sekolah
Kebanyakan ahli sepakat bahwa suatu pengetahuan disebut ilmu apabila lahir dan suatu kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah bertumpu pada metode ilmiah, yang langkah-langkah utamanya membuat hipotesis, mengumpulkan data, melakukan percobaan (untuk menguji hipotesis), dan membuat kesimpulan. Apabila kita berketetapan suatu ilmu hams lahir dan metode ilmiah, maka matematika bukanlah ilmu.
Matematika merupakan buah pikir manusia yang kebenarannya bersifat umum (deduktif). Kebenarannya tidak bergantung pada metode ilmiah yang mengandung proses induktif. Kebenaran matematika pada dasarnya bersifat koheren. Seperti yang dikenal dalam dunia ilmu, terdapat tiga macam jenis kebenaran: (1) kebenaran koherensi atau konsistensi yaitu kebenaran yang didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang telah diterima sebelumnya, (2) kebenaran korelasional, yaitu kebenaran yang didasarkan pada “kecocokan” dengan realitas atau kenyataan yang ada, serta (3) kebenaran pragmatis, yaitu kebenaran yang didasarkan atas manfaat atau kegunaannya.
Matematika sebagai ilmu dasar dewasa ini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya. Oleh karena, matematika dijadikan salah satu mata pelajaran poko di setiap jenjang penddikan yaitu dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan atas (SLTA), untuk itu dalam pembelajarannya di sekolah sangatlah perlu diperhatikan perkembangannya baik di masa lalu, sekarang maupun kemungkinan untuk masa depan. “Matematika yang diajarkan di pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (SLTA) biasa disebut dengan matematika sekolah”. (Soedjadi, 2000:37)
2. Jelaskan hakekat siswa belajar matematika
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah memiliki karakteristik tertentu. menurut Soedjadi (2000:13) bebrapa karakteristik matematika adalah : (a) memiliki objek kajian abstrak, (b) bertumpu pada kesepakatan, (c) berpola piker deduktif, (d) memiliki symbol yang kosong dari arti, (e) memperhatikan semesta pembicaraan, dan (f) konsisten dalam sistemnya. Adapun fungsi mata pelajaran matematika adalah sebagai alat, pola piker, dan ilmu atau pengetahhuan (Suherman, 2003:76).
Dari beberapa pengertian matematika di atas, maka hakekat siswa belajar matematika merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun penalaran suatu hubungan di antara pengertian-pengertian itu. Oleh karena itu para siswa perlu dibiasakan untuk memperoleh pamhaman melalui pengalaman abstraksi tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek. Berdsarkan pengamatan tersebut diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep. Siswa juga dilatih untuk membuat perkiraan, terkaan atau kecendrungan berdasarkan pengalaman atau pengetahuannya.
3. Sebutkan beberapa standar kompetensi matematika SD
Ada beberapa standar Kompetensi pembelajaran matematika di SD, antara lain :
a. Memahami konsep bilangan bulat dan pecahan, operasi hitung dan sifat-sifatnya, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari
b. Memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur-unsur dan sifatnya, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehhidupan sehari-hari.
c. Memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu, kecepatan, debit, serta mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
d. Memahami konsep koordinat untuk menentukan letak benda dan menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
e. Memahami konsep pengumpulan data, penyajian data dengan tabel, gambar dan grafik (diagram0, mengurutkan data, rentang data, rerata hitung, modus, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
f. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
g. Memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif
4. Apa herarki kemampuan afektiv menurut krathwall
Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu : receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.
Pertama, pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerja sama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
Kedua, responding merupakan partisipasi aktif peserta didi, yaitu sebagai bagian dari prilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respon, berkeinginan memberi respon, atau kepuasan dalam memberi respon. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
Ketiga, tingkat valuating melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima satu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan prilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran , penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
Keempat, tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselsaikan, dan mulai membangun system nilai internal yang konsisten. Hasil belajar pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi system nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup
Kelima, tingkat characterization yang merupakan ranah afektif tertinggi. Pada tingkat ini peserta didik memiliki system nilai yang mengendalikan prilaku sampai pada waktu tertentu hingga membentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan social.
5. lengkapilah table dibawah ini
Hakekat Tradisional Progresif
Matematika Hasil berpikir Proses berpikir
Metode mengajar Konvensional Realistik, konstruktivisme
Belajar Pencapaian target kurikulum Pemahaman dan aplikasi
Penilaian Penetapan Nilai Assesmen dan Perbaikan
6. Bagaimanakan menggunakan alat peraga untuk menjelaskan.
Untuk menjelaskan operasi bilangan pecahan, dapat digunakan berbagai alat perga, diantaranya, kertas lipat, sehingga, jika :
a. 1/3 + 2/5
1/3 1/3 1/3 1/5 1/5 1/5 1/5 1/5
Maka hasil jumlah, 1/3 + 2/5, dapat ditunjukkan..
1/3 x 5/5 = 5/15
2/5 x 3/3 = 6/15
= 11/15
Jadi, hasilnya terdapat 11 bagian dari satu gabungan kertas lipat yang telah dibagi menjadi 15 bagian.
b. 1/3 x 2/5
Dari seluruh kotak tersebut terlihat ada 2 kotak yang di arsir dari 15 bagian kotak yang ada, jadi 1/3 x 2/5 = 2/15
c. 1/3 : 2/5
Dari gambar di sebelah, ternyata ditunjukkan bahwa daerah yang diarsir terdiri dari 5/6 bagian, jika dibandingkan luas daerahnya dengan 1/3, jadi 1/3 : 2/5 = 5/6.
d. -4 x -1/2
Sebelum mempragakan operasi bilangan tersebut, diingatkan terlebih dahulu, sifat perkalian – x - = +. Sehingga -4 x -1/2 = 4 x ½, dengan gambar dapat ditunjukkan, sebagai berikut
Terdapat 4 buah arsiran ½ -an, atau sama dengan dua buah kertas lipatan, 4 x ½ = 4/2, atau = 2
e. 34 x 23 = (30 + 4) x (20 + 3)
= (30 x 20) + (30 x 3) + (20 x 4) + (4 x 3)
= kotak 30-an = 20-an = 4-an
= 600 = 90
= 80 = 12
Sehingga, 600 + 90 + 80 + 12 = 782
3 komentar:
Great works. Please continue (Dr. Marsigit)
Your ideas was good and inspirational. I am looking for further works (Dr. Marsigit)
tes tes di coba
Posting Komentar