Rabu, 03 September 2008

evaluasi pendidikan SD

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 ”Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran”. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperlukan suatu bentuk evaluasi.

Pembangunan pendidikan di indonesia sampai saat ini belumlah mencapai tujuan yang diinginkan secara maksimal, sehingga dilakukanlah pembenahan-pembenahan diberbagai aspek penunjang keberhasilan pendidikan, dianataranya kualitas guru, pengadaan sarana prasarana, dan hal-hal lain yang tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan program pendidikan secara umum begitu juga halnya pada pembelajaran matematika khususnya.

Dalam proses pembelajarannya, matematika sampai saat ini masih dianggap sebagai sebuah mata pelajaran yang tergolong dalam mata pelajaran yang sulit, padahal pembelajaran matematika itu sendiri sangat membantu dalam rangka mengembangkan pola berpikir logis siswa, hal ini haruslah menjadi perhatian kita bersama agar prestasi dan pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika akan terus meningkat dan tidak ketinggalan jauh dari negara-negara lain.

Untuk terus meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika, salah satu kegiatan dalam proses pembelajaran yang sering dilakukan adalah evaluasi, dimana seringkali dan bahkan sudah menjadi kebiasaan dalam setiap akhir penjelasan ataupun ditengah-tengah penjelasan guru selalu memberikan contoh-contoh soal yang harus dikerjakan oleh siswa untuk mengetahui pemahamannya pada setiap bagian materi yang diajarkan. Hal ini tentunya merupakan langkah positif yang dijalankan oleh guru untuk terus memotivasi siswa dalam peningkatan prestasi belajar siswa.

Karena menurut pendapat seorang ahli ”matematika adalah bahasa simbol; ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak terdefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil”. (Ruseffendi:1991:23), sehingga pembelajaran matematika akan lebih berhasil jika prosesnya lebih ditekankan pada tingkat keaktivan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar, artinya dengan semakin seringnya siswa melakukan pemecahan masalah atau mengerjakan soal-soal latihan yang ada maka pemahamannya akan menjadi lebih bagus terhadap setiap materi yang ada dan hasil akhirnyapun tentunya akan menjadi lebih meningkat dari standar minimal yang telah ditetapkan oleh masing-masing sekolah.

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa evaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Sehingga pembelajaran matematika di SD Perumnas condong Catur oleh guru yang bersangkutan, sampai saat ini selalu melakukan evaluasi dalam proses pembelajaran, jika sudah mencapai materi tertentu (formatif) dan pada akhir program (sumatif).

Pelaksanaan masing-masing evaluasi tersebut merupakan salah satu jalan bagi guru untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi yang sudah diajarkan walaupun sampai saat ini terdapat kesenjangan terhadap hasil pelaksanaannya, dimana kalau kita mengacu kepada nilai Standar Minimum Sekolah yang sudah ditetapkan secara bersama di SD Perumnas 6,0. Sementara dari hasil ulangan harian yang telah dilaksanakan nilai rata-rata siswa mencapai 6,8 atau bahkan sampai 7,2 setiap kali melakukan ulangan harian, sementara pada pelaksanaan ujian semester nilai rata-rata siswa hanya mencapai 5,4 yang terletak di bawah standar minimum yang telah ditetapkan.

Hal ini terjadi diantaranya disebabkan oleh tingkat pemahaman siswa yang bervariasi terhadap materi matematika kalaupun dalam proses telah sering dilaksanakan tes formatif, juga oleh guru bersangkutan bisa juga disebabkan oleh waktu pelaksanaan tes formatif yang dilaksanakan dalam waktu yang tidak terlalu jauh renggang waktunya setelah materi tersebut dijelaskan yang tentunya ingatan siswa masih kuat terhadap materi tersebut, setelah itu ketika mereka dirumah orang tua tidak semuanya memberikan perhatian terhadap tugas belajar anaknya, sehingga ketika pelaksanaan tes sumatif hasilnya tidak maksimal.

Disamping itu juga pelaksanaan kedua tes tersebut secara tehnis direncanakan oleh dua pihak yang berbeda, dimana tes formatif dilaksanakan oleh guru pada waktu yang dianggap tepat ketika telah melalui materi-materi tertentu dan tesnyapun disusun oleh guru yang bidang studi yang bersangkutan, sementara waktu pelaksanaan tes sumatif ditetapkan berdasarkan keputusan pemerintah daerah melalui departemen pendidikan dan kebudyaan setempat dengan perkiraan dalam waktu tertentu masing-masing guru telah menyampaikan semua materi yang termasuk dalam kurikulum walaupun hal tersebut bersifat relatif.

Disebabkan oleh pelaksanaan tes formatif yang cakupan pelaksanaannya lebih besar, maka cendrung lingkupan materi tes sumatif kadang tidak pas pada sekolah-sekolah tertentu, ini dibuktikan dengan tidak jarangnya terjadi materi yang telah diajarkan oleh tidak keluar menjadi butir soal tes sementara materi yang belum diajarkan keluar menjadi butir tes sumatif tentunya akan menjadi beban pikiran siswa dan mempengaruhi hasil tes yang dicapai. Disamping itu juga dalam proses pembelajaran masing-masing guru melakukan pengembangan materi yang bervariasi sehingga dalam tes sumatifnyapun memiliki pemahaman yang berbeda terhadap butir tes yang ada.

Kondisi tersebut di atas tentunya tidak sejalan dengan tujuan pelaksanaan evaluasi sebagaimana dijelaskan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 57 ayat 1 yang berbunyi ”Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dan pada pasal 58 ayat 1 dijelaskan bahwa ”evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Dari UU Sisdikanas tersebut dapat dipahami bahwa evaluasi dilaksanakan untuk mengendalikan mutu dan perbaikan secara termenerus dan agar terdapat peningkatan hasil terhadap proses belajar mengajar yang dilaksankan, bukannya akan mengalami kemunduran, sehingga dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar diperlukan perhatian secara bersama dan perbaikan dalam pelaksanaannya agar evaluasi yang dilakuakan dapat memberikan gamabaran bagi kita tentang proses belajar mengajar secara menyeluruh dan dapat dilakukannya perbaikan secara terus menerus.

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Dari latar belakang masalah yang diuraikan di atas, dapat diidentifikasi bebrapa masalah, anatara laian :

1. Pengembangan materi ajar tidak sama antar sekolah

2. Belum tercapainya nilai standar minimum pada tes sumatif.

3. Belum sinergisnya pembuatan tes formatif oleh guru dengan tes sumatif yang disusun di tingkat daerah.

4. Situasi dan kondisi pelaksanaan tes yang berbeda.

5. Kurangnya perhatian orang tua terhadap penyelesaian tugas siswa.

C. PEMBATASAN MASALAH

Dari beberapa masalah diatas tentang pelaksanaan tes formati dan tes sumatif, maka permasalahan dibatasi pada :

1. Penetapan Nilai Standar Minimum Pelajaran matematika.

2. Pembuatan tes formatif dan tes sumatif

3. Pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif

D. RUMUSAN MASALAH

Dari pembatasan istilah, maka dapat dirumuskan masalah penelitian, antara lain :

1. Faktor apa saja yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan Nilai Satandar Minimum Pelajaran Matematika SD Perumnas Condong Catur ?.

2. Bagaimanakah pembuatan tes formatif dan tes sumatif pelajaran matematika SD Perumnas Condong Catur?.

3. Bagaimana pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif di SD Perumnas Condong Catur Kelas V Semester 2?.

E. TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif pada SD Perumnas condong Catur kelas V Yogyakarta, sehingga diketahui kelebihan dan kelemahannya, serta seberapa jauh tujuan yang diharapkan telah tercapai. Hasil yang diperoleh melalui penelitian yang diharapkan dapat memberi peluang kemungkinan diadakannya pengembangan yang lanjut terhadap pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif tersebut, untuk itu tujuan penelitian ini antara lain :

1. Mengungkapkan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam penetapan nilai Standar Minimum pelajaran matematika pada SD Perumnas Condong Catur Yogyakarta.

2. Mengevaluasi Pembuatan tes format dan tes sumatif siswa SD Perumnas Condong Catur kelas V semester 2 TA 2007/2008.

3. Mengevaluasi pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif di SD Perumnas Condong Catur Kelas V.

F. MANFAAT

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis ataupun paraktis, dimana :

A. Secara teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman tentang pelaksanaan evaluasi hasil belajar siswa terutama siswa SD pada mata pelajaran matematika, terutama pada pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif serta dapat dijadikan acuan dalam melakukan penelitian pengembangan guna mendapatkan informasi tentang penilaian hasil belajar secara lebih maksimal.

B. Secara Praktis

Adapun secra praktis, hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat bermanfaat bagi :

1. Guru

Memperbaiki cara melakukan atau memberikan tes formatif dan tes sumatif terhadap siswa dalam pelajaran matematika, sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar menjadi lebih baik lagi.

2. Lembaga Pendidikan

Untuk lembaga pendidikan dapat dijadikan masukan untuk dapat merencanakan dan mempersiapkan sarana pendukung dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

3. Pemerintah

Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan pendidikan tentang tekhnis penilaian hasil belajar, sehingga dapat mencapai hasil yang lebih maksimal.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KAJIAN TEORI

I. HAKEKAT MATEMATIKA

Perkembangan dunia pendidikan matematika dewasa ini tidak terlepas dan kaitan antara matematika sebagai “ilmu” dan didaktik atau psikologi pendidikan. Seperti yang kita ketahui, filsafat konstruktivisme telah diterima luas dalam dunia pendidikan, tak terkecuali pendidikan matematika. Pembelajaran kontekstual yang sekarang sedang digalakkan dan secara tersurat termaktub dalam Kurikulum 2004, tidak lain merupakan salah satu ekses dan diterimanya filsafat konstruktivisme dalam filsafat ilmu.

Di pihak lain, matematika sebagai ilmu sesungguhnya memiliki interpretasi yang demikian beragam. Oleh karena matematika yang diajarkan di sekolah juga merupakan bagian dari matematika, maka berbagai karaktenistik dan interpretasi matematika dan berbagai sudut pandang juga memainkan peranan dalam pembelajaran matematika di sekolah. Dengan memahami karakter matematika, guru diharapkan dapat mengambil sikap yang tepat dalam pembelajaran matematika. Lebih jauh lagi, ia sehanusnya memahami batasan sifat dan matematika yang dibelajarkan kepada anak didik. Jangan sampai guru memandang matematika hanya sebagai kumpulan numus belaka, tidak pula hanya sebagai proses berpikir saja. Pemahaman yang komprehensif tentang matematika akan memungkinkan guru menyelenggarakan pembelajaran dengan lebih baik.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa persepsi atau sikap guru terhadap matematika mempengaruhi persepsi atau sikapnya terhadap pembelajaran matematika. Untuk menyebut salah satunya, Hersh (dalam Sumaji,dkk, 1998: 246) menyatakan bahwa hasil pengamatan di kelas, menurut para peneliti, bagaimana matematika diajarkan di kelas dipengaruhi dengan kuat oleh pemahaman guru tentang sifat matematika.

Pemahaman yang tidak utuh terhadap matematika sering memunculkan sikap yang kurang tepat dalam pembelajaran, lebih parah lagi dapat memunculkan sikap negatif terhadap matematika. Dengan pemahaman yang utuh, diharapkan pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna.

Melihat bahwa matematika itu “diciptakan” oleh manusia terdahulu, maka mi membeni ilham bagi paradigma pembelajaran yang bersifat konstruktivisme. mi yang menurut penulis implikasi atau peran penting sejarah matematika dalam pembelajaran. Siswa diperbolehkan menggunakan usahanya sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah matematika (atau yang bemuansa matematika) bahkan dengan menggunakan bahasa dan lambangnya sendiri. Paradigma semacam mi kini menj adi trend dalam pembelaj aran matematika realistik atau konstruktivis. Perkembangan matematika dalam din individu (ontogeny) mungkin saj a mengikuti cara yang sama dengan perkembangan matematika itu sendiri (phylogeny).

II. EVALUASI HASIL BELAJAR

Sebagaiman termaktub dalam UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003, bahwa ”Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan” telah dilakukan berbagai macam pendekatan, metode, dan teknik yang tepat untuk menghimpun data sehingga didapatkannya gambaran yang jelas tentang sejauh mana keberhasilan pembelanajaran telah tercapai.

Mengingat perkembangan pendidikan nasional saat ini, maka belajar dan mengajar paling tidak mengandung tiga unsur yaitu ”Tujuan pembelajaran (instruksional), Pengalaman (proses) belajar mengajar, dan hasil belajar (penilaian)” (Nana Sujana, 1989: 3). Ketiga unsur ini jiga digambarkan dalam bentuk diagram, maka akan mengandung hubungan sebagai berikut :

Tujuan Instruksional

Pengalaman belajar (Proses belajar mengajar)

Hasil Belajar (Penilaian)


Dari gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang harus sejalan agar dapat mencapai tujuan belajar yang diinginkan.

Terkait dengan penilai hasil belajar bahwa ”Evaluation (classroom) is the systematic process of collecting, analyzing, and interpreting information to determine the extent to which pupils are achieving instructional objectives” (Norman, 1990: 5), dari definisi ini dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran di kelas mengandung tiga unsur yaitu pengumpulan, analisi dan penafsiran informasi dari tujuan instruksional artinya evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan instruksional telah tercapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang diperlihatkannya setelah menempuh pengalaman (proses) belajar mengajar dan juga untuk mengetahui keefektifan pengalaman belajar mengajar dalam mencapai hasil belajar yang maksimal.

Kegiatan evaluasi harus dilakukan untuk mengetahui hal tesebut di atas pada semua mata pelajaran, terutama matematika yang sampai saat ini masih terkenal sulit dan memang matematika merupakan mata pelajaran yang menuntut siswanya memperbanyak latihan, lebih-legih dari hasil survey yang dilakukan oleh Third International Mathematics and Sciences Survey (TIMSS) mengatakan bahwa “Soal tes matematika dan sains yang terdiri dari 8 hanya satu yang mampu direspon dengan baik oleh individu” sehingga kegiatan evaluasi sangat penting utuk mencari tahu kendala dan solusi-solusi dari permasalahan yang ada.

III. JENIS DAN ALAT EVALUASI HASIL BELAJAR

a. Jenis Evaluasi Hasil Belajar

Dalam proses belajar mengajar di kelas oleh Norman (1990:12) menyatakan bahwa evaluasi menurut fungsinya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain :

1. Pleacement evaluation (untuk menentukan kemampuan awal atau materi prasyararat pada saat akan memulai sebuah program).

2. Formative Evaluation (untuk memantau selama proses belajar mengajar berlangsung).

3. Diagnostic Evaluation (Untuk mendiagnosa kesulitan setalah proses belajar mengajar berlangsung).

4. Sumative evaluation (evaluasi prestasi atau keberhasilan setelah proses belajar mengajar berahir).

b. Alat Evaluasi Hasil Belajar

Untuk melakukan evaluasi hasil belajar yang baik dibutuhkan alat penilain yang baik pula, dan secara garis besar alat penilain hasil belajar dibagi menjadi dua yaitu : tes dan Non tes, dimana masing-masing juga memiliki bentuk yang berbeda diantaranya :

1. Tes

Berdasarkan pengertian dari tes itu sendiri yaitu : susunan soal yang sistimatis dan mengandung unsur benar dan salah, maka bentuknya berupa soal-soal, antara lain :

- Pilihan Ganda

- Esay

- Mencocokan

2. Non Tes

- Wawancara

- Dokumentasi

- Observasi

Dari jenis alat penilaian diatas, dapat dilakukan dengan lisan ataupun tulisan, asalakan didapatkannya gambaran tentang objek yang sedang dinilai atau dievaluasi.

IV. EVALUASI PROGRAM

a. Pengertan Evaluasi Program

Konsep evaluasi biasanya selalu dihubungkan dengan hasil belajar, namun untuk saat ini konsep evaluasi semakin berkembang sehingga ada beberapa ahli yang mendefinisikan tentang konsep evaluasi ini. Evaluasi menurut pengertian bahasa beraasal dari bahasa inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran, hal ini berarti dalam evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menilai atau menaksir sesuatu. Menurut beberapa ahli diantaranya Worthen dan sanders (1973 : 19) memberikan definisinya tentang evaluasi sebagai berikut :

“Evaluation is determination of the worth of the thing. It includes obtaining information for use in judging the worth of a program, product, procedure, objective, or the potential utility of alternatives approaches designed to attain specified objectivies.

Dari definisi di atas, secara inplisit terkandung adanya Kriteria yang digunakan untuk menentukan nilai (worth) dan adanya hal yang dinilai, criteria yang. Criteria yang dimaksudkan adalah criteria keberhasilan pelaksanaan program dan hal yang dinilai dapat berupa dampak atau hasil yang dicapai, atau prosedurnya sendiri. Ada dua konsep yang terkandung dalam pernyataan ini, yaitu efektifitas yang merupakan ratio antara output dan inputnya, dan konsef efesiensi yang merupakan taraf pendayagunaan input yang menghasilkan output lewat proses.

Stuflebeam (worthen & Sanders, 1973 : 129) menyatakan definisi dari evaluasi adalah :

“Evaluation is the process of delieniting, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives. Process, a particular, continuing, and cyclical activity. Delineating, focusing informations reqirements to be served evaluation through such step as specifying, defining, and explicating. Obtaining, making available through such processes as collecting, organizing, and analizing, and through such formal means as statistics and measurement. Providing, fitting together into systems or subsystems that best served the needs or purposes of the evaluation.”.

Dari definisi di atas, evaluasi dimaksudkan sebagai proses yang menggambarkan, menghasilkan dan menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Jadi, evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistimatis untuk membantu pengambilan keputusan (decision maker) dalam menentukan kebijakannya menyangkut program yang dievaluasi.

Tayibnapis (2000: 1) menjelaskan bahwa evaluasi dapat memberikan pendekatan yang lebih banyak dalam memberikan informasi kepada pendidikan untuk membantu perbaikan pengembangan system pendidikan. Setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data, berdasrkan data tersebut kemudian dicoba untuk membuat keputusan/kesimpulan.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan upaya pengambilan keputusan tentang nilai keberhasilan program yang dilakukan melalui proses yang terdiri atas : (1) pengumpulan data yang tepat, (2) mempertimbangkan data tersebut dengan menggunakan tolak ukur/criteria tertentu dan (3) memberikan rekomendasi tentang kelanjutan program.

b. Manfaat evaluasi program

manfaat evaluasi program adalah untuk mengetahui bagimana dan seberapa tinggi kebijakan yang sudah dikeluarkan dapat terlaksana. Informasi yang diperoleh dari kegiatan evaluasi sangat berguna bagi pengambilan keputusan dan kebijakan lanjutan dari program, karena dari masukan hasil evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan.

wujud dari hasil evaluasi adalah sebuah rekomendasi dari evaluator untuk mengambil keputusan (decision maker). Beberapa kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam pelaksanaan sebuah program, yaitu ;

1. Menghentikan program, karena dipandang program tersebut tidak ada manfaatnya atau terlaksana tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan (hanya terdapat sedikit kesalahan)

3. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan memberikan hasil yang bermanfaat.

4. Menyebarluaskan program, karena program tersebut berhasil dengan baik maka sangat baik jika dilaksanakan lagi di tempat lain dan waktu yang lain.

c. Berbagai Model evaluasi Program

Evaluasi program dikenal banyak model yang ditemukan oleh banyak ahli dan digunakan untuk mengevaluasi suatu program (Kaufman & Thomas, 1980:109) membedakan model evaluasi menjadi delapan yaitu : 1) Goal Oriented Evaluasi model, yang dikembangkan oleh Tyler. 2) Formatif sumatif evaluation Model, yang dikembangkan oleh Scriven. 3) Goal Free Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Scriven. 4) Countance evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stake. 5) responsive Evaluation Model, Dikembangkan oleh Stake. 6) CSE-UCLA Evaluation Model. 7) CIPP Evaluation Model, Yang dikembangkan oleh Stufflebeam. 8) Discrepancy Model, yang dikembangkan oleh Provus.

Semua model evaluasi masing-masing memiliki keunggulan dan ketepatan sendiri-sendiri di dalam mengevaluasi suatu program yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Goal Oriented Evaluation Model, pada model ini yang menjadi objek pengamatan adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan sebelum program dimulai.

2. Goal Free Evaluation Model, Pada Model ini sejak awal yang menjadi tujuan adalah proses, melaksanakan evaluasi program, evaluator tidak perlu melihat apa yang menjadi tujuan program, yang perlu diperhatikan adalah mengidentifikasi penampilan-penampilan yang terjadi baik positif maupun negative.

3. CIPP Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stufflebeam dan Shinkfield. Model ini sudah memiliki kerangka kerja dasar yang lengkap, yaitu evaluasi Context untuk membantu mengembangkan tujuan-tujuan, evaluasi Input untuk membantu usulan-usulan, evaluasi Process berfungsi untuk mengarahkan inplementasi, sedangkan evaluasi product untuk memberikan keputusan-keputusan yang berkenaan dengan hasil evaluasi.

Ringkasnya CIPP Evaluation Model dimensinya adalah menggambarkan (delineating) program seperti yang diajukan, memperoleh 9obtaining) tentang bagaimana cara memperoleh informasi yang diperlukan dan menyediakan (providing) berkaitan dengan bagaimana melaporkan informasi yang sudah diperoleh.

4. Model CSE (Center for the study of evaluation), model ini mencakup empat tahapan yaitu ; a) menaksir kebutuhan yaitu kegiatan menyeleksi program yang terkait dengan kebutuhan dari tujuan-tujuan program. b) Merencanakan program, dalam tahap ini harus ada perencanaan program yang sesuai dengan tujuan program. evaluator memulai tugasnya dengan memahami tujuan program. c) Mengadakan evaluasi formatif yaitu mengumpulkan dan membagi informasi.

5. Formative-sumative Evaluation Model. Scriven (worthen & Sander, 1973:104) menyatakan : “formative evaluation (evaluation used to the developer) and summative evaluation (evaluation of a completed product, aimed at the potential consumer) is useful distinction”. Evaluasi program ini oleh scriven dibedakan menjadi dua atas dasar fungsinya yaitu evaluasi formative digunakan untuk memperoleh informasi yang dapat membantu memperbaiki program. evaluasi ini dilakukan selama program masih berlangsung untuk memberikan umpan balik bagi penyempurnaan program dan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikan, sehingga hasil program menjadi lebih baik.

Evaluasi sumatif dibuat untuk menilai kegunaan suatu objek. Evaluasi ini dilakukan ketika program telah selseai dilaksanakan. Data yang diperoleh dari evaluasi sumatif sangat berguna bagi pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan selanjutnya, oleh karena itu evaluasi ini lebih mengarah pada keputusan tentang kelanjutan program, berhenti, atau diteruskan, pengadopsian atau selanjutnya.

6. Discrepancy Model

Kata discrepancy adalah istilah bahasa inggris yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “kesenjangan”. Model yang dikembangkan oleh Malcolm Provus ini merupakan model yang menekankan pada pandangan adanya kesenjangan dalam pelaksanaan program. evaluasi program yang dilakukan oleh evaluator mengukur besarnya kesenjangan yang ada pada setiap komponen. Jadi prinsip model ini adalah membandingkan yang ada pada setiap komponen. Jadi prinsip model ini adalah membandingkan antara kenyataan yang ada dengan suatu standar criteria (Kaufman & Thomas, 1980:127).

Khusus untuk model yang dikembangkan oleh Provus menekankan pada kesenjangan yang sebetulnya merupakan persyaratan umum bagi semua kegiatan evaluasi, yaitu mengukur ada perbedaan antara yang seharusnya dicapai dengan yang sudah riil dicapai 9Suharsimi Arikunto & Cepi Syfrudin, 2004: 31). Dan ada lima tahap pelaksanaanya yaitu : a) Design Stage, b) Installed program, c) Process, d) Product, e) Program comparsion.

7. Model Stake

Model Stake (Worthen & Sgandeesenjanrs, 1973:125) menekankan pada dua jenis operasi yaitu deskripsi (description) dan pertimbangan (judgement) serta membedakan tiga fafase dalam evaluasi program, yaitu : 1) persiapan atau pendahuluan, 2) Proses/transaksi dan 3) keluaran atau hasil. Dalam model stake ketiga fase tidak hanya dibandingkan untuk menentukan kesenjangan anatara yang diperoleh dengan yang diharapkan, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang mutlak agar diketahui dengan jelas kemanfaatan kegiatan di dalam proses tersebut. Penekanan paling besar pada model ini adalah pendapat bahwa evaluator membuat keputusan tentang program yang sedang dievaluasi.

Dari beberapa model evaluasi di atas, semanya dapat digunakan tergantung pada kondisi dan dan dari segia apa sebuah program akan dievaluasi, dan dalam pembelajaran dalam penetapan model evaluasi menurut (Buekendhal, 2002:259) harus memenuhi tiga komponen, antara lain : 1). Penampilan siswa pada bagian yang dinilai, 2). Kualitas tekhnik dalam mengevaluasi, 3). Memilih indicator nonkognitiv pada penampilan siswa. Sehingga hasil evaluasi diharapkan akan lebih maksimal.

d. Proses Evaluasi

Proses evaluasi yang baik harus melalui tahap-tahap berikut :

1) Perncanaan Evaluasi

a) Kebutuhan untuk mengevaluasi program

b) Proses memeriksa kebutuhan, tujuan pembelajaran dan sikap

c) Perencanaan evaluasi secara tertulis.

2) Melaksanakan Evaluasi : melaksanakan sesuai dengan yang sudah direncanakan yaitu rencana evaluasi tertulis, menganalisisi data dan menyampaikan sesuatu rekomendasi secara tertulis.

3) Membuat keputusan yang didasarkan pada :

a) Hasil evaluasi

b) Menindaklanjuti hasil evaluasi yaitu mempertahankan, mengembangkan atau memperbaiki program.

e. Kriteria Keberhasilan program

Sebelum mengadakan evaluasi, evaluator perlu membuat/menetapkan suatu criteria evaluasi sebagai tolak ukur atau standar yang digunakan sebagai patokan atas batas minimal untuk sesuatu yang diukur (Suharsimi Arikunto & Cepi Safrudin, 2004:14)

Criteria evaluasi yang dikembangkan melalui model-model evaluasi yang digunakan adalah (Said Hasan, 1988:5):

1) Pre Ordinate, pendekatan ini memiliki dua karakteristik, yang pertama criteria ditetapkan sebelum melaksanakan evaluasi, criteria ini bersifat mengikat karena ditetappkan sebelum evaluator turun kelapangan. Karakteristik yang kedua criteria dikembangkan pada teoritik dan pandangan-pandangan tertentu yang dianggap baik. Pendekatan pre-Ordinate menuntut evaluator bekerja berdasarkan instrument yang baku

2) Fidelity, pendekatan ini pada dasarnya ada kesamaan prinsip dengan pendekatan yang pertama yaitu criteria yang dikembangkan sebelum evaluator turun kelapangan untuk mengumpulkan data. Perbedaan prinsip antara keduanya adalah hakekat evaluasi yang digunakan, pendekatan fidelity tidak menggunakaninstrumen yang bersifat umum sebagaimana dengan pre-ordinat. Evaluator dapat menggunakan alat evaluasi yang sesuai dengan karakteristik yang dievaluasi. Pendekatan fidelity menggunakan criteria yang dapat dikembangkan berdasarkan presepsi para pengembang program, selain itu evaluator tidak dapat mengesampingkan pentingnya program yang sedang dievaluasi.

3) Mutual Adaptif, merupakan panduan antara pendekatan pre-ordinate, fidelity dan process, criteria yang dikembangkan dari karakteristik program dari luar seperti pandangan teoritik dari para pelaksana program dan pamakai program

4) Process, yaitu evaluator mengembangkan criteria selain proses evaluasi berlangsung, criteria diperoleh melalui wawancara, observasi atau studi dokumentasi. Pendekatan proses mengembangkan criteria selama proses evaluasi berlangsung. Criteria didapat melalui wawancara, observasi atau studi dokumentasi. Pendektan ini berhubungan erat dengan aplikasi pendekatan kualitatif. Karakteristik yang menonjol dari pendekatan ini merupakan criteria yang dipergunakan dan dikembangkan selama evaluator di lapangan. Konsekuaensinya pendekatan ini terkait denga masalah yang dihadapi oleh para pelaksana lapangan.

B. KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN

Terkait dengan pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif telah dilakukan penelitian oleh Tuan Hj. Abd. Rashid Johar tentang (Tanggapan terhadap Penilaian Formatif, Pembinaan Item Penilaian dan Penggunaannya oleh Guru) yang mana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dari Tujuan kajian ini ialah untuk meninjau tanggapan terhadap penilaian formatif, pembinaan item-item ujian bilik darjah, dan penggunaan penilaian formatif di dalam proses pengajaran dan pembelajaran oleh guru-guru sains dan matematik. Sampel kajian ini terdiri daripada 107 orang guru yang mengajar dalam tingkatan I dan II dari dua puluh dua buah Sekolah Menengah Rendah di Daerah Tampin, Rembau dan Kuala Pilah, Negeri Sembilan Darul Khusus. Soalselidik untuk kajian ini telah dibuat dengan merujuk kepada berbagai sumber untuk mengukur aspek-aspek penilaian ini. Dapatan kajian ini menunjukkan bahawa ramai dari guru ini yang mempunyai tanggapan yang betul terhadap penilaian formatif ini : 97.2% guru ini bersetuju bahawa penilaian mempunyai peranan penting dalam proses pengajaran dan pembelajaran, 74.3% bersetuju bahawa ujian harus kerap diadakan, dan 74.5% bersetuju bahawa hasil ujian diperlukan dalam merancang proses pengajaran dan pembelajaran. Walaupun ramai guru yang mempunyai tanggapan yang betul terhadap penilaian formatif, tetapi hasil kajian menunjukkan kurang daripada 60% guru-guru ini melaksanakan penilaian formatif dengan sewajarnya: 56.2% guru menyediakan JPU sebelum membina item ujian, 46.3% guru membina sendiri item ujian, 53.8% guru membuat analisis markah ujian, 34.6% guru membincangkan kesalahan dan kelemahan pelajar secara individu, 57.7% guru menyediakan isi pelajaran berdasarkan pencapaian pelajar-pelajar, dan 14.3% guru tidak mementingkan pemberian gred pencapaian kepada pelajar-pelajar. Dengan menggunakan ujian-t dan ANOVA, kajian ini juga mendapati bahawa pembolehubah bebas jantina, kelulusan akademik, kelulusan ikhtisas, pengkhususan dan pengalaman mengajar guru tidak mempunyai pengaruh yang signifikan ke atas tanggapan terhadap penilaian formatif, pembinaan item ujian, dan penggunaan penilaian ini dalam proses pengajaran dan belajaran.

C. KERANGKA BERFIKIR

Pelaksanaan evaluasi terhadap proses belajar mengajar sangatlah penting untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran sudah tercapai pada semua bidang studi terutama matematika yang sampai saat ini masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit oleh kebanyakan siswa. Hal itu muncul yang salah satunya disebabkan oleh hasil belajar yang diterima oleh siswa ketika guru memberikan tes atau soal.

Dari berbagai jenis evaluasi yang ada dalam pembelajar matematika evaluasi yang sering dilaksanakan oleh guru yaitu evaluasi formatif yaitu dengan memberikan tes formatif setiap selsai menjelaskan materi pelajaran dan bahkan setiap kali selesai satu sub pokok bahasan tertentu dan evaluasi sumatif dengan memberikan tes sumatif yang dilakukan pada proses belajar mengajar secara keseluruhan atau dalam satu unit tertentu, misalnya catur wulan, semester, dan UAS atau AUN.

Pelaksanaan tes formatif itu sendiri yang kalau kita mengacu dengan bpengertian matematika itu sendiri, maka dapat diasumsikan bahwa dengan semakin sering siswa dilatih dalam menyelesaikan tugas-tugas atau permasalahan matematika maka pemahaman anak akan menjadi lebih baik, sehingga mestinya pada saat diberikannya tes sumatif siswa juga harus mendapatkan nilai yang lebih baik pula, akan tetapi berdasarkan observasi yang telah dilakukan di SD Perumnas Condong Catur Yogyakarta Kelas V semester 2 Tahun Ajaran 2007/2008, menunjukkan kenyataan yang berbeda, dimana dari nilai standar minimum bidang studi matematika yang ditetapkan 6 pada saat anak diberikan tes formatif rata-rata nilainya berada diatas nilai standar minimum sementara pada saat diberikan tes sumatif rata-rata nilainya di bawah standar minimum.

Sehingga hal ini menarik untuk diteliti menginga dari hasil penelitian yang ada menyatakan bahwa pelaksanaan tes formatif akan memberikan danpak yang baik terhadap hasil belajar atau nilai akhir siswa pada pelajaran matematika, untuk itu akan diadakannya penelitian tentang pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif siswa Kelas V SD Perumnas Condong Catur Yogyakarta.

D. HIPOTESI PENELITIAN

Dari permaslahan yang ada, maka dapat dibuat hipotesa penelitian, bahwa pelaksanaan tes formatif efektif untuk meningkatkan hasil tes sumatif siswa SD Perumnas Condong Catur Kelas V.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS ATAU DESAIN PENELITIAN

Jenis penelitian ini merupakan penelitian evaluasi dengan metode kuantitatif deskriftif, untuk mengungkapkan gambaran pelaksanaan tes yang telah dilakukan di SD Perumnas condong Catur Yogyakarta kelas V semeseter 2 tahun ajaran 2007/2008 dengan melihat ketercapaian tujuan pelaksanaannya, sehingga model evaluasi yang digunakan yaitu Goal Oriented Evaluation Model, pada model ini yang menjadi objek pengamatan adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan sebelum program dimulai. Data yang akan diperoleh sangat berguna bagi pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan selanjutnya, oleh karena itu evaluasi ini lebih mengarah pada keputusan tentang kelanjutan program, berhenti, atau diteruskan, pengadopsian atau selanjutnya.

kegiatan evaluasi ini akan dilakukan dengan proses pengumpulan, pengorganisasian, penyajian, dan penilaian data atau informasi yang diperoleh melalui kegiatan penelitian. Hasil penelitian dimaksud untu mengetahui sejauh mana tujuan dari pelaksanaan tes sumatif dan tes sumatif telah tercapai sehingga dapat diambil keputusan dan tindak lanjut berikutnya.

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Perumnas Condong Catur Sleman Yogyakarta kelas 5, yang direncanakan berlangsung selama 2 bulan, yakni mulai bulan Oktober sampai dengan bulan Nopember 2008.

C. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

1. Populasi

Populasi penelitian adalah siswa kelas V SD perumnas Condong Catur tahun ajaran 2007/2008 dengan jumlah siswa yaitu 33 orang dimana terdiri dari 9 laki-laki dan 24 perempuan.

2. Sampel

Penentuan sampel yaitu dengan menggunakan pourposive sampling dengan menetapkan seluruh populasi menjadi sampel dalam penelitian ini. Sebab akan memiliki sangkut paut yang erat terhadap ciri-ciri dari sampel yang ada jika diambil semua populasi menjadi sampel penelitian mengingat jumlah populasinya juga yang tidak terlalu banyak yaitu hanya 33 orang, dengan kata lain kriteria –kriteria dari sampel yang akan diambil akan lebih tepat dengan tujuan penelitian jika semua populasi diambil menjadi sampel.

D. Variabel penelitian

Berdasar model evaluasi yang akan digunakan yaitu Goal Oriented Evaluation Model dan gambaran awal yang dijadikan rumusan masalah, maka variabel dalam penelitian ini antara lain :

1. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam penetapan nilai standar minimum pelajaran matematika

2. Kemampuan guru dalam menyusun item soal tes formatif

3. Pembuatan soal tes sumatif

4. Pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif bidang studi matematika kelas V

E. Teknik dan instrumen pengumpulan data

1. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan untuk memperoleh data penelitian ini terdiri dari, observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi, ketiga teknik tersebut akan digunakan secara bertahap dan integratif.

Data yang diperoleh akan segera di analisis untuk mencari jawaban maknanya, walaupun dalam proses juga dilakukan peninjuan ulang berdasarkan data yang diperoleh berdasarkan informasi yang didapatkan, sehinga akan didapatkan data dan jawaban dari permasalahan yang diteliti menjadi lebih valid dan akurat.

2. Instrumen Pengumpulan Data

Berdasarkan teknik pengumpulan data, maka instrumen yang akan digunakan antara lain :

a. Observasi

Observasi dilakukan untuk memperoleh data yang objektif tentang kondisi yang sebenarnya terhadap permasalahan penelitian secara lebih terperinci, proses pengambilan data dengan teknik ini dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi yang dilengkapi dengan kriteria penilaian sehingga observer dalam melakukan observasi diharapkan bisa lebih fokus dan dengan melakukan observasi diharpkan observer juga mampu memahami konteks data dan keseluruhan situasi, sehingga evaluator dapat memperoleh pandangan tentang kegiatan secara menyeluruh.

b. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa saja yang terkandung dalam pikiran dan pemahaman responden tentang permasalahan penelitian, sehingga didapatkan data yang lebih lengkap lengkap, proses wawancara dilakukan dengan terlebih dahulu mempersiapkan pedoman wawancara terstruktur, pedoman digunakan sebagai arah agar terfokus pada masalah, selanjutnya wawancara ini digunakan untuk untuk mengetahui secara langsung tentang pertimbangan apa saja yang digunakanuntuk menetapkan nilai standar minimum bidang studi matematika dan pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif.

c. Dokumentasi

Metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan keseluruhan bukti tertulis untuk menjawab permasalahan penelitian dan untuk melengkapi dan memperkuat hasil wawancara yang dilakukan, sehingga dalam evaluasi akan digunakan cek lis untuk mengetahui ketersediaan dan keterlaksanaan tentang hal-hal yang mendukung penetapan nilai standar minimum dan pelaksanaan tes formatif dan sumatif ataupun kejadian-kejadian masa lalu yang tidak dapat diamati oleh peneliti.

d. Angket

Angket merupakan kumpulan pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada responden disertai dengan jawaban tentang pelaksanaan sebuah program. Angket ini digunakan untuk mengetahui tentang pelaksanaan tes formatif dan tes sumatif berdasarkan kriteria yang telah kita tetapkan dalam angke tersebut, sehingga kita dapat mengumpulkan data yang lebih banyak dan cepat tentang permasalahan penelitian

F. Validitas dan releabilitas instrumen

Instrumen penelitian digunakan untuk mengungkapkan data yang akan diteliti dilapangan. Kualitas hasil penelitian ditentukan oleh kualitas data yang diperoleh. Kualitas data dipengaruhi oleh kualitas instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data. Kualitas instrumen dapat dilihat dari kesahihan dan keandalan instrumen. Untuk membuktikan keandalan dan kesahihan instrumen dapat dilihat dari kesahihan isi, konstruk, dan indeks keandalan instrumen.

1. Validitas Instrumen

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya sebagai alat ukur. Suatu tes atau instrumen pengukuran dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut (Syaifuin Azwar, 2003 : 5).

Validitas didefinisikan sebagai ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Tes hanya dapat melakukan fungsinya dengan cermat kalau ada sesuatu yang diukurnya. Jadi untuk dikatakan valid, tes harus mengukur sesuatu dan melakukannya dengan cermat. (djemari Mardapi 2004:5)

2. Reliabilitas

Menurut Ebel (1976:275 definisi reliabilitas tes adalah :

”The reliability coefficient for a set of scores from a group of examineers is the coefficient of correlation between that set of scores and another set of scores on an equivalent test obtained independently from the members of the same group”.

Definisi tersebut ada beberapa aspek yang harus dicermati yang juga diperkuat oleh pendapat Grounlund & Linn (1985 : 75) yang menjelaskan :

”(1) Reliability refers to the results obtained with an evaluation instrument and not to the instrument itself, 2) A closely related point is that an estimate of reliability always refers to a particular type of consistency, 3) reliability is a necessary but not a sufficient condition for validity, and 4) reliability is primarily statistical”.

Berdasarkan penjelasan tersebut terlihat bahwa reliabilitas itu tidak menunjuk pada instrumen tetapi pada hasil pengukurannya. Estimasi reliabilitas selalu menunjuk pada tipe konsistensi khusus, reliabilitas merupakan suatu kebutuhan tetapi belum mampu menggantikan validitas, dan reliabilitas mengutamakan statistik (Badrun Kartowagiran, 2006 ; 10).

Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang menghasilkan data yang sama apabila dikenakan pada subjek yang sama dalam waktu yang berbeda dengan ketentuan yang jelas.Besarnya indeks reliabilitas suatu instrument adalah menyatakan perbandingan antara varian skor sebenarnya dengan skor hasil pengamatan atau pengukuran.

G. Teknik analisa data

Setelah data terkumpul dan disajikan maka langkah selanjutnya adalah melakukan pembahasan dan interpretasi data dengan maksud agar kebermaknaan data yang didapat dari hasil penelitian/evaluasi lebih jelas dan lebih tajam. Penelitian ini bersifat deskriftif kuantitatif, maksudnya karena data berbentuk kuantitatif maka dapat dilakukan pengolahan data sedangkan data yang berbentuk kualitatif yang tidak bisa dikuantifikasikan dan dihitung secara matematis maka diadakan pemaknaan, penggambaran, penjelasan dan penempatan data pada konteksnya masing-masing. (Suharsimi Arikunto, 2002:208).

Seluruh data yang bersifat kuantitatif yang telah didapatkan dianalisis secara deskriftif kuantitatif yaitu berupa rerata (mean), median, modus, simpangan baku, skor maksimum, skor minimum dalam bentuk tabel dan presentase serta histogram. Penyajian data dalam bentuk presentase dideskripsikan dan diambil kesimpulan tentang masing-masing komponen dan indikator berdasarkan kriteria yang ditentukan.besarnya persentase yang diungkapkan akan langsung dapat diketahui posisi masing-masing aspek dalam keseluruhan maupun bagian permasalahan yang diteliti

Tidak ada komentar: