Minggu, 30 November 2008

Quis

Nama : Alkusairi Jurusan: Pendidikan Dasar (matematika SD)
NIM : 07712251012 Mata Kuliah:Pembelajaran Matematika SD
Semester : III (Tiga) Dosen: Dr. Marsigit

1. Jelaskan hakekat matematika sekolah
Kebanyakan ahli sepakat bahwa suatu pengetahuan disebut ilmu apabila lahir dan suatu kegiatan ilmiah. Kegiatan ilmiah bertumpu pada metode ilmiah, yang langkah-langkah utamanya membuat hipotesis, mengumpulkan data, melakukan percobaan (untuk menguji hipotesis), dan membuat kesimpulan. Apabila kita berketetapan suatu ilmu hams lahir dan metode ilmiah, maka matematika bukanlah ilmu.
Matematika merupakan buah pikir manusia yang kebenarannya bersifat umum (deduktif). Kebenarannya tidak bergantung pada metode ilmiah yang mengandung proses induktif. Kebenaran matematika pada dasarnya bersifat koheren. Seperti yang dikenal dalam dunia ilmu, terdapat tiga macam jenis kebenaran: (1) kebenaran koherensi atau konsistensi yaitu kebenaran yang didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang telah diterima sebelumnya, (2) kebenaran korelasional, yaitu kebenaran yang didasarkan pada “kecocokan” dengan realitas atau kenyataan yang ada, serta (3) kebenaran pragmatis, yaitu kebenaran yang didasarkan atas manfaat atau kegunaannya.
Matematika sebagai ilmu dasar dewasa ini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya. Oleh karena, matematika dijadikan salah satu mata pelajaran poko di setiap jenjang penddikan yaitu dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan atas (SLTA), untuk itu dalam pembelajarannya di sekolah sangatlah perlu diperhatikan perkembangannya baik di masa lalu, sekarang maupun kemungkinan untuk masa depan. “Matematika yang diajarkan di pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (SLTA) biasa disebut dengan matematika sekolah”. (Soedjadi, 2000:37)

2. Jelaskan hakekat siswa belajar matematika
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah memiliki karakteristik tertentu. menurut Soedjadi (2000:13) bebrapa karakteristik matematika adalah : (a) memiliki objek kajian abstrak, (b) bertumpu pada kesepakatan, (c) berpola piker deduktif, (d) memiliki symbol yang kosong dari arti, (e) memperhatikan semesta pembicaraan, dan (f) konsisten dalam sistemnya. Adapun fungsi mata pelajaran matematika adalah sebagai alat, pola piker, dan ilmu atau pengetahhuan (Suherman, 2003:76).
Dari beberapa pengertian matematika di atas, maka hakekat siswa belajar matematika merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun penalaran suatu hubungan di antara pengertian-pengertian itu. Oleh karena itu para siswa perlu dibiasakan untuk memperoleh pamhaman melalui pengalaman abstraksi tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek. Berdsarkan pengamatan tersebut diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep. Siswa juga dilatih untuk membuat perkiraan, terkaan atau kecendrungan berdasarkan pengalaman atau pengetahuannya.

3. Sebutkan beberapa standar kompetensi matematika SD
Ada beberapa standar Kompetensi pembelajaran matematika di SD, antara lain :
a. Memahami konsep bilangan bulat dan pecahan, operasi hitung dan sifat-sifatnya, serta menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari
b. Memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur-unsur dan sifatnya, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehhidupan sehari-hari.
c. Memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu, kecepatan, debit, serta mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
d. Memahami konsep koordinat untuk menentukan letak benda dan menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
e. Memahami konsep pengumpulan data, penyajian data dengan tabel, gambar dan grafik (diagram0, mengurutkan data, rentang data, rerata hitung, modus, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
f. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
g. Memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif

4. Apa herarki kemampuan afektiv menurut krathwall
Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu : receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.
Pertama, pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerja sama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
Kedua, responding merupakan partisipasi aktif peserta didi, yaitu sebagai bagian dari prilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respon, berkeinginan memberi respon, atau kepuasan dalam memberi respon. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
Ketiga, tingkat valuating melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima satu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan prilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran , penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
Keempat, tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselsaikan, dan mulai membangun system nilai internal yang konsisten. Hasil belajar pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi system nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup
Kelima, tingkat characterization yang merupakan ranah afektif tertinggi. Pada tingkat ini peserta didik memiliki system nilai yang mengendalikan prilaku sampai pada waktu tertentu hingga membentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan social.

5. lengkapilah table dibawah ini
Hakekat Tradisional Progresif
Matematika Hasil berpikir Proses berpikir
Metode mengajar Konvensional Realistik, konstruktivisme
Belajar Pencapaian target kurikulum Pemahaman dan aplikasi
Penilaian Penetapan Nilai Assesmen dan Perbaikan



6. Bagaimanakan menggunakan alat peraga untuk menjelaskan.
Untuk menjelaskan operasi bilangan pecahan, dapat digunakan berbagai alat perga, diantaranya, kertas lipat, sehingga, jika :
a. 1/3 + 2/5

1/3 1/3 1/3 1/5 1/5 1/5 1/5 1/5

Maka hasil jumlah, 1/3 + 2/5, dapat ditunjukkan..




1/3 x 5/5 = 5/15
2/5 x 3/3 = 6/15

= 11/15

Jadi, hasilnya terdapat 11 bagian dari satu gabungan kertas lipat yang telah dibagi menjadi 15 bagian.
b. 1/3 x 2/5


Dari seluruh kotak tersebut terlihat ada 2 kotak yang di arsir dari 15 bagian kotak yang ada, jadi 1/3 x 2/5 = 2/15



c. 1/3 : 2/5
Dari gambar di sebelah, ternyata ditunjukkan bahwa daerah yang diarsir terdiri dari 5/6 bagian, jika dibandingkan luas daerahnya dengan 1/3, jadi 1/3 : 2/5 = 5/6.






d. -4 x -1/2
Sebelum mempragakan operasi bilangan tersebut, diingatkan terlebih dahulu, sifat perkalian – x - = +. Sehingga -4 x -1/2 = 4 x ½, dengan gambar dapat ditunjukkan, sebagai berikut
Terdapat 4 buah arsiran ½ -an, atau sama dengan dua buah kertas lipatan, 4 x ½ = 4/2, atau = 2

e. 34 x 23 = (30 + 4) x (20 + 3)
= (30 x 20) + (30 x 3) + (20 x 4) + (4 x 3)


= kotak 30-an = 20-an = 4-an




= 600 = 90






= 80 = 12

Sehingga, 600 + 90 + 80 + 12 = 782

INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD

Tugas : RANCANGAN INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD
Nama : Alkusaeri
NIM : 07712251012

Inovasi merupakan suatu hal yang bersifat relative dan tergantung pada siapa dan dimana sesuatu hal itu terjadi, karena bisa jadi apa yang baru di kita belum tentu begitu pada orang lain, sehingga tugas ini kami buat berdasarkan apa yang pernah kami pahami terkait dengan pembelajaran matematika.
Matematika, yang menurut Rusfendi (1991), adalah bahasa symbol; ilmu deduktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsure yang tidak didefinisikan ke unsure yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. Sehingga hakekat matematika itu sendiri menurut Soedjadi (2000), yaitu memiliki objek tujuan yang abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.
Berangkat dari definisi matematika di atas, jika dikaitkan dengan pembelajarannya di Sekolah Dasar yang mana pada usia SD menurut Piaget fase pikiran anak-anak masih pada fase oprasional konkrit, maka ini akan menjadi tugas yang cukup berat untuk memberikan pemahaman matematika yang bersifat abstrak kepada anak SD yang masih berfikir kongkrit, akan tetapi sampai saat ini telah banyak usaha dilakukan agar pembelajaran matematika pada Sekolah Dasar dapat berjalan dengan maksimal sesuai dengan karakter siswa pada usia itu, mulai dari kurikulum, bahan ajar, sumber belajar, metode, dll yang terkait dengan itu. Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi perhatian kami, sekaligus menjadi tawaran inovasi terhadap pembelajaran matematika di SD, yaitu tentang buku mata pelajaran dan buku sumber belajar lainnya, seperti LKS.
Terkait dengan hal tersebut, kita berangkat dari sejak ditetapkan KBK sebagai kurikulum resmi yang mana kegiatan belajar mengajar sepenuhnya diatur oleh guru pada sekolah yang bersangkutan dan dengan orientasi anak tidak hanya dijadikan objek tetapi sekaligus objek pembelajaran. Semestinya buku pelajaran dan buku sumber lainnya, antara lain :
1. Dalam pengadaannya tidak bersifat Nasional sehingga seluruh aspek yang menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunannya juga lebih bersifat umum, akan tetapi minimal oleh BSNP sebagai penilai ahir mengusulkan pada pemerintah agar penyusunan buku pelajaran minimal bersifat regional, sehingga aspek-aspek yang termuat di dalamnya lebih dekat dengan kondisi daerahnya masing-masing.
2. Berkenaan dengan isi buku pelajaran, menurut pertimbangan kami akan lebih bagus dan lebih mengena dengan anak usia SD kalau isi buku pelajaran tersebut selain harus sederhana juga berisi petunjuk-petunjuk permainan ataupun lainnya yang tujuannya agar dapat digunakan sebagai petunjuk mengubah keabstrakan matematika menjadi lebih kongkrit. Tidak hanya berisi soal-soal latihan yang banyak untuk meningkatkan pemahaman anak terutama dengan buku LKS yang kalau kami amati muatannya terdiri dari 10% materi dan 90%nya soal-soal latihan, sehingga anak cendrung merasa bosan.
3. Keterlibatan guru dalam menyusun materi pelajaran lebih dimaksimalkan lagi, karena gurulah yang sebenarnya menjadi ujung tombak segala program perbaikan mutu pendidikan, sehingga kalau guru sendiri masih belum sepenuhnya memahami tentunya akan menjadi lebih sulit, seperti halnya dalam penyusunan silabus KBK ternyata sampai digantikannya menjadi KTSP masih banyak guru yang belum memahami dan mengetahui cara mengimplementasikan KBK yang sebenarnya. Begitu juga sekarang dalam penyusunan buku pelajaran, sebaiknya pemerintah tidak hanya melakukan saimbara nasional penyusunan buku ajar tetapi juga melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka menambah wawasan bagi guru bagaimana menyusun buku ajar yang baik.
Demikian kiranya yang dapat kami tawarkan dalam usaha melakukan perbaikan mutu pendidikan, khususnya pada pembelajaran matematika, yang semata-mata berdasarkan pertimbangan kami sendiri, yang tidak terlepas dari keterbatasan wawasan dan pemahaman kami tentang pendidikan Sekolah Dasar yang baik. Dan semoga bermanfaat.

REFLEKSI VIDIO PEMBELAJARAN SD DI JEPANG

REFLEKSI VIDIO PEMBELAJARAN SD DI JEPANG

Dalam merefleksikan proses pembelajaran yang terdapat dalam vidio proses belajar mengajar SD di Jepang, terdiri dari beberapa bagian, diantaranya :
A. IDENTIFIKASI PERISTIWA PENTING
Sebagaimana yang ditampilkan pada video pembelajaran matematika di SD Jepang, ada beberapa hal yang menarik untuk diperhatikan, yang terdiri dari beberapa aspek, antara lain :
1. Profesionalisme Guru
Terkait denga profesionalisme guru, hal pertama yang menarik perhatian yaitu adanya asisten guru yang mendampingi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan membantu aktivitas belajar. Terlepas dari itu gru dalam melaksanakan tugasnya terlihat rapi dalam penampilannya dan bersikap sopan dalam memimpin pelajaran baik ketika menjelaskan ataupun disaat berinteraksi dengan siswanya, yang kalau dirincikan antara lain :
a. Berpenampilan menarik
b. Bersikap sopan
c. Menghargai pendapat siswa
d. Menyiapkan bahan belajar
e. Menyediakan sumber belajar
f. Memanfaatkan proses pembelajaran sebagai sarana pengembangan kemampuan siswa baik individu ataupun kelompok.
2. Pengelolaan Kelas
Disamping hal-hal yang tersebut diatas dalam mengelola kelas, guru melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Melakukan apersepsi tentang pelajaran yang akan dipelajari.
b. Menjelaskan materi dengan baik
c. Mengarahkan siswa untuk berani mengutarakan pendapatnya
d. Memberikan kesempatan pada siswa untuk menunjukkan kemampuannya di depan kelas
e. Mengarahkan siswa untuk dapat menyelesaikan sebuah permasalahan.
f. mengarahkan siswa untuk dapat bekerjasama dengan siswa lainnya.
g. Meminta siswa untuk mempertanggungjawabkan hasil kerjanya di depan siswa lainnya.
3. Pemanfaatan Sumber Belajar
Berkenaan dengan sumber belajar, terlihat sebelum proses pembelajaran dimulai, guru menyediakan berbagai bentuk gambar yang terkait dengan materi yang akan dijelaskan yang ditempel di papan tulis. Gambar-gambar tersebut dimanfaatkan oleh guru untuk menjelaskan materi pelajaran, penyelesaiaan tugas oleh siswa, menjelaskan hasil kerja siswa, dan pada saat memberikan perbaikan terhadap jawaban siswa, sehingga siswa dapat secara langsung dan dengan jelas mengetahui kekeliruan ataupun argumentasi kebenaran atas soal yang diselsaikannya.
4. Kondisi Siswa
Kondisi sis yang nampak dalam vidio tersebut ketika mengikuti proses pembelajaran, antara lain :
a. Duduk dengan rapi ketika guru menjelaskan materi pelajaran
b. Mengerjakan seluruh arahan guru terkait dengan pemberian tugas.
c. Saling menghargai ketika siswa lainnya mengungkapkan pendapat.
d. Memberikan tanggapan atas pendapat temannya jika dianggap kurang jelas.
Tentang beberapa poin penting yang dapa diidentifikasi di atas, dalam pembelajaran merupakan hal yang penting, terkait dengan profesionalisme guru di dalam kelas oleh W. James Popham, disebutkan bahwa “ada kemungkinan mereka itu (guru) memiliki ciri-ciri pribadi atau sifat-sifat intelektual yang bertolak belakang dengan pengajaran yang baik”. Sehingga guru yang berusaha berpenampilan menarik, mengatur suasana yang kondusif, dan sebagainya, merupakan sebuah usaha dalam mencapai kondisi belajar yang diinginkan.
Begitu juga dengan aspek lainya, dimana apa yang dilakukan oleh guru pada vidio pembelajaran di Jepang, sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Zoltan P. Dienes seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap siswa. Dasar teorinya bertumpu pada Piaget, dan pengembangannya diorientasikan pada siswa, sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi siswa yang mempelajarinya.
Suatu pengertian yang hampir sama dikemukakan oleh Corey bahwa pembelajaran adalah “suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”. Sehingga berusaha untuk mengelola kelas dengan baik dan pemanfaatan sumber belajar merupakan salah satu bagian yang penting untuk diperhatikan oleh setiap guru ketika ingin melakukan proses belajar mengajar.
B. PERBANDINGAN KEJADIAN SETARA
Untuk membandingkan proses belajar mengajar di atas, lebih didasarkan pada pengalaman baik yang pernah dilihat secara langsaung ataupun mendengar informasi yang berkembang saat ini, kalau dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah Indonesia secara umum hal-hal tersebut di atas secara umum juga terjadi di sekolah indonesia, akan tetapi proses tersebut berlangsung pada sekolah-sekolah negeri yang pavorit ataupun sekolah-sekolah swasta yang memiliki modal besar untuk mengadakan sarana-dan prasarana dan satu hal yang paling penting yaitu dapat memenuhi kesejahteraan guru-gurunya, karena hal ini masih menjadi permasaahan yang dianggap menjadi hambatan berarti bagi guru untuk dapat lebih konsen dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar.
Keluar dari kondisi tersebut, jika dibandingkan proses belajar mengajar di Indonesia dengan yang di Jepang sebagaimana yang terlihat pada vidio, ada beberapa hal yang masih belum dilakukan di Indonesia, yaitu :
1. Adanya asisten guru untuk membantu proses belajar mengajar di kelas.
2. Jarang memanfaatkan sumber belajar yang tersedia.
3. Masih cendrung guru menjadi sentral utama dalam proses belajar mengajar, walaupun sudah dipahaminya beberapa metode mengajar disebabkan karena beberapa pertimbangan
4. Motivasi siswa yang masih rendah, dan
5. Sikap menghargai satu sama lain antar siswa yang masih rendah.
C. TANGGAPAN POIN PENTING
Semua aspek yang terjadi dalam pembelajaran matematika di Jepang, merupakan proses yang cukup ideal untuk diteapkan, agar pembelajaran matematika menjadi menarik dan menyenangkan bagi siswa, akan tetapi dari berbagai metode dan model pembelajaran yang ada, tentunya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sesuai dengan kondisi dan dimana metode dan model tersebut diterapkan.
Mungkin saja di Jepang keadaan kondisi tersebut seluruhnya dapat diterapkan, akan tetapi di Indonesia menurut pemahaman kami, ada bebrapa hal yang dapat kami tanggapi, antara lain, pertama, terkait dengan penampilan guru yang terlalu resmi, hal ini dapat dikatakan kurang pas, disebabkan karena kebiasaan bergaul masyrakat Indonesia yang sebagian besar penduduknya berada di pedesaan dengan penampilan yang biasa, sehingga ketika berhadapan dengan seseorang yang terlihat resmmi, maka akan muncul rasa minder, tentunya hal tersebut tidak kita harapkan dalam proses belajar mengajar, terutama terkait dengan hubungan guru dan murid.
Kedua, adanya asisten guru, yang bisa jadi akan berpengaruh terhadap, adanya dua pusat perhatian siswa, kalaupun pada posisinya asisten guru tersebut hanya membantu dalam proses pembelajaran, akan tetapi jika hal tersebut terjadi secara kontiniu, maka posisi asisten bisa jadi juga menjadi yang utama.
D. ALTERNATIV SOLUSI YANG LEBIH BAIK
Memperhatikan kondisi pendidikan dan keadaan masyarakat di Indonesia, terutama terkait dengan proses pembelajaran, ada bebrapa hal yang kiranya harus dapat di terapkan dengan tegas agar hasil pendidikan dapat lebih maksimal, antara lain :
1. Peningkatan profesionalisme guru dengan mempersiapkan dan mengadakan hal-hal yang mendukung tercapainya hal tersebut.
2. Penerapan secara tegas dan konsisten kebijakan tentnag pendidikan yang sudah dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
3. Terkait dengan kondisi kelas secara umum, hal yang perlu dilakukan :
4. Pengadaan sarana dan media belajar pendukung di setiap kelas. Dan membantu sekolah-sekolah yang masih kurang mampu, karena bagaimanapun keberadaannya sudah ada dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat.
5. Meminimalkan isi kelas agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih kondusif dan efektif.
6. Diadakannya hubungan kerja sama, antar sekolah unggulan dengan sekolah biasa secara intensif, guna memperbaiki dan mengembangkan proses pendidikan di sekolah yang masih kurang maju..
Itu kiranya yang dapat kami tawarkan untuk sementara ini, meskipun terdapat masih banyak dan lebih kompleknya permasalahan yang terjadi di lapangan.

untuk tugas : Learning of Mathematics

Learning Of Mathematics
Oleh : alkusaeri

Background

Study of mathematics is one of subject given in the school, starts from primary school until upper comprehensive school, of course, expected in process of the study can reach optimal result, that mathematics which is introductory science in everyday life can be application by each and everyone who is studying it.
Till now in the study, mostly we have not known is that mathematics actually, so that often finds difficulty in learning, given the mathematics essence is expected by the teachers can plan good study, because in its the study must cover, how the student can think mathematics and expansion of position through mathematics study.
Related to that, along with development of epoch hence innovation always is done, to process study to become more maximumly and reachs purpose of expected. If it is seen from the study style in the existing in reality, there is two teacher style in teaching namely conventional teaching style and inovatif teaching style. Following will be explained some things related to mathematics study.
1. Tendencial Logic
What laid open by Kant about source of knowledge has truth which relative, depended from the aspect of each approach, however, from the aspect of different approach source of knowledge that is reality and ability thinks.
Reality as source of knowledge because of without there are clearly will which be comprehended not possible is the knowledge will emerge. Because the science haves the character of objective, as laid open by ( Af. Chalmers, 1983:1). Scientific knowledge is knowledge that is believable, because she has been proved its the truth objectively. This opinion gets support from filosof empiricism stream, what tells that knowledge of the man do not be got through rational common sense which abstraction but through via concrete experience. ( Jujun, 2003:51). According to our understanding how the importance of condition of reality developed as source of knowledge that is clear and as according to condition of epoch, because reality would sticking with condition of the.
Temporary, ability thinks very important of the role in developing reality as perceivable knowledge by public at that moment. Because without there are ability thinks, hence man will not possibly can observe real condition clearly, as opinion, sight the inductivism naïf, that science starting from observation ( Af. Chalmers, 1983:2) and do that shall have organs indera which healthy and is normal, related to condition observed, it is of course we must do it with a mind without there are even little prejudice., this opinion also with reference to rationalism stream opinion, which mendasrkan understanding to x'self and ratio.
Both above understandings even so impressed interferes in, however is each other supports in menumakan a knowledge, because each stream has limitation, the rasionalis will pious of difficulty in replying an its the problems if its way of thinking still doubting and questioned, and burden of proof with facts having the character of konkrit, whereas the emprism would not would possibly holds views it, because the reality it is possible that haves the character of not consisten, so that its the truth is also still be questioned, causing need to be proved with arguments that is is supporting its(the truth.
Above description that is source of knowledge based on by ability to think and observes man, besides there is another source of knowlodge,is apocalipse, where apocalipse is knowledge submitted by the infinite through the courier, and its truth cannot be questioned again.
Related to mathematics science, both source of knowledge above joined to to become one, because itself mathematics kalupun Till now has not there are circular agreement to define is that mathematics, do not mean mathematics cannot be recognized. Like has have been phrased by Soedjadi ( 1985:5) as knowledge of mathematics has some characteristics, that is that mathematics object is not konkrit but abstraction. Given the observation object of mathematics, we can know mathematics essence that is at the same time knowable also way of berfikir mathematics by ET. Ruseffendi ( 1980:148) lays open: The mathematics arisings from man minds is relating to idea, process and common sense. Mathematics consisted of four wide knowledges that is: Aritmatika, Aljabar, Geometry and Analisa. Besides mathematics be the queen science, its intention that the mathematics not depend on other study area.
From the explanation, perceivable that ability thinks thing having the character of very important abstraction of the existence, however shall be supported with symbol-simbol which is clear, as supporting facilities for concept concrete which still having the character of abstraction

2. Reflection Teacher’s Style of Mathematics Teaching by Identifying Their Utterances
Business for increases quality of education in Indonesia of course remain to is executed, and in socializing, that all side involving in it involves is active in the business, however various constraints resulting the business doesn't run at ease accross the board, the business covers, curriculum repair, improvement of teacher professionalism, levying of supporting facilities for infrastructure, and not aside from gives understanding about various study models to teacher through seminars, training, work shop, etc. With a purpose to applicable in the school is each and realized it study process which inovatif.
Identification of Style teachs mathematics teacher told by Student Teacher of In-service Training of Certification Program of Secondary, very stand-out of difference of style teachs between teachers which still teaching with traditional style and style teachs teacher which inovatif, however both the styles is each happened influenced by some factor. At school which has owned facility and supporting facilities for other supporter would very enables develops various study models the each class, however problem education in Indonesia is complectly so that not all schools can apply study model maximaly.
Education in Indonesia untill now still there is a real far difference between each school, particularly between marginal schools with school residing in beyond the city and has a real near by information access in the effort improvement of quality of education. And if it is observed more residing in education institutes boundary with around town is added again with existence of madrasah that is education institute which below wings of The Ministry of Religious affairs that is in general resides in rural.
However, if us speaking about study, which according ( Elaine, 2008:18) mentions two study definitions, inter alia : “( 1) A relatively permanent change indium response potentiality which occur ace a result of reinforced practice, and, ( 2) A change indium hhuman disposition or capability, which can is retained, and which is is note simply ascribable to the process og growth”. From two this perceivable definitions there are three principles in study that need to be paid attention, firstly, learning yields change of my prila am protege which relative permanent, the role of education perpetrator, specially teacher is as change perpetrator.
Second, protege has potency and ability which is seed basic for involding without desisting, its the meaning, education properly sprinkles this basic ability seed so thrives and changes. Learning process teachs like that, be optimalisation of self potency so that is reached ideal quality.
Third, change or pencapain ideal quality of that barrens of experiencing linear in parallel life process. Mean, learning process teachs of course is part of life x'self, but s(he is design peculiarly, and intention for the shake of reaching of condition or ideal quality like called as to be above. From third explains the, however condition of place of taking place learning process to teach, style teachs teacher is not must like style teachs teacher having the character of traditional, with patch up supporting facilities and condition of area of the is teacher shall remain to be able to point process learning is orienting at condition of student, mean, ability and reasoning of student made as base to develop and increases quality of learning to teach.
So do in study of mathematics peculiarly, Mathematics as science introduction, especially in everyday life, in process of the study, shall follow the condition is environmental around, because his would be useful quicker felt by student which in the end will race its enthusiasm is to be more impetous again in learning.
Teacher as fasilitator in study, shall plan study process of matching with requirement of student and condition of the environmental, and gives opportunity larger ones to student to develop their self

3. The Role of Lesson Study to Improve Teaching Learning of Mathematics
Remembers mathematics to have object having the character of abstraction, however having to still be studied, hence the study must be adapted for ability of educative participant, as laid open by Doman ( 1985), express that if mathematics facts given to children balita as according to its(the ability, they will be able to find x'self the orders in it. Likely, mathematics is not Iesson which is difficult if it is submitted with correct planning.
Planning of study program is expected able to reach purpose of desired, of course rather difficult planning, however, after there are statement that is clear about purpose of desired, hence the problem becomes far of lenih easy. In compiling Lesson Study beforehand is done inspection, that is, my prila beginning and my prila between which must be mastered by student, hereinafter, in planning study, must load, inter alia, purpose of mathematics study, mathematics study matter, source study, strategi study, and assesment. ( Aisyah, 2007: 8-12).
The above mentioned components is each other related systematically in study plan. So in compiling study plan of mathematics shall cover principle, that is scientific, relevant, systematic, consistency, adequate, actual, kontekstual, and flexible. ( Aisyah, 2007:8-5). Because study plan of mathematics is operational activity designed by teacher in it contains phase scenario for the shake of phase about activity of mathematics that is later must be done teacher in class, for the purpose, study plan better be compiled by the teacher because she which will apply it.

4. Do we know what is Mathematical Method?
Katagiri, S.S. ( 2004) indicates that question must is created so that problem solving process elicits mathematical thinking and method. What depicted by Katagiri in thinking acurate mathematics if related to mathematics having the character of abstraction which will be made an understanding which konkrit, more for child of SD which the phase idea still at phase konkrit, of what depicted has covered how the step idea of mathematics starts from abstraction, depicts, analogy, presfective, solution and basis logical mind.
The step sequence would more facilitatingly for student to comprehend mathematics it is of course the process also must pay attention to level of student ability, because difference would level of understanding of schoolchild Dasar with higher level school. Thinks mathematical of very important itself to comprehend matter metematika in intact, which if we see this present condition, most student comprehends mathematics just for need of test only, so they will find difficulties in the application of mathematics if it is given on to different condition.
Pays attention to the condition, by Burner in the learning theory arising four teorema/dalil to relate to teaching of each mathematics as “ theorem and theorem”, fourth of theorem is : ( 1) Contruction Theorem; ( 2) Notation Theorem; Contrast and Variation Theorem; and ( 4) conectivity Theorem, fourth of the theorem not for be applied one by one, however combinable as according to characteristic or mathematics topic is being studied and characteristic from learning student.

5. Do we know what is Mathematical Attitude?
From various definition about learning, one of the purpose is realizing man is acting and kind hearted of exaltus ethic, the thing also implicit in purpose of national education, as in arranging in Sisdiknas, 2003. also as that expressed by Gagne, that learning is process enabling man to change tune in permanent, in such a way that the same change will not happened in the situation new. Till now we formulate elementary interest based on taxonomy Bloom with three domains, is : cognitive domain, affective domain, and psikomotor domain.
By Gagne divides result of learning to become five kapability categories as follows; ( 1) information verbal; ( 2) skill intlektual; ( 3) Cognitive strategy; ( 4) Position; and ( 5) skill motorik. Fifth result of this learning also included in result of mathematics learning, related “ Mathematica Attitude” this included in result of learning “ skill intlektual” which including at order forming learning, because in study of order mathematics is formed based on concepts which have been studied, and is statement verbal. So every will finalize permaslahan of mathematics shall follow the order.
Related to forming of position also cendrung response to in stimulus precise on the basis of penilain to the stimulus, response given by someone to one objects might possibly in the form of response which are positive and or negativity response, depends on is the important object or no.
EXPLANATION
Knowledge is a thing which have never released in our life, so that all facts which seems to be becoming source of knowledge for man who developed through ability to think it, from dual of the thing also is found various science types is including mathematics.Mathematics in general terms is knowledge compiled consistently based on deductive logic. Bertrand Russell and Whitehead in the masterpiece trying to proves that mathematics theorems basically is statement of logic.
Aware of important meaning in everyday life, hence mathematics is applied to to become a fundamental subject at education program, so that in process of his(its there is assorted of method in its(the study. In process of his own study shall, teacher must have ability to choose correct method so that mathematics matter can be submitted correctly to student as according to its(the development. Because mathematics which with reference to abstraction ideas given the symbols lapped over hierarchically and its(the common sense is deductive, clearly the mathematics learning is activity of high mental ( Herman, 1988:8).
More detailedly, in study also must be able to develop mathematical patterned thinking and mathematic attitude, because pembelajarn mathematics also leads to cognate ability expansion, afektiv, and psikomotorik. So, that study of mathematics can be felt its(the benefit is directly in everyday life, shall pay attention to condition and student ability, causing study process can run with efektiv and can be comprehended by all students.


Refrence

A.F. Chalmers, 1983. Apa itu yang dinamakan ilmu. Hastamitra. Jakarta
Jujun S. Suriasumantri.2003. Filsafat ilmu (sebuah Pengantar Populer). Pustaka Sinar Harapan. Jakarta
Soedjadi, R. (2000). Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia: Konstantasi keadaan masa kini menuju harapan masa depan. Jakarta: Dirjen Dikti
Rusfendi, E.T. (1980). Pengajaran matematika modern untuk orang tua murid guru dan SPG seri kelima. Tarsito.Bandung
Elaine B. Jhonson, Ph.D,. 2008. Contextual Teaching & Learning. Mizan Learning Center (MLC). Bandung
Doman, G. 1985. Ajaklah Balita Anda Belajar Matematika. Yayasan Essentia Medica Yogyakarta.
Nyimas Aisyah. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD. Dirjen Dikti. Jakarta
Shikgeo Katagiri (2004)., Mathematical Thinking and How to Teach It. in Progress report of the APEC project: “Colaborative Studies on Innovations for Teaching and Learning Mathematics in Diferent Cultures (II) – Lesson Study focusing on Mathematical Thinking -”, Tokyo: CRICED, University of Tsukuba. Gagne, Robert. 1983. The Condition Of Learning. Japan: Holt saunders
Bertrand Russell. 1965, On the philosophy of science. The Bebbs-Merril, New York.
Herman Hudojo. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Depdikbud Dirjen Dikti. Jakarta